Selasa, 02 Februari 2010

Menulis Perlu Keikhlasan

Menurut Prof.Suminto A.Sayuti, menulis itu pun perlu keikhlasan. Jika sedang tidak bisa menulis kok dipaksakan, nanti jadinya ibarat onani, hasilnya hanya sampah. Itulah salah satu hal yang dapat kucatat dari acara Bincang-Bincang Sastra edisi Januari 2010 yang berlangsung hari Minggu (31/1) di ruang seminar TBY. Malam itu merupakan saat peluncuran buku ’Menggambar Angin’ - dokumentasi 70 puisi Hari Leo AER, seorang seniman multibakat Jogja, yang merupakan pionir utama acara BBS, yang telah berlangsung lebih dari 50 kali. Aku sendiri sepertinya baru untuk kelima kalinya mengikuti acara tersebut.

Sebagai wujud apresiasi untuk Hari Leo AER, maka ditampilkan sejumlah puisi karya beliau yang dibaca oleh aktor Whani Dharmawan dan sejumlah nama (maaf, tidak hafal), serta musikalisasi puisi oleh Untung Basuki dan dua komunitas seni mahasiswa. Aku setuju bahwa mestinya sudah saatnya ada penghargaan khusus dari pemerintah untuk Hari Leo AER, atas kerja keras dan dedikasi penuhnya terhadap perkembangan seni budaya di Yogyakarta.

Ulasan Prof.Suminto, guru besar dari UNY serta tanya jawab dengan beberapa orang cukup menambah wawasan pengetahuan para penggemar sastra yang hadir malam itu, termasuk bagiku sendiri pastinya. Sebagai bentuk penghormatanku bagi Mas Hari, kubelilah ’Menggambar Angin’ yang langsung ditandatangani oleh penulisnya. Sehabis itu aku sempat menyapa Mas Joni Ariadinata, redaktur majalah sastra Horison. Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, tapi sangat sedikit yang sempat tercetus. Sekali waktu, mungkin aku mesti berkunjung ke rumahnya, seperti yang pernah ditawarkannya kepadaku. Masih banyak jalan untuk terus belajar dan belajar.

Dengan Bahasa Cinta (Hari Leo AER)

Dengan bahasa cinta

kita pernah menawar malam

untuk tidak segera bergegas pulang


Yogya 2008

Sabtu, 16 Januari 2010

Seniman Berkesan Nyeleneh (Fariz RM)

Seniman – karena namanya berorientasi kreativitas - memiliki pendapat dan gagasan yang berbeda dari pemikiran umum. Parameter yang mereka gunakan tidak sama dengan banyak orang, sehingga berkesan nyeleneh dan ingin bebas tak terikat di mata pendapat umum. (Fariz RM)

Rabu, 13 Januari 2010

Karya Sastra dan Makna Peristiwa (Ismet Fanany)

Karya sastra tidak hanya berkisah tentang manusia, tingkah lakunya atau tentang tempat, tapi juga merenung tentang makna sebuah peristiwa, tentang akibat tingkah laku manusia. (Ismet Fanany)

Rabu, 06 Januari 2010

Wajah Jogja Rada Beda dengan Biennale Jogja X


Sejak pertengahan Desember 2009 silam hingga minggu kedua Januari 2010 ada pemandangan yang berbeda di berbagai penjuru Yogyakarta. Di seputar titik nol saja, yaitu antara Benteng Vredeburg, Istana Gedung Agung, hingga perempatan Kantor Pos Besar dan BNI, ada sejumlah karya yang tersaji. Ada patung-patung yang aneh atau poster lukisan berukuran raksasa. Lalu masih banyak pula yang terlihat, seperti di Malioboro, perempatan Jalan Senopati, pojok beteng wetan, bunderan UGM, dan lain-lain.

