Selasa, 08 September 2009

Tuhan Telah Menegurmu (Apip Mustopa)



Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kaudengar?

# Puisi karya Apip Mustopa (lahir tahun 1938) yang ditulis di Jakarta, Maret 1976

Senin, 17 Agustus 2009

Apakah Gunanya Pendidikan? (WS Rendra)



Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja,
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

(dari “Sajak Seonggok Jagung” – WS Rendra)

Rabu, 05 Agustus 2009

Nonton Pekan Budaya Rusia di Yogyakarta





____________Pada hari Sabtu malam, 1 Agustus 2009 gedung kesenian kebanggaan warga Yogyakarta -concert hall TBY- mendapat kehormatan menampilkan aneka ragam kebudayaan dari Rusia. Acara tersebut merupakan bagian dari Russian Cultural Days yang berlangsung selama sekian hari di Jakarta dan Yogyakarta. Beruntunglah kami di Jogja yang berkesempatan menyaksikan pertunjukan langka dari mereka yang negara asalnya jauh nian dari Indonesia. Sebelum pentas, diputarlah sebuah film dokumenter tentang hubungan Indonesia-Rusia, yang ternyata telah berlangsung sejak hampir 60 tahun lalu. Bung Karno dan Nikita Kruyschev (pemimpin besar Uni Sovyet saat itu) terlihat begitu hangat dan bersahabat. Yang menarik, ketika Bung Karno menjamu Nikita di Istana Negara ada sebuah pertunjukan tari Jawa, yang salah satu penarinya adalah Megawati Soekarnoputri!
Hubungan Indonesia-Rusia/Uni Sovyet koyak setelah peristiwa G 30 S dan belum lama ini hubungan kedua negara baru mulai harmonis kembali. Presiden SBY telah berkunjung ke Rusia dan telah dibalas oleh PM Vladimir Putin yang datang pula ke Indonesia. Dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia itulah, maka Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Federasi Rusia menggelar Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia.
Puluhan seniman Rusia menampilkan berbagai bentuk kebudayaannya, seperti tarian tradisional dan kontemporer, sulap, dan pertunjukan musik. Penonton yang memadati concert hall seolah terhipnotis dengan berbagai penampilan yang memukau. Bermula dari empat orang penyanyi dengan suaranya yang powerfull, seolah kita sedang mendengar sebuah kelompok paduan suara yang bernyanyi. Dilanjutkan sebuah tari tradisional yang melibatkan penari lelaki dan perempuan. Lalu penonton tersenyum ketika menyaksikan sebuah tarian tradisional Rusia yang dipadukan dengan sulap. Sang penari dapat berganti kostum dengan sangat cepat hanya dengan ditutupi oleh sehelai kain. Ada pula sebuah pertunjukan balet dari sepasang penari yang sungguh elok dipandang.
Tak kalah menariknya adalah pertunjukan musik oleh string kuartet Rusia. Ada sedikit insiden ketika tiba-tiba sebagian listrik di concert hall mati, tapi keempat pemusik tetap memainkan alat musiknya penuh konsentrasi. Semakin riuh rendah tepuk tangan penonton bagi mereka ketika listrik menyala lagi. Kelompok musisi etnik Rusia ini lantas tampil bersama seorang pemain akordion. Selanjutnya ada kolaborasi sang pemain akordion dengan empat musisi muda Jogja yang masing-masing memainkan gitar, bass, gamelan, dan kendang. Satu kerja sama yang seru pula jadinya! Kemudian ada pertunjukan akrobat dari seorang lelaki dibantu dua orang perempuan. Disusul kemudian akrobat dari seorang perempuan cantik yang lincah memainkan sejumlah hulahoop dan sebuah benda yang berbentuk unik. Para penari tradisional kembali tampil dengan gerakan yang demikian cepat, kompak, dan tanpa lelah. Sangat menakjubkan!
Senyuman selalu tersungging di wajah para penari yang semuanya ganteng dan cantik itu.
Penonton pun makin terpukau ketika pada akhir acara, para seniman Rusia tersebut menyanyikan sebuah lagu tradisional Rusia, tetapi dinyanyikan dengan bahasa Indonesia. Karena logat yang berbeda, alhasil lagu tersebut pun jadi terdengar lucu di telinga para penonton Indonesia. Yang pasti, semua penonton puas sekali sehabis menikmati pertunjukan seni budaya Rusia tersebut.

