Memetik hikmah dari peristiwa apa saja mungkin memang tak
bisa secara serta merta. Kadang perlu sejenak waktu untuk merenungkannya hingga
ketemu hikmah sejatinya.
Multitalenta itu bagus.
Spesialisasi malah memperkerdil pengetahuan kita. Leonardo Da Vinci; selain
pelukis, dia komponis (menulis opera, tragedi, komedi), ahli hidrologi, dan
ahli kedokteran. Sutardji itu penyair yang bisa menyanyi. Sapardi itu penyair
yang bisa bermain musik.
[Remy Sylado – penulis ratusan buku (novel, drama,
puisi, kamus, ensiklopedia), sutradara/pemain teater, aktor film/sinetron,
pemain musik, menguasai sejumlah bahasa asing dan bahasa daerah]
Menulislah dengan jernih dan
Anda akan berpikir jernih. Ketika
Anda menulis dengan jernih, Anda menjernihkan pemikiran Anda. Ketika Anda
menulis, Anda belajar bertanggung jawab terhadap pernyataan-pernyataan Anda.
Menulislah, itu tindakan yang
membuat Anda sehat, bernasib baik, dan selalu memiliki kejernihan pikiran.
Pada hakikatnya, seni tidak tumbuh sebagai aktivitas manusia di dalam
mengelola naluri kompetisi. Namun seni lahir dari kedalaman hati sebagai bentuk
ekspresi ’ritual’ dari penghargaan manusia terhadap semesta. Oleh karena itu,
ia memerlukan metode yang spesifik apabila diperlakukan sebagai medium untuk
sebuah kompetisi.
Masyarakat yang berjarak
terhadap sastranya terjadi karena sastra dihadirkan sekolah kita sebagai
sesuatu yang harus dihafalkan. Padahal sastra pertama-tama adalah pelajaran
mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis. Bukan membaca buku sastra.
Jadi kalau hari ini orang
tidak membaca buku sastra, itu bukan karena di sekolah mereka tidak disuruh
membaca buku sastra. Namun mereka tidak dididik untuk mengekspresikan dirinya
dalam lisan maupun tertulis. Sastra sebagai kegiatan organik tidak ada dalam
pendidikan kita.
Jadi masing-masing sastrawan berusaha dengan cara
masing-masing untuk menemukan pembacanya.
Ada yang beruntung dan tidak
beruntung. Mereka yang beruntung adalah mereka yang bisa menggunakan daya
komunikasi, baik dalam karya ataupun di luar karya mereka. (Nirwan Dewanto)
Pelajaran sastra memiliki
peranan penting dalam mengembangkan kecerdasan dan karakter siswa. Pelajaran
sastra tidak dimaksudkan untuk menjadikan siswa sebagai sastrawan. Jadi
sastrawan boleh, tapi kalaupun tidak, siswa minimal mampu merumuskan atau
menyelaraskan pikiran untuk diucapkan atau dituangkan dalam tulisan. Pendidikan
di Indonesia mestinya memasukkan sastra sebagai ilmu pengetahuan.