Rabu, 23 Juli 2008

Anak-anak Pentas Berbahasa Jawa

Jumat malam lalu, 18 Juli 2008, pendapa Tamansiswa Yogyakarta kembali menjadi ajang sebuah pentas seni. Yang tampil malam itu adalah Sanggar Anak Rengganis dan Taman Kesenian Tamansiswa Yogyakarta. Dari beragam nomor pertunjukan yang dipentaskan, mayoritas berbahasa Jawa. Ada deklamasi geguritan dan drama pendek dalam bahasa Jawa, juga ada deklamasi puisi yang dibawakan secara teatrikal dan sebuah tari tradisional Sumatera. Mereka yang tampil adalah anak-anak kecil usia SD dan beberapa remaja SMP-SMA. Menjadi sangat menarik karena mereka berbahasa Jawa di atas pentas, dengan gamelan sebagai musik pengiringnya. Padahal anak-anak sekarang, di Jogja sekalipun, tidak selalu berbahasa Jawa dalam berkomunikasi, kendati hanya bicara dalam keluarganya atau bersama teman-temannya pun. Yang juga istimewa, anak-anak itu berakting secara natural, tampil percaya diri, dan sangat hafal pada naskahnya. Padahal anak-anak yang sama tampil minimal dalam dua kali kesempatan. Salutlah bagi anak-anak dan para remaja itu, juga selamat untuk para pengajar dan orang tua mereka yang pasti sangat bangga. Tema-tema yang diangkat malam itu, antara lain tentang baik-buruknya televisi, tentang pentingnya menjaga kebersihan, dan tentang hitam-putihnya negeri kita ini. Kendati situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung membuat kita selalu berpikir negatif dan pesimis, tapi mestinya kita tetap selalu berpikir positif dan optimis, bahwa masih ada masa depan yang lebih apik nantinya. Mungkin begitulah salah satu intisari pentas malam itu.

Beberapa hari sebelumnya, dalam Festival Teater Anak yang berlangsung di kampung Pakel Mulyo, sebuah kelompok seni anak-anak dari pinggir kota Yogyakarta (termasuk Bantul/Sleman) menampilkan ketoprak singkat yang kocak dan menghibur, tentunya dalam bahasa Jawa pula. Lalu hari Minggu lalu, 20 Juli 2008, berlangsung sebuah pentas tari di TBY yang menampilkan sanggar-sanggar tari se-Yogyakarta, mayoritas pendukungnya adalah para pemuda pemudi yang tampil atraktif dan sangat dinamis. Barangkali kami di Yogyakarta bolehlah berlega hati bahwa masih banyak tunas harapan yang akan terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisi daerah kami. Semoga demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Karena sejatinya begitu banyak pelajaran berharga dan kearifan lokal yang terkandung dalam beragam jenis seni budaya tradisi kita.


Kamis, 17 Juli 2008

YGF 2008 : Warga Dunia Bersatu Lewat Gamelan

Pada 10-12 Juli 2008 lalu telah berlangsung Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), sebuah pergelaran seni gamelan bertaraf internasional yang berlangsung untuk ke-13 kalinya di Yogyakarta. Sebagai warga Jogja, tentu aku sudah sering mendengar keberadaan ajang tersebut di tahun-tahun sebelumnya. Tapi entahlah, sepertinya dulu aku kurang tertarik untuk menyimaknya. Bahkan untuk melihat salah satu pentasnya pun seingatku belum pernah. Tapi tahun ini ternyata ada hasrat yang berbeda. Aku malah akhirnya bisa menyaksikan YGF 2008 dalam dua kali pertunjukan yang berlangsung di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat (11/7) dan Sabtu (12/7) lalu. Semula memang tak menjadi rencanaku. Kebetulan Jumat sore itu, setelah rampung bertugas ada rapat kecil yang kuikuti di TBY. Pak Agus menginformasikan padaku bahwa malam itu di concert hall ada acara YGF. Aku kok terus jadi penasaran ya? Maka aku beranjak menuju tempat acara itu diselenggarakan dan sudah begitu banyak calon penonton yang hadir. Yang menarik, sebelum masuk ke gedung pertunjukan, kita bisa melihat dokumentasi YGF dalam bentuk pameran foto dan rekaman audio pentas-pentasnya dahulu. Wah, aku jadi semakin tertarik untuk mengikuti acara itu !