Keberadaan karya-karya seni rupa itu adalah dalam rangka Biennale Jogja X - 2009, pameran seni rupa besar-besaran setiap dua tahun. Biennale tahun 2009 diikuti lebih dari 300 seniman Jogja yang terdiri dari 126 perupa dan 6 kelompok seni yang hasil karyanya dipamerkan di empat pusat di Jogja yaitu TBY, Jogja National Museum (JNM), Sangkring Art Space dan Bank Indonesia. 197 seniman yang menyuguhkan hasil karyanya di ruang publik. Karya-karya di ruang-ruang publik ini berupa instalasi, mural kampung, street art, melukisi tanki air, karya master senirupa tradisional berusia sepuh, performance art, art project, respon kios PKL, melukisi toilet mobil, patung publik, banner, billboard dan videotronik.

Ketika Biennale Jogja X dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada Jumat malam, 11 Desember 2009 lalu, halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) terasa sesak karena begitu banyak seniman dan masyarakat umum yang menghadirinya.

Menyikapi tagline Biennale Jogja X - 2009 "Seni Agawe Santosa", Jero Wacik mengharapkan agar seni benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan bagi seniman. "Jangan sampai ada seniman besar dan dikagumi, tetapi hidupnya susah," ujarnya.

Jika masih ingin melihat ruang publik Jogja yang menjadi ajang pameran seni rupa, datang saja hingga 10 Januari 2010, saat Biennale X Jogja berakhir.

Sumber data : www.gudeg.net

Foto-foto oleh Langkah Bangkit S. dan dapat lebih banyak dilihat di www.luhursatya.multiply.com









Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.

Rabu, 02 Desember 2009

Padz Jazz : Meriahnya Pentas Musik Jazz di Jogja


Untuk pertama kalinya pelajar SMA di Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 3 mengadakan pertunjukan musik jazz dalam rangka ulang tahun sekolahnya. Acara bertajuk 'Padz Jazz - Ethnic Season' yang berlangsung pada hari Senin, 30 November 2009 di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para penikmat musik di kota pelajar, terbukti dari antusiasme penikmat musik yang memadati gedung pertunjukan terbesar di Jogja itu.

Yang tampil juga cukup banyak, total ada 9 artis/grup band, terdiri dari 3 band finalis festival jazz, 3 band jazz anak-anak SMA 3, kemudian 3 artis tingkat nasional : Aji Idol, Soulvibe, dan Rieka Roslan & Troubadours. Mungkin memang sengaja dibuat ada 3 sesi dengan masing-masing 3 penampil, sesuai dengan sang empunya acara. Okelah kalau begitu. Dimulai pada pukul 19.15, pentas jazz yang dihadiri ribuan penonton itu baru usai menjelang jam 12 malam.

Band pertama tampil dengan lagu jazz standar ‘Love’ dan medley lagu daerah, lumayan bagus sebagai pembuka acara. Band kedua menampilkan seorang gadis kecil yang suaranya sudah so jazzy. Rasanya lebih ada geregetnya menonton aksi band yang membawakan ‘Blue Moon’ dan sebuah lagu daerah, yang diawali dengan tembang pendek yang dikumandangkan dengan apik oleh si gadis kecil. Band ketiga membawakan ‘Spain’ yang rumit itu dengan aransemen yang ada nuansa Jawanya, apik juga! Sehabis itu mereka juga membawakan medley lagu daerah yang sudah di-jazz-kan.

Tiga band yang terdiri dari anak-anak SMA 3 tampil apik pula, yaitu : Rekoneko, Djhavoe, dan Koala. Salah satu band itu menampilkan seorang perempuan sebagai pemain bassnya. Rasanya di Indonesia masih sangat jarang ada bassis cewek, khususnya di band non-rock. Kalau di band rock sih sudah ada Chua ‘Kotak’, Ices ‘The Rock Indonesia’, dan Nisa ‘Omlette’.

