Kamis, 09 Oktober 2008

Memetik Hikmah dari Ki Slamet Gundono

Sepanjang Ramadhan lalu hanya ada sebuah pertunjukan seni yang kuhadiri. Jumat malam (26/9) aku di-sms Yoke sahabatku bahwa ada Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) saat itu. Langsung aku beranjak menuju daerah Kotabaru dan mengikuti acara bertajuk "Gusti Kang Maha Dalang, Musik Mistikal, dan Guyonan Pesantren" dengan artis Ki Slamet Gundono, dalang nyentrik asal Tegal bersama kelompok musiknya. Tampil pula Mbah Prapto, seorang penari yang sudah sepuh, tapi masih sigap gerakannya, dan Mas Miroto, seorang penari profesional dan aktor utama film “Opera Jawa” yang menjadi bagian dari pertunjukan. Selain membawakan beberapa lagu yang kadang disertai tarian, ada banyak hal yang disampaikan oleh ki dalang.

Ada sejumlah hikmah yang dapat kupetik dan sedikit yang kucatat di sini : Keindahan di dunia tidak terletak pada harta, benda, dan rupa. Keindahan dapat dirasakan pada kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya, juga dapat dilihat pada kasih sayang serta keikhlasan ibu pada anaknya. Hanya orang yang tak pernah menyakiti orang lain yang boleh mengharapkan lailatul qadar. Memang tidak mudah untuk tidak pernah menyakiti, karena diam saja pun kadang bisa menyakiti orang lain. Idul Fitri adalah momentum luar biasa untuk dapat saling memaafkan. Entah siapa dulu yang menciptakan tradisi yang hebat tersebut, salut dan terima kasih untuknya.

Ada salah satu cerita lucu dari pesantren yang disampaikan ki dalang, yang ternyata ada hikmahnya pula. Saat itu Slamet Gundono dan teman-temannya di pesantren akan melakukan pertandingan sepakbola. Terinspirasi oleh pemain luar negeri yang merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhannya, Slamet pun meminta usul dari teman-teman setimnya. Ternyata ada salah satunya yang telah memiliki ide, tapi masih dirahasiakannya. Maka ketika gol tercipta, teman Slamet itu pun berlari ke pinggir lapangan, merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhan, dengan cara menjalankan shalat dua rakaat !
Akhirnya ada satu nasihat dari pak kiai -guru Slamet di pesantren- bahwa Islam adalah sesuatu yang tak perlu dipamer-pamerkan dan agama adalah sesuatu yang tidak untuk dipaksa-paksakan. Rasanya ada pencerahan dan kubawa hikmah pulang ke rumah dari BBY malam itu. Tak jadi masalah Yoke pulang mendahuluiku, lalu sempat kusapa Gunawan Maryanto dan Tomi Simatupang belaka seusai pertunjukan.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Sarat Acara Seni di Yogyakarta

Bulan Agustus 2008 menjadi bulan yang begitu sarat dengan acara kesenian di Yogyakarta. Mungkin erat pula hubungannya dengan peringatan HUT RI ke-63, karena di berbagai penjuru kota pasti ada sejumlah pentas seni yang diselenggarakan oleh warga masyarakat. Sementara itu di sentra-sentra pertunjukan seni pun ada banyak acara. Ketika di TBY berlangsung acara JAFF dan Pasar Seni Tradisi, pastilah begitu banyak orang yang terlibat di situ. Bahkan aku jadi sempat bersalaman dengan Andrea Hirata (penulis tetralogi Laskar Pelangi) dan mengikuti diskusi dengan Djenar Maesa Ayu, sehabis melihat film debutnya yang menjadi salah satu peserta JAFF. Sempat juga kulihat sekilas sebuah film kartun dari Iran pada sebuah Minggu siang. Pasar Seni Tradisi yang melibatkan kelompok-kelompok seni tradisional di Jogja pun berlangsung cukup meriah. Apalagi ada pedagang makanan tradisional yang selalu menemani penonton setiap sore hingga malam. Tapi aku hanya sempat melihat sebuah pertunjukan tari dari Rewe-rewe yang dibawakan beberapa perempuan secara dinamis dan menghibur. Aku beberapa kali ada di TBY saat berlangsung acara itu, tapi aku sendiri mesti bekerja. Dan akhirnya aku sempat tampil pula di atas panggung. Kuiringi adik-adik menyanyi, dari yang masih bocah sampai yang sudah remaja, baik menyanyi solo maupun paduan suara. Syukurlah, acara yang aku ikut berpartisipasi itu berlangsung cukup baik. Selain mereka yang belajar vokal, anak-anak yang belajar menari dan teater di AFC (Art For Children) TBY pun berkesempatan tampil di panggung Jumat sore itu (15/8).