Pertunjukan hari Jumat diawali grup D'lima dari Taman Budaya Jawa Timur yang terdiri dari beberapa lelaki berjubah merah. Nomor-nomor yang dibawakan berirama dinamis, jadi penonton semangat mengikutinya. Ada seorang perempuan dan dua laki-laki (bajunya seperti orang mau ronda) masuk di tengah salah satu lagu dan menambah meriah pertunjukan. Selanjutnya Alex Dea dari Amerika Serikat bersama KPH 8 membawakan komposisi yang panjang dan susah untuk dinikmati. Salah satunya diciptakan untuk mengenang guru gamelan Pak Alex yang telah wafat. Memang nada kesedihannya terasa sekali dalam komposisi yang dimainkan malam itu. Ada beberapa orang kulit putih di antara orang-orang Indonesia yang tergabung dalam kelompok KPH 8. Yang juga menarik, selalu ada diskusi antara Sapto Raharjo, direktur YGF 2008 sekaligus pembawa acara, dengan wakil dari setiap kelompok yang tampil. Penampilan terakhir adalah grup Gamma Rays dari Singapura, yang selain terdiri dari pemain gamelan, juga membawa pemain drum, bass, dan kibord. Hebatnya, grup ini didominasi anak-anak muda yang multiras. Ada orang India yang memainkan suling dengan beberapa wajah oriental yang tatanan rambutnya funky dan anak muda banget, selain ada orang Melayunya pula. Semua nomor yang dibawakan secara instrumentalia memadukan suara gamelan dan band mewujudkan harmoni yang asyik disimak, termasuk dua gending klasik Jawa : Suwe Ora Jamu dan Gambang Suling. Setelah ngobrol sebentar dengan ibu pimpinan grup dari Singapura, para pengisi acara lalu melakukan jam session dengan komandannya Pak Sapto yang memainkan kendang. Entah mereka latihan dulu atau tidak, yang jelas lagu pamungkas yang dimainkan keroyokan itu terdengar enak juga dan akhirnya mengundang tepuk tangan panjang dari penonton.

Di pementasan hari berikutnya dibuka oleh gamelan plesetan, yang ternyata merupakan komposisi kontemporer dan eksperimental hasil kerja sama dosen-dosen dari California bersama salah satu muridnya dari Korea dan Sapto Raharjo. Lalu ada Vincent McDermot dari Amerika yang kelompoknya juga hasil kerja sama orang asing dan Indonesia. Bahkan Singgih Sanjaya, dirigen top Indonesia yang sering membuatkan aransemen lagu untuk Twilite Orchestra ikut tampil sebagai dirigen dan memainkan saxophone. Ada banyak pendukungnya, termasuk paduan suara dan beberapa penari yang memainkan bagian dari opera Matahari. Ada banyak kejutan saat para penari tampil, mulai dari sang Matahari yang menari bersama sang Ratu Kidul, lalu dia melepas kostum penari Jawanya dan menari erotis dengan busana minimalis. Yang paling membuat penonton riuh rendah ketika beberapa penari laki-laki serta merta melepas kain yang dipakainya, hingga sekilas mereka seperti telanjang bulat ! Wah, salut banget untuk kerja keras Mister Vincent dan rombongannya. Selanjutnya kelompok Kito Siopo yang terdiri dari orang Inggris, Jepang, dan Australia(kalau tidak salah). Komposisi yang dibawakan relatif njelimet juga. Tapi pas Sapto Raharjo ngobrol dengan mereka, malah jadi seperti nonton dagelan Mataram. Lucu banget soalnya, hehe… Kelompok LOS dari Surakarta menjadi penampil terakhir dengan nomor Majemuk. Untuk memperlihatkan kemajemukan, para personel grup yang mayoritas anak muda itu berkostum macam-macam, dari seragam SMA, pramuka, pegawai negeri, hansip, sampai baju cah dolan dan orang mau tidur. Menurut pimpinannya, dalam komposisinya itu ada sentuhan gamelan gaya Bali, Sunda, dan lain-lain yang menjadi harmoni yang menarik disimak. Bahkan bagi penonton ada kesan irama pengiring barongsainya, ketika dua pemain memainkan gong yang diletakkan di lantai. Akhirnya ada jam session lagi yang tak kalah asyiknya ketimbang malam sebelumnya.