Bagiku pribadi ‘Koala’ sangat istimewa karena gitarisnya, Nihan Anindyaputra Lanisy (alias Uta atau Jono) adalah keponakanku. Sebagai pamannya bisa banggalah aku menyaksikan aksi band sarat prestasi itu di concert hall. Setahun silam hanya suara kiborku yang berkumandang saat pentas operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’, sementara tiga pekan lalu sosokku sekadar berdiri berterima kasih pada penonton -bersama teman-temanku- sehabis langen gita ’Cindelaras’. Malam itu giliran keponakanku yang secara utuh mengumandangkan suara gitarnya dan performanya dilihat ribuan pasang mata di tempat itu. Dua lagu ciptaan sendiri dibawakan oleh ’Koala’ ditambah sebuah hits Chrisye ’Juwita’ yang diaransemen ulang.

Menyimak penampilan 6 band tersebut membuatku terkenang pada masa kejayaan band-band fusion Indonesia era 80-an hingga awal 90-an, seperti : Karimata, Krakatau, Modulus, dan Emerald. Apalagi dalam sebulan terakhir aku baru saja mendengarkan dan menyukai kembali lagu-lagu Emerald yang kuunggah dari internet. (Trims buat Yudi Agung Nugroho yang membagi infonya yang sangat berharga).

Aji Idol yang merupakan mantan finalis Indonesian Idol sekian tahun silam menjadi artis nasional pertama yang tampil. Sebuah lagu dari Michael Jackson (sepertinya ketika masih kribo dan tergabung dalam ’The Jackson Five’) membuka penampilannya dengan impresif. Aji yang berambut super kribo tampil di lagu pertama bersama seorang temannya yang tak kalah kribo, lucu jadinya! Sehabis itu diselingi curhat Aji yang kocak, dia bersama band pengiringnya membawakan sebuah lagu Vierra dan dua lagu lagi, yang terakhir adalah ’Can’t Buy Me Love’ dari The Beatles yang dibawakan dengan sangat dinamis. Sayang, sebelum Aji berniat menyanyikan lagu pamungkasnya, waktu untuknya sudah habis.

Band ’Soulvibe’ mungkin kurang populer jika dibandingkan dengan ’Maliq n D’Essentials’ dan ’RAN’. Tapi ternyata penampilan mereka mampu memukau para pandemen jazz Jogja juga. Band beraliran RnB itu membawakan sejumlah lagu ciptaan sendiri, termasuk ’Biarlah (Hapuslah Cinta)’ dan ’Arti Hadirmu’ yang rupanya cukup ngetop buat penonton. Sejumlah penonton maju di depan panggung dan bebas bergoyang saat aksi terakhir Soulvibe. Yang jelas suasananya jadi makin meriah. Sayangnya, karena mungkin sudah lebih dari jam 11 malam, cukup banyak penonton yang meninggalkan gedung pertunjukan ketika performa Soulvibe belum tuntas.

Rieka Roslan dengan keempat sahabatnya dalam ’Troubadours’ menjadi artis pamungkas disaksikan sekitar 50% penonton yang masih setia menanti. Mbak Rieka bilang bahwa mereka akan menampilkan ragam jazz yang berbeda dengan artis-artis sebelumnya. Dan memang benar begitu adanya. Ada nuansa lain ketika perempuan asal Bandung itu menyanyikan ’Sepasang Mata Bola’ dengan gayanya sendiri yang khas, dilanjutkan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Juga berbeda dengan yang lain, Mbak Rieka sempat nyanyi sambil jalan-jalan di antara penonton, mengajak mereka bernyanyi dan menari pula bersamanya. Koor penonton terdengar ketika hits lama ’The Groove’ bertajuk ’Dahulu’ dibawakan oleh Rieka Roslan & Troubadours.

Padz Jazz akhirnya berakhir ketika tengah malam hampir tiba. Penonton pulang dengan puas rasa. Semoga pentas serupa dapat kembali terlaksana di saat mendatang. Tak lupa, salut dan selamat buat anak-anak Padmanaba!