Momotaro - The Peach Boy
Sebuah pertunjukan seni menarik ditampilkan oleh Teater Gamelan Marga Sari dari Osaka Jepang dalam “Momotaro – The Peach Boy” pada Selasa malam (26/8). Melihat artis penampilnya saja sudah mengundang rasa penasaran. Lha ada kelompok teater gamelan, kok asalnya dari Jepang? Kelompok Marga Sari dipimpin oleh Prof.Shin Nakagawa yang ternyata sudah lama belajar gamelan di Indonesia. Belasan orang yang tampil di atas pentas mayoritas adalah orang Jepang. Hanya dua orang Indonesia yang terlibat dan mereka telah menikah dengan orang Jepang sesama anggota kelompok tersebut. Sangat unik melihat orang-orang Jepang berdialog dalam bahasa Indonesia dengan logat mereka dalam pertunjukan di gedung sositet TBY itu. Momotaro adalah cerita rakyat yang sudah sangat diakrabi masyarakat Jepang. Namun Marga Sari menampilkannya dengan cita rasa baru lewat pertunjukan teater yang diiringi gamelan Jawa. Menurut Prof.Shin Nakagawa, budaya gamelan telah tersebar di seluruh dunia dan pertunjukan itu merupakan respons terhadap budaya Indonesia yang sangat dihormatinya. Adakah kita orang Indonesia mampu melakukan apa yang telah dilakukan orang-orang Jepang itu?


Ngobrol bareng Ayu Utami
Aku sempat sekitar sejam mengikuti diskusi bersama Ayu Utami dan Aris Mundayat di Yayasan Umar Kayam pada Rabu malam (27/8). Pastinya lumayan bertambah wawasanku tentang banyak hal sepulangku dari situ. Sebenarnya ada pentas pembacaan novel terbaru Ayu Utami “Bilangan Fu” pada Kamis malam (28/8) oleh Landung Simatupang, sastrawan senior Jogja yang didampingi putranya Tomi Simatupang, seorang musisi profesional yang selama sekian waktu sempat berkarier di Eropa. Tapi aku melewatkan acara yang berlangsung di TBY itu karena kondisi tubuhku sedang rada menurun.

Jumat, 08 Agustus 2008

Festival Film dan Pasar Seni Tradisi di TBY



Jika tiada aral melintang, sejak hari Sabtu, 9 Agustus 2008 nanti, ada dua rangkaian kegiatan seni yang menarik berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Yang pertama adalah
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang akan diselenggarakan pada tanggal 9-13 Agustus 2008 di seputaran Taman Budaya Yogyakarta dan Lembaga Indonesia Perancis. Pada tahun-tahun sebelumnya, JAFF memberi perhatian pada bagaimana sinema berperan di tengah krisis akibat bencana alam dan sosial yang menyebabkan perubahan di tengah masyarakat (“Cinema in The Misdt of Crisis” –JAFF 2006), serta bagaimana sinema dapat memberi ruang pertemuan simbolik berbagai komunitas yang mengalami dislokasi sosial akibat proses perubahan (“Diaspora”- JAFF 2007). Tahun ini JAFF kembali hadir, menyoroti perubahan itu sendiri dengan mengusung tema besar METAMORFOSA. Info selengkapnya dapat diklik di www.jaff-filmfest.com/jaff-new/index.php

Acara kedua di TBY adalah Pasar Seni Tradisi, yang konsepnya mengacu pada kondisi di masyarakat kita dimana sebuah pergelaran seni tradisi selalu diminati oleh aktivitas para pedagang yang menjajakan makanan tradisional seperti : kacang, jadah tempe, jagung, gethuk, mainan tradisional, bakmi, angkringan dan lain-lain. Selain pergelaran dan makanan tradisional, pasar seni tradisi juga menampilkan talk show dan kegiatan pameran properti seni tradisi yang antara lain menampilkan pakaian, foto, pecut, jaranan, dll. Pasar Seni Tradisi akan dilaksanakan dari tanggal 9 - 15 Agustus 2008, menurut rencana akan dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Rabu, 23 Juli 2008

Anak-anak Pentas Berbahasa Jawa

Jumat malam lalu, 18 Juli 2008, pendapa Tamansiswa Yogyakarta kembali menjadi ajang sebuah pentas seni. Yang tampil malam itu adalah Sanggar Anak Rengganis dan Taman Kesenian Tamansiswa Yogyakarta. Dari beragam nomor pertunjukan yang dipentaskan, mayoritas berbahasa Jawa. Ada deklamasi geguritan dan drama pendek dalam bahasa Jawa, juga ada deklamasi puisi yang dibawakan secara teatrikal dan sebuah tari tradisional Sumatera. Mereka yang tampil adalah anak-anak kecil usia SD dan beberapa remaja SMP-SMA. Menjadi sangat menarik karena mereka berbahasa Jawa di atas pentas, dengan gamelan sebagai musik pengiringnya. Padahal anak-anak sekarang, di Jogja sekalipun, tidak selalu berbahasa Jawa dalam berkomunikasi, kendati hanya bicara dalam keluarganya atau bersama teman-temannya pun. Yang juga istimewa, anak-anak itu berakting secara natural, tampil percaya diri, dan sangat hafal pada naskahnya. Padahal anak-anak yang sama tampil minimal dalam dua kali kesempatan. Salutlah bagi anak-anak dan para remaja itu, juga selamat untuk para pengajar dan orang tua mereka yang pasti sangat bangga. Tema-tema yang diangkat malam itu, antara lain tentang baik-buruknya televisi, tentang pentingnya menjaga kebersihan, dan tentang hitam-putihnya negeri kita ini. Kendati situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung membuat kita selalu berpikir negatif dan pesimis, tapi mestinya kita tetap selalu berpikir positif dan optimis, bahwa masih ada masa depan yang lebih apik nantinya. Mungkin begitulah salah satu intisari pentas malam itu.

Beberapa hari sebelumnya, dalam Festival Teater Anak yang berlangsung di kampung Pakel Mulyo, sebuah kelompok seni anak-anak dari pinggir kota Yogyakarta (termasuk Bantul/Sleman) menampilkan ketoprak singkat yang kocak dan menghibur, tentunya dalam bahasa Jawa pula. Lalu hari Minggu lalu, 20 Juli 2008, berlangsung sebuah pentas tari di TBY yang menampilkan sanggar-sanggar tari se-Yogyakarta, mayoritas pendukungnya adalah para pemuda pemudi yang tampil atraktif dan sangat dinamis. Barangkali kami di Yogyakarta bolehlah berlega hati bahwa masih banyak tunas harapan yang akan terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisi daerah kami. Semoga demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Karena sejatinya begitu banyak pelajaran berharga dan kearifan lokal yang terkandung dalam beragam jenis seni budaya tradisi kita.


Kamis, 17 Juli 2008

YGF 2008 : Warga Dunia Bersatu Lewat Gamelan

Pada 10-12 Juli 2008 lalu telah berlangsung Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), sebuah pergelaran seni gamelan bertaraf internasional yang berlangsung untuk ke-13 kalinya di Yogyakarta. Sebagai warga Jogja, tentu aku sudah sering mendengar keberadaan ajang tersebut di tahun-tahun sebelumnya. Tapi entahlah, sepertinya dulu aku kurang tertarik untuk menyimaknya. Bahkan untuk melihat salah satu pentasnya pun seingatku belum pernah. Tapi tahun ini ternyata ada hasrat yang berbeda. Aku malah akhirnya bisa menyaksikan YGF 2008 dalam dua kali pertunjukan yang berlangsung di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat (11/7) dan Sabtu (12/7) lalu. Semula memang tak menjadi rencanaku. Kebetulan Jumat sore itu, setelah rampung bertugas ada rapat kecil yang kuikuti di TBY. Pak Agus menginformasikan padaku bahwa malam itu di concert hall ada acara YGF. Aku kok terus jadi penasaran ya? Maka aku beranjak menuju tempat acara itu diselenggarakan dan sudah begitu banyak calon penonton yang hadir. Yang menarik, sebelum masuk ke gedung pertunjukan, kita bisa melihat dokumentasi YGF dalam bentuk pameran foto dan rekaman audio pentas-pentasnya dahulu. Wah, aku jadi semakin tertarik untuk mengikuti acara itu !

Pertunjukan hari Jumat diawali grup D'lima dari Taman Budaya Jawa Timur yang terdiri dari beberapa lelaki berjubah merah. Nomor-nomor yang dibawakan berirama dinamis, jadi penonton semangat mengikutinya. Ada seorang perempuan dan dua laki-laki (bajunya seperti orang mau ronda) masuk di tengah salah satu lagu dan menambah meriah pertunjukan. Selanjutnya Alex Dea dari Amerika Serikat bersama KPH 8 membawakan komposisi yang panjang dan susah untuk dinikmati. Salah satunya diciptakan untuk mengenang guru gamelan Pak Alex yang telah wafat. Memang nada kesedihannya terasa sekali dalam komposisi yang dimainkan malam itu. Ada beberapa orang kulit putih di antara orang-orang Indonesia yang tergabung dalam kelompok KPH 8. Yang juga menarik, selalu ada diskusi antara Sapto Raharjo, direktur YGF 2008 sekaligus pembawa acara, dengan wakil dari setiap kelompok yang tampil. Penampilan terakhir adalah grup Gamma Rays dari Singapura, yang selain terdiri dari pemain gamelan, juga membawa pemain drum, bass, dan kibord. Hebatnya, grup ini didominasi anak-anak muda yang multiras. Ada orang India yang memainkan suling dengan beberapa wajah oriental yang tatanan rambutnya funky dan anak muda banget, selain ada orang Melayunya pula. Semua nomor yang dibawakan secara instrumentalia memadukan suara gamelan dan band mewujudkan harmoni yang asyik disimak, termasuk dua gending klasik Jawa : Suwe Ora Jamu dan Gambang Suling. Setelah ngobrol sebentar dengan ibu pimpinan grup dari Singapura, para pengisi acara lalu melakukan jam session dengan komandannya Pak Sapto yang memainkan kendang. Entah mereka latihan dulu atau tidak, yang jelas lagu pamungkas yang dimainkan keroyokan itu terdengar enak juga dan akhirnya mengundang tepuk tangan panjang dari penonton.

Di pementasan hari berikutnya dibuka oleh gamelan plesetan, yang ternyata merupakan komposisi kontemporer dan eksperimental hasil kerja sama dosen-dosen dari California bersama salah satu muridnya dari Korea dan Sapto Raharjo. Lalu ada Vincent McDermot dari Amerika yang kelompoknya juga hasil kerja sama orang asing dan Indonesia. Bahkan Singgih Sanjaya, dirigen top Indonesia yang sering membuatkan aransemen lagu untuk Twilite Orchestra ikut tampil sebagai dirigen dan memainkan saxophone. Ada banyak pendukungnya, termasuk paduan suara dan beberapa penari yang memainkan bagian dari opera Matahari. Ada banyak kejutan saat para penari tampil, mulai dari sang Matahari yang menari bersama sang Ratu Kidul, lalu dia melepas kostum penari Jawanya dan menari erotis dengan busana minimalis. Yang paling membuat penonton riuh rendah ketika beberapa penari laki-laki serta merta melepas kain yang dipakainya, hingga sekilas mereka seperti telanjang bulat ! Wah, salut banget untuk kerja keras Mister Vincent dan rombongannya. Selanjutnya kelompok Kito Siopo yang terdiri dari orang Inggris, Jepang, dan Australia(kalau tidak salah). Komposisi yang dibawakan relatif njelimet juga. Tapi pas Sapto Raharjo ngobrol dengan mereka, malah jadi seperti nonton dagelan Mataram. Lucu banget soalnya, hehe… Kelompok LOS dari Surakarta menjadi penampil terakhir dengan nomor Majemuk. Untuk memperlihatkan kemajemukan, para personel grup yang mayoritas anak muda itu berkostum macam-macam, dari seragam SMA, pramuka, pegawai negeri, hansip, sampai baju cah dolan dan orang mau tidur. Menurut pimpinannya, dalam komposisinya itu ada sentuhan gamelan gaya Bali, Sunda, dan lain-lain yang menjadi harmoni yang menarik disimak. Bahkan bagi penonton ada kesan irama pengiring barongsainya, ketika dua pemain memainkan gong yang diletakkan di lantai. Akhirnya ada jam session lagi yang tak kalah asyiknya ketimbang malam sebelumnya.