Sejumlah pelajaran berharga kubawa pulang sehabis melihat dua kali pementasan YGF 2008. Gamelan ternyata bisa menjadi ajang bertemunya orang-orang dari beragam penjuru dunia. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa musik adalah bahasa dunia. Berbanggalah kita bahwa musik tradisional Indonesia ternyata bisa menyatukan warga dunia. Memang hanya segelintir orang, tapi tetap saja istimewa. Sementara banyak orang Indonesia di mana-mana sering ribut dan saling bertikai, di Yogyakarta ada orang Amerika, Inggris, Jepang, Korea, Australia, Singapura, bersama orang Indonesia yang semuanya pasti cinta damai, justru bekerja sama dan bersinergi mampu mewujudkan harmoni yang dapat dinikmati banyak orang. Dan melalui seni gamelan mereka mampu bersatu dalam berbagai keragaman dan perbedaan masing-masing.

Ada beberapa sastrawan terlihat di antara penonton, seperti Mustofa W.Hasyim dan Herlinatiens. Yang mungkin juga unik, mayoritas penonton adalah anak-anak muda. Semoga mereka tak puas hanya sebagai penonton yang apresiatif, tapi akan lebih banyak berpartisipasi memainkan dan mengembangkan gamelan pula di masa depan.


Sabtu, 12 Juli 2008

Risalah Apresiasi Paruh Pertama 2008

Pertunjukan seni yang kuhadiri

Sepanjang Januari hingga Juli 2008 sudah relatif beragam jenis pertunjukan seni yang kusaksikan di Yogyakarta, kotaku tercinta. Ada pentas Teater Garasi dengan aktor-aktor muda binaannya dalam lakon ‘Tuk’ (Januari) dan pentas Teater Tetas dari Jakarta dengan ‘Republik Anthurium’ (April). Kemudian ada pertunjukan musik ‘Vertigong Atawa Jazz Jawa’ persembahan Kuaetnika Yogyakarta (Mei). Sebenarnya aku sempat berencana nonton Tompi dkk dan sebuah grup jazz dari Belanda yang sempat main di Jogja, tapi batal saat itu. Terakhir kulihat akrobat tari kontemporer dari seniman Eropa bertajuk ‘Contigo’. Dua kali kuikuti Bincang-Bincang Sastra dan ada yang menarik juga dari acara pembacaan cerpen isti Wuryani (April). Semua acara tersebut berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), termasuk beberapa pameran seni rupa yang sempat kutengok. Selain itu ada beberapa pentas diadakan di Tamansiswa, seperti ‘Balada Pendidikan Nasional’ dan pembukaan sebuah sarasehan nasional (Mei) yang melibatkan kakakku Mbak Risa beserta tiga keponakanku (Iyaz, Puti, Rizky) sebagai pengisi acara. Aku sendiri hanya sempat mengiringi paduan suara anak-anak AFC (Art for Children) TBY di panggung gembira Sekaten (Maret). Tapi dalam beberapa bulan ke depan, bisa jadi aku bakal menjadi bagian dari pertunjukan seni yang lain. Yang jelas aku siap untuk turut berpartisipasi.

Buku-buku yang kubaca

Aku merasa beruntung akhirnya bisa membaca Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, dua buku best seller dari tetralogi karya Andrea Hirata. Terima kasih buat sepupuku Elang yang telah meminjamkannya padaku. Semoga akan segera kubaca pula Edensor dan Maryamah Karpov (yang baru dirilis saat film Laskar Pelangi karya Riri Riza-Mira Lesmana diputar di bioskop). Banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga bisa dipetik dari karya Andrea Hirata tersebut. Semoga Bang Ikal panjang umur dan terus berbagi kebaikan lewat karya-karya selanjutnya.

Aku juga berterima kasih pada Herlinatiens yang berbaik hati meminjamkan buku-bukunya. Kini aku jadi pernah membaca Sang Alkemis, Iblis dan Miss Prym (Paulo Coelho), Vita Brevis (Jostein Gaarder), dan Celana Pacarkeciku di Bawah Kibaran Sarung (Joko Pinurbo). Buku yang kubeli hanya Mutiara Penggugah Hati, Kurma : Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas, dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Anugerah Sastra Pena Kencana). Insya Allah, semua buku yang kubaca pasti bermanfaat untuk hari-hariku ke depan, termasuk dalam aku berkarya. Amin.

Selasa, 24 Juni 2008

Melihat Akrobat dari Eropa di FKY 2008


Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008 (FKY) telah berlangsung sejak 7 Juni 2008, tapi aku sekali saja belum menikmatinya. Padahal sudah banyak pertunjukan digelar, selain ada pasar raya yang berlangsung di Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sudah ada pentas beragam jenis musik maupun tari dan ada pemutaran sejumlah film dalam program Mari Menonton di Bioskop Pasar Raya FKY. Baru Jumat (20/6) pekan lalu kusempatkan melihat sebuah pertunjukan yang kurasa menarik untuk disimak. Berlokasi di amphiteater atau teater terbuka TBY, malam itu digelar sebuah pertunjukan akrobat tari kontemporer dari seniman Eropa, artis Portugal bernama João Paulo Pereira dos Santos (dan Rui Horta sebagai koreografer) dari Compagnie O Ultimo Momento.

Aku tertarik setelah membaca acara pentas hari itu ada pertunjukan tari dengan tiang dan sorenya kebetulan kulihat langsung persiapannya. Ada sebuah tiang putih tinggi menjulang dipasang di tengah panggung, sementara lantainya dipasangi terpal hitam putih. Kemudian ada suara musik kontemporer yang didominasi biola disetel keras-keras. Menjelang aku pulang sore itu, ada seorang lelaki bule -yang posturnya tak terlalu tinggi tapi atletis- memasang sebuah kamera di bagian teratas tempat duduk penonton. Dia kemudian kulihat berdiskusi dengan orang-orang Indonesia yang bertugas sebagai panitia. Begitu kulihat pertunjukan berlangsung, ternyata dialah sang artis yang tampil solo dengan akrobatnya. Jika sebelumnya aku tahu, bisa saja kutanyakan hal-hal yang akhirnya bisa memperkaya tulisan ini. Ketika aku datang malam menjelang pentas dimulai, penonton sudah terlihat begitu sarat di amphiteater TBY. Selain tempat duduknya sudah sesak, di antara tiang-tiang besi di kanan kiri panggung dan tempat duduk, sudah banyak pula orang di situ, yang tentu dengan antusias hendak menyaksikan pertunjukan.

Menjelang jam 8 malam pertunjukan berjudul ‘Contigo’ itu dimulai. João Paulo tampil dengan kostum serba hitam membalut tubuh atletisnya. Dengan tiang, kursi, bola kecil, dan tongkat, dia lantas membuat gerakan-gerakan akrobatis yang berbahaya, sekaligus indah dan asyik dilihat. Aksi-aksi João Paulo kerap membuat penonton menahan nafas, lalu bertepuk tangan dengan decak kekaguman. Aku sendiri kagum dengan keberaniannya, kelenturan, dan daya tahan tubuhnya yang luar biasa. Sama sekali tak terlihat kelelahannya sepanjang 45 menit pertunjukan. Ternyata sang artis bukan orang baru dalam dunia akrobatik internasional. Dia pernah menempuh pendidikan di sekolah sirkus Portugal dan Prancis. Di antara penonton malam itu cukup banyak terlihat orang-orang kulit putih di antara mayoritas warga negara Indonesia yang sedang berada di Yogyakarta. Setelah itu aku melihat ‘Jogja Art Fair #1’ yang memajang karya-karya seni rupa yang unik di ruang pameran TBY dan sejenak melintasi pasar raya di seputar Vredeburg.

Informasi lebih lanjut tentang FKY 2008 dapat disimak di www.festivalkesenianyogyakarta.com

Sumber Foto : http://joaquim.emf.org/vj.works_dance.htm

Senin, 09 Juni 2008

Reuni Akbar Taman Siswa di Yogyakarta - Juli 2008

Bapak-bapak/Ibu-ibu/Teman-teman Alumni Taman Siswa, pada tanggal 4 dan 5 Juli 2008 yang akan datang, akan diadakan REUNI AKBAR TAMAN SISWA Seluruh Indonesia di Pendapa Agung Taman Siswa Yogyakarta. Mohon aktif berpartisipasi demi suksesnya reuni tersebut. Gandeng para sahabat lama Anda. Ngumpulke balung pisah. Mohon berita ini disebarluaskan.

(Panitia : Ki Priyo Dwiarso – Majelis Luhur Taman Siswa)

Kamis, 29 Mei 2008

Bersua Teman Lama

(Cerpen 100 kata dalam 2 episode yang terinspirasi dari pengalaman seorang teman).

(1)

Handy penggemar durian dan ingin sekali memakannya malam itu. Sudah larut, dia tetap keluar mencarinya. Di tempat biasanya ada penjual durian, kebetulan ada yang bisa ditanyainya.

“Maaf, Mbak. Tahu nggak, jam segini masih ada yang jual durian sebelah mana?”

“Walah Mas, jam segini ya udah pada tutup to? Tadi di sebelah situ ya ada yang jual,” sahut orang itu kemayu. Ternyata dia seorang waria yang sedang menjajakan dirinya.

“Eh, sebentar. Sepertinya aku kok kenal kamu? Kamu Surono to?”

“Walah, aku udah kayak gini, kok kamu masih kenal aku, Han?”

Handy ternyata malah bersua teman lamanya yang telah menjelma menjadi Rina.

22 Mei 2008

(2)

Sejak masih berteman di SD dulu, Handy sudah melihat Surono memang rada mirip anak perempuan. Tapi tetap saja mengejutkan menemuinya sebagai waria.

“Han, Randu apa kabar? Masih ganteng kan?” tanya Surono alias Rina.

“Walah Ron, dari bocah kamu udah suka sama Randu? Dia udah punya dua anak sekarang. Ya, masih gantenglah.”

“Kalo aku ke rumahnya gimana ya? Aku kangen ketemu dia.”

“Heh, kamu mau ke rumah Randu dengan dandanan kayak gini?”

“Ya, nggaklah. Aku bakal pake baju cowok ke tempat Randu.”

“Btw, ada nggak teman SD kita yang pernah pake kamu?”

“Haha, ada tuh.”

“Oh ya? Siapa?”

“Rahasia aja deh…”

28 Mei 2008

Kamis, 22 Mei 2008

Acara 25 Mei 2008 : BBS di TBY dan Nonton Film Ki Hadjar di Tamansiswa Yogyakarta

Ada dua acara menarik pada hari Minggu malam, 25 Mei 2008, di Yogyakarta.

Setiap Minggu malam pekan ke-4 setiap bulannya, di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) diadakan acara Bincang-bincang Sastra (BBS). Untuk bulan ini, BBS edisi ke-31 akan berlangsung pada tanggal 25 Mei 2008, mulai pukul 19.30, menghadirkan dua penyair dari Semarang, Beno Siang Pamungkas dan Timur Sinar Suprabana. Mereka akan menampilkan karya-karya mereka dalam acara peluncuran antologi dan diskusi bedah buku oleh Hamdy Salad, sastrawan yang juga seorang dosen. Acara ini diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra (SPS), TBY, didukung oleh KR, FKIP UST Yogyakarta, serta penerbit Navila dan Ombak. Hari Leo AER (ketua SPS) mengundang penyair, cerpenis, novelis, kritikus sastra Yogyakarta (dan sekitarnya) untuk tampil, hadir, dan menghidupkan forum bulanan ini.

Aku baru beberapa kali ikut menghadiri acara BBS, antara lain saat Maret dan April silam menghadirkan penulis perempuan Herlinatiens dan isti Wuryani. Sebelumnya aku pernah datang saat ada dramatic reading oleh Kak Wess Ibnoe Say dan peluncuran antologi puisi humor Mustofa W.Hasyim tahun lalu. Selalu ada pelajaran baru yang kubawa pulang setelah mengikuti acara seperti itu. Jadi, silakan para penggemar sastra datang ke acara BBS selanjutnya jika ingin berpartisipasi dan berapresiasi.

Satu acara lagi adalah Nonton Bareng Film Ki Hadjar di lingkungan pendapa Tamansiswa, Yogyakarta. Acara yang rencananya dimulai pukul 19.00 ini diselenggarakan oleh Komunitas Pinggir Pendapa, sebuah komunitas yang dimunculkan untuk merintis penggalangan alumni dan juga pencinta Tamansiswa, yang dalam kegiatannya mengarah ke berbagai kegiatan pelestarian nilai-nilai luhur dan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Acara ini gratis dan terbuka untuk alumni, orang tua/wali, dan semua orang yang ingin memahami ajaran-ajaran Bapak Pendidikan Nasional kita. Sedikit informasi saja, pendapa Tamansiswa di masa silam ternyata pernah juga menjadi tempat proses berkreatif beberapa seniman kondang negeri ini, seperti : Emha Ainun Nadjib, Ebiet G.Ade, dan Djaduk Ferianto. Semoga Minggu malam nanti tidak hujan, karena Selasa malam (21/5) hujan mulai turun lagi di Jogja. Terima kasih atas perhatiannya.