Sumber foto : Kompas Images

Catatan Juli : YGF 2009



Setahun begitu lekas berlalu. Tahun 2008 lalu untuk pertama kalinya kusaksikan acara Yogyakarta Gamelan Festival di TBY. Dan tahun ini, pada 16-18 Juli 2009 silam sudah terselenggara kembali YGF untuk ke-14 kalinya. Yang tak kuduga, ternyata tahun lalu untuk pertama sekaligus terakhir kalinya kulihat kiprah Sapto Raharjo dalam YGF. Sekian bulan berselang beliau telah kembali ke haribaan Ilahi. Maka YGF 2009 adalah gawean besar pertama tanpa kehadiran sang pelopor dan dipersembahkan khusus untuk mengenang Sapto Raharjo (Tribute to Sapto Raharjo), sementara temanya adalah ’Gamelan Everywhere’.
Mas Jijit selaku pembawa acara –juga direktur YGF 2009- meminta para penonton yang memadati concert hall mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum Mbah Sapto, menjelang kelompok pertama tampil. Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa menjadi pembuka pementasan hari pertama. Sebenarnya kelompok tersebut adalah komunitas tari dan semua yang tampil adalah para penari. Tapi mereka tak hanya menari, mereka juga memainkan gamelan, melantunkan tembang-tembang, dan sedikit berdrama pula. Penonton tampak terhibur dengan penampilan mereka dan ada dua orang yang kukenal di antara anggota kelompok tersebut. Kutiplak Ndang Tak menjadi artis kedua yang tampil. Keempat pemainnya tampil minimalis, baik secara kostum maupun alat musik yang dimainkannya. Awalnya mereka serius banget, apalagi kostumnya macam pertapa jaman baheula. Tapi sudah kuduga bahwa mereka bakal tampil kocak, seperti yang kubilang pada sepupuku yang nonton bersamaku. Akhirnya penonton tertawa melihat kepiawaian mereka mengeksplorasi tubuh dan suara. KPH 9 pimpinan Alex Dea menampilkan komposisi panjang, yang seperti ujian kesabaran bagi para penonton yang berusia muda, termasuk kami berdua. Agus Bing & Prabumi Ethnic Jazz Band kembali membangkitkan gairah penonton dengan nomor-nomor jazz. Nuansa etnik diwakili oleh suara kendang dan gender bonang, sementara ada pemain piano, bass, saxophone, dan drum di sisi lain. Penampilan selanjutnya dari Stupa, band campur gamelan lagi persembahan para mahasiswa UNY. Menarik juga. Ada jam session di akhir pertunjukan hari pertama. Mas Jijit menggantikan posisi Mbah Sapto sebagai komandan.
Hari kedua dibuka oleh Gita Rarya yang membawakan tembang dolanan anak dan dimainkan oleh mayoritas anak-anak dan remaja. Apa yang ditampilkan cukup mengundang senyuman para penonton. Kito Siopo menjadi artis berikutnya. Grup gamelan multinasional itu tampil lagi setelah tahun lalu, hanya personelnya sudah berubah. Alex Grillo & Friends tampil luar biasa dengan lagu-lagunya yang rancak. alex Grillo memainkan vibraphone dengan sangat lincah dan harmonis sekali dengan suara gamelan. Para pemainnya mayoritas adalah para kru yang biasanya mempersiapkan piranti musik. Mereka ternyata para pemusik sejati pula. Hebatnya, hampir setiap berganti lagu, para pemainnya berganti alat musik juga. Salut! Kelompok Singgayan dari Tolitoli Sulawesi Tengah menampilkan kesenian tradisionalnya yang ternyata menarik pula disimak. Sebagian besar pemainnya masih muda dan terlihat enerjik. Salah satu musisi seniornya juga tampil bersemangat mendampingi putra-putrinya.
Hari ketiga dibuka oleh permainan mengasyikkan Youngsters Gamelan 16 yang juga bertindak sebagai panitia YGF. Rene Lysloff dan dua kawannya membawakan gamelan eksperimental menggunakan komputer yang rada susah dinikmati, tapi tetap menarik. Kabud Hitam Percussions dari Pamekasan Madura sangat layak menjadi artis pamungkas. Dengan sebagian besar pemainnya memainkan alat perkusi, lagu demi lagu yang dibawakan selalu meningkatan semangat penonton. Lama-lama penonton tidak tahan juga, hingga akhirnya banyak yang maju ke depan panggung bergoyang mengikuti irama. Panitia yang masih muda-muda itulah yang menjadi pengompor penonton supaya lebih terlibat dalam acara dan tidak sekadar duduk manis. Selamat kepada Mas Jijit, Mas Joko, Mbak Amik, dan kawan-kawannya yang telah berhasil menyelenggarakan YGF edisi ke-14, kendati Mbah Sapto telah tiada. Dirgahayu untuk Yogyakarta Gamelan Festival !

Rabu, 10 Juni 2009

Bedah Buku, Pemanggungan Sastra, dan Pembukaan Pasar Kangen Jogja

Pada pekan pertama bulan Juni 2009 telah kusimak sejumlah aktivitas kesenian di Yogyakarta. Acara bedah buku ’Tiga Penulis Muda dari Tiga Kota Bertemu di Yogyakarta’ di Yayasan Umar Kayam berlangsung pada Selasa (2/6) menampilkan M.Aan Mansyur, Esha Tegar Putra, dan Waode Wulan Ratna. Salut kusampaikan kepada para penulis muda yang telah eksis dalam dunia sastra Indonesia. Senang juga melihat semangat orang-orang yang hadir di tempat itu, yang relatif sudah sedikit di luar kota Jogja. Kuharap apa yang dibicarakan malam itu bisa memberikan dampak positif dalam proses kreatifku selanjutnya, meski tak kuingat benar detailnya.
Acara berikutnya adalah pemanggungan sastra ’Baca Kolom Umar Kayam’ garapan Komunitas Sarkem (Sanggar Kreativitas Mahasiswa) Yogyakarta di LIP pada Kamis (4/6). ’Kolom Umar Kayam’ yang dahulu rutin dimuat di koran Kedaulatan Rakyat setiap Selasa menjadi kenangan tersendiri bagiku. Selain aku, almarhumah ibuku dan dua orang kakakku juga menjadi pembaca setianya dahulu. Banyak yang bisa direnungkan dari apa yang disampaikan oleh Pak Ageng, Mister Rigen, Pak Joyo, dan tokoh-tokoh lainnya dalam ’Kolom Umar Kayam’. Satu hal yang kuingat, istilah ’maknyus’ ternyata dikutip pak Bondan Winarno dari hasil karya pak Kayam itu. Menjadi pengalaman yang menarik bagiku melihat karya sastra tersebut dipanggungkan dalam bentuk text reading, wayang kulit, story telling, dan pantomim. Musikalisasi puisi yang dibawakan KM AS Sarkem pun asyik disimak, apalagi satu-satunya personel perempuan yang jadi penyanyinya sungguh ayu.
Hari Sabtu petang (6/6) kuhadiri pembukaan ’Pasar Kangen Jogja 2009’ di kompleks TBY yang dilakukan oleh Didik Nini Thowok. Acara itu berlangsung pada 6-11 Juni 2009. Cukup menyenangkan. Ada sejumlah teman yang bisa kuajak bicara di sela-sela beberapa pertunjukan seni tradisi, di antara para penjual makanan dan mainan tradisional yang beraneka ragam pula. Syukurlah bahwa cuaca cerah selama acara berlangsung, padahal sebelumnya mendung sempat lama menggantung di langit Jogja.

Selasa, 05 Mei 2009

Pertunjukan Puisi di Studio Teater Garasi

Ini sebuah catatan yang cukup terlambat dituliskan sejatinya. Jumat malam (17/4) aku dan Elang sepupuku datang ke Studio Teater Garasi untuk menyaksikan pertunjukan puisi karya Gunawan Maryanto alias Cindhil yang baru merilis buku kumpulan sajak Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya. Sudah banyak sepeda motor di halaman yang tak jauh dari lokasi pentas. Sudah sarat pula penonton yang duduk, maka kami berdua memlilih berdiri saja. Umbrella Project tampil dengan gerak dan lagunya yang menghibur dari tiga orang cewek manis. Kelompok pantomim Bengkel Mime Theater memukau pula.
Spontanitas membaca puisi yang dilakukan oleh penonton dipelopori oleh Elang yang hadir bersamaku. Dia pun dihadiahi buku kumpulan sajak Cindhil plus tanda tangan penulisnya. Kelompok tari Sahita yang terdiri dari 4 orang ibu-ibu layak menjadi puncak pertunjukan malam itu. Tak kentara yang mana yang berdasarkan naskah atau guyon maton mereka belaka, yang jelas aksi mereka asyik banget dilihat dan sangat dinikmati oleh penonton.

Selasa, 14 April 2009

Penuntas Pentas dan Malam Sastra

Berbilang bulan sudah tiada catatan apa pun di wahana apresiasi seni budaya ini. Adanya ‘mainan baru’ bernama facebook yang kuakrabi sejak akhir Januari 2009 membuat perkembangan ruangan ini terhenti sementara tempo. Namun di sisi lain, memang aktivitas kesenianku tidak sekencang sekian bulan di tahun 2008 silam. Bahkan untuk sekadar menonton pertunjukan atau pameran seni pun intensitasnya berkurang. Sejak Januari hingga April 2009 hanya pernah kuhadiri launching band indie Nervous di LIP (30/1), diskusi karya musisi Tom Waits bersama Tomi Simatupang dkk di Studio Teater Garasi (9/2), dan malam sastra dalam rangka 50 tahun sebuah komunitas seni kondang Jogja di TBY (1/4).
Bersama anak-anak AFC, kami sempat tampil sebagai selingan sebuah lomba di Saphir Square (25/1) dan pentas di panggung gembira Sekaten di alun-alun utara (6/3).

Untuk kedua kalinya sejak aku bergabung di AFC, anak-anak tari, teater, dan vokal kembali unjuk kemampuan di atas panggung gembira Sekaten pada Jumat, 6 Maret 2009 lalu. Berangkat dari TBY ditemani gerimis, mereka diperkirakan mulai tampil menjelang azan Maghrib. Karena kelompok seni lainnya melakukan perubahan rencana, jadwal tampil AFC jadi tertunda. Dan kami dari kelas vokal ternyata diberi jatah terakhir sebagai penuntas pentas dari AFC. Baru setelah azan Isya’ kami baru bisa naik panggung. Sebagai tanda mataku buat anak-anak yang tetap ceria dan bersemangat, kendati mesti lama menunggu dan pulang kehujanan, telah kutulis sebuah puisi.

Penuntas Pentas

jingga senja enyah sudah
gelap mengendap selubungi bumi
nyaris gerimis rontokkan dahan
sabar menyebar, lumpuh luruh

tiba masa penuntas pentas
berkibar kobar asa menyala
kumandang tembang dengar terhampar
rona bahagia abaikan hujan

Rabu malam, 1 April 2009, aku dan Elang sepupuku menghadiri ’Malam Sastra 50 Tahun Sanggar Bambu’ di serambi ruang pameran TBY. Elang antusias ingin datang karena kedua orang tuanya pernah aktif di komunitas itu, semasa mereka masih muda dan tinggal di Jogja. Ada pembacaan cerpen dan pembacaan/musikalisasi puisi materi acaranya. Kami datang sudah rada telat. Yang menarik adalah storytellling oleh Dinar Saja, yang sekian bulan silam pernah kulihat di Bincang-Bincang Sastra. Dia membawakan cerpen ’Tuhan Dijual Murah’ karya Danarto secara monolog tanpa teks. Salut buat bung Dinar! Yang juga apik, pembacaan cerpen ’Godlob’ karya Danarto lainnya oleh Landung Simatupang, yang diiringi musik oleh Tomi putranya dan seorang rekannya. Seusai pertunjukan, kami ngobrol sejenak dengan Tomi dan melihat pameran senirupa –dalam rangka 50 tahun Sanggar Bambu pula- di ruang pameran. Sehabis itu kami pulang, karena lampu ruangan sudah mulai dimatikan.