Sejumlah pelajaran berharga kubawa pulang sehabis melihat dua kali pementasan YGF 2008. Gamelan ternyata bisa menjadi ajang bertemunya orang-orang dari beragam penjuru dunia. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa musik adalah bahasa dunia. Berbanggalah kita bahwa musik tradisional Indonesia ternyata bisa menyatukan warga dunia. Memang hanya segelintir orang, tapi tetap saja istimewa. Sementara banyak orang Indonesia di mana-mana sering ribut dan saling bertikai, di Yogyakarta ada orang Amerika, Inggris, Jepang, Korea, Australia, Singapura, bersama orang Indonesia yang semuanya pasti cinta damai, justru bekerja sama dan bersinergi mampu mewujudkan harmoni yang dapat dinikmati banyak orang. Dan melalui seni gamelan mereka mampu bersatu dalam berbagai keragaman dan perbedaan masing-masing.

Ada beberapa sastrawan terlihat di antara penonton, seperti Mustofa W.Hasyim dan Herlinatiens. Yang mungkin juga unik, mayoritas penonton adalah anak-anak muda. Semoga mereka tak puas hanya sebagai penonton yang apresiatif, tapi akan lebih banyak berpartisipasi memainkan dan mengembangkan gamelan pula di masa depan.


Sabtu, 12 Juli 2008

Risalah Apresiasi Paruh Pertama 2008

Pertunjukan seni yang kuhadiri

Sepanjang Januari hingga Juli 2008 sudah relatif beragam jenis pertunjukan seni yang kusaksikan di Yogyakarta, kotaku tercinta. Ada pentas Teater Garasi dengan aktor-aktor muda binaannya dalam lakon ‘Tuk’ (Januari) dan pentas Teater Tetas dari Jakarta dengan ‘Republik Anthurium’ (April). Kemudian ada pertunjukan musik ‘Vertigong Atawa Jazz Jawa’ persembahan Kuaetnika Yogyakarta (Mei). Sebenarnya aku sempat berencana nonton Tompi dkk dan sebuah grup jazz dari Belanda yang sempat main di Jogja, tapi batal saat itu. Terakhir kulihat akrobat tari kontemporer dari seniman Eropa bertajuk ‘Contigo’. Dua kali kuikuti Bincang-Bincang Sastra dan ada yang menarik juga dari acara pembacaan cerpen isti Wuryani (April). Semua acara tersebut berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), termasuk beberapa pameran seni rupa yang sempat kutengok. Selain itu ada beberapa pentas diadakan di Tamansiswa, seperti ‘Balada Pendidikan Nasional’ dan pembukaan sebuah sarasehan nasional (Mei) yang melibatkan kakakku Mbak Risa beserta tiga keponakanku (Iyaz, Puti, Rizky) sebagai pengisi acara. Aku sendiri hanya sempat mengiringi paduan suara anak-anak AFC (Art for Children) TBY di panggung gembira Sekaten (Maret). Tapi dalam beberapa bulan ke depan, bisa jadi aku bakal menjadi bagian dari pertunjukan seni yang lain. Yang jelas aku siap untuk turut berpartisipasi.

Buku-buku yang kubaca

Aku merasa beruntung akhirnya bisa membaca Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, dua buku best seller dari tetralogi karya Andrea Hirata. Terima kasih buat sepupuku Elang yang telah meminjamkannya padaku. Semoga akan segera kubaca pula Edensor dan Maryamah Karpov (yang baru dirilis saat film Laskar Pelangi karya Riri Riza-Mira Lesmana diputar di bioskop). Banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga bisa dipetik dari karya Andrea Hirata tersebut. Semoga Bang Ikal panjang umur dan terus berbagi kebaikan lewat karya-karya selanjutnya.

Aku juga berterima kasih pada Herlinatiens yang berbaik hati meminjamkan buku-bukunya. Kini aku jadi pernah membaca Sang Alkemis, Iblis dan Miss Prym (Paulo Coelho), Vita Brevis (Jostein Gaarder), dan Celana Pacarkeciku di Bawah Kibaran Sarung (Joko Pinurbo). Buku yang kubeli hanya Mutiara Penggugah Hati, Kurma : Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas, dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Anugerah Sastra Pena Kencana). Insya Allah, semua buku yang kubaca pasti bermanfaat untuk hari-hariku ke depan, termasuk dalam aku berkarya. Amin.