Tampilkan postingan dengan label kedaulatan rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedaulatan rakyat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2022

Cerpen Nomor 200



Masih belum ada kepastian, apakah yang bakal menjadi tema cerita pendek nomor 200 sepanjang hayatku ini? Senantiasa kucatat belaka judul cerpen-cerpen yang mampu kutuntaskan, lalu kukirimkan ke sejumlah media sebagai salah satu upaya menjemput rizki. Tak pernah kuanggap penting ketika jumlah cerpenku mencapai angka 50 atau mungkin 100. Namun, entah mengapa aku perlu menjadikan cerpen ke-200 ini sebagai karya istimewa. Sebagai sebuah perayaan kecil belaka barangkali. Baiklah, kucoba memulainya kini.

           “Sebenarnya aku punya hasrat untuk menulis seperti kamu,” ucap seorang temanku yang mengaku kerap membaca cerpenku di media.

         “Sepertinya aku mesti melewati banyak penderitaan, sehabis itu barulah aku bisa menulis kisah demi kisah,” sahutku setelah sempat bergeming sejenak.

            “Wah, jadi malah menarik ya, kisah hidupmu. Tapi, pasti ada ilmunya.”

        “Tentu saja aku banyak belajar dari buku-buku maupun dari para pendahulu di bidang literasi. Aku cenderung setuju dengan apa yang dikatakan Haruki Murakami, penulis asal Jepang itu. Menurutnya, dalam hidup aku tak bisa menjadi orang lain, tapi dalam fiksi aku bisa menjadi siapa saja. Aku bisa membayangkan diriku menjadi orang lain. Bisa dibilang ini semacam terapi.”

         “Tapi, bagaimana kalian melakukannya? Bagi orang awam yang bukan seniman sepertiku, hal itu sungguh menjadi misteri.”

           “Entah kita sadari atau tidak, ketika menghadapi masalah dalam hidup ini,  pasti banyak hal yang lantas membuat sedih, gelisah, marah, kecewa, dan macam-macam energi negatif lainnya. Ketika aku mulai menulis cerpen, energi negatif itu bagaikan mendapatkan jalan agar tersalurkan. Menjadi semacam ruang katarsis. Jika semua itu kupendam belaka, barangkali aku bisa jatuh sakit, baik raga maupun jiwaku.”

      “Faktanya, kisah-kisah bertema dukacita memang cukup dominan kusuratkan selama ini. Berdasarkan pengalaman, aku sudah kehilangan Bapak, Ibu, kakak sulung, kakek, nenek, dan pamanku. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedekatan secara fisik maupun emosional dalam hidupku. Tentu selalu ada hal-hal yang bisa digali dari sosok mereka yang sudah tiada. Maka terciptalah sejumlah cerpen tentang mereka. Demikian pula pelbagai cerita kandasnya cinta yang kualami sendiri. Namun, tentu aku tak hanya menjadikan diriku dan keluargaku sebagai sumber inspirasi. Terkadang apa yang sedang heboh di masyarakat pun menyumbang gagasan untuk terciptanya karya baru.”

        “Bisa kau sebutkan cerpen yang manakah yang kau maksud?” tanya temanku.

         “Ketika ada konflik yang terjadi di tubuh PSSI, maka aku menulis dua cerpen : Pemimpin Boneka dan Berbekal Wasiat. Oh ya, ketika heboh pemilihan presiden, aku pun pernah membuat cerpen berjudul Dilema Nesya. Tentu saja aku tidak secara vulgar menceritakan mereka.”

            “Kalau cerpen tentang orangtuamu yang sudah tiada?”

        “Aku membuat cerpen Saat Ayah Pergi untuk Bapak. Sebenarnya judul aslinya kutulis dalam bahasa Inggris, kesannya lebih puitis. Cuma saat dimuat di sebuah majalah, judulnya diganti ke dalam bahasa Indonesia.”

            “Apakah judul asli cerpen Saat Ayah Pergi?”

            “The Day My Dad Passed Away.”

        “Wah, kupikir judul itu lebih keren, sih. Oh ya, kalau untuk ibumu ada juga?”

           “Cukup banyak cerpenku demi mengenang mendiang Ibu. Ada Menjelang Kepergian Ibunda, Lebaran Terakhir Mama dan Ibunya, Membaca Jalan Pikiran Ibu, dan Menjelang Tiba Ujung Senja. Ibu cukup kerap hadir dalam cerpenku lainnya, kendati tidak sebagai tokoh utama.”

        “Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan jika kudu menjalani hidup seperti dirimu.”

“Menulis bagiku adalah cara menghindarkan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu.”

“Apakah hal itu yang terjadi padamu?” tanya temanku lagi.

“Kalimat itu bukan milikku, melainkan kubaca dalam cerpen “Gerimis dalam E Minor” karya Agus Noor. Aku sungguh merasa terwakili dengan apa yang dia suratkan dalam cerpen itu.”

Selain menulis cerpen, aku pernah menjadikan kemampuanku dalam bermain piano sebagai pekerjaanku. Padahal aku bisa memainkannya tanpa pernah belajar secara formal kepada siapa pun. Nah, pada tahun ke-13 menjadi musisi, datanglah pandemi yang membuatku serta-merta berhenti bekerja di bidang itu. Namun, kendati untuk sementara bermain piano tak lagi menghasilkan rezeki berupa materi, tapi aku masih bisa mendapatkan ruang katarsis lainnya saban kali memencet tuts-tuts berwarna hitam putih di rumahku. Terima kasihku, tentu saja kepada kedua orangtuaku yang puluhan tahun silam membeli sebuah piranti musik yang masih bisa dimainkan oleh anak mereka hingga kini.

Aku tak yakin apakah yang kusuratkan ini sudah layak dikatakan sebagai cerpen atau sebatas racauan tanpa makna bagi sesiapa.


# Cerpen ini dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Jumat Pahing, 1 April 2022.

 

Jumat, 01 April 2022

Nomor 200 Dimuat di KR

 


Cerpen Nomor 200 ditulis sebagai sebuah perayaan kecil belaka. Berawal dari obrolan singkat dengan seorang kawan yang lantas dikembangkan menjadi sebuah karya. Alhamdulillah, ternyata mendapat kesempatan dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Jumat Pahing, 1 April 2022. Terima kasih.

Minggu, 13 Februari 2022

Sebuah Risalah Vaksinasi

 

Kakak perempuanku sudah tiga kali mencoba ikut vaksinasi sebagai upaya melawan Covid-19, tapi selalu gagal karena setiap diperiksa tensinya melebihi batas maksimal. Para petugas kesehatan hanya bisa menyarankan kakakku menunda penyuntikan vaksin. Dia pun mendaftar lagi secara daring bersama diriku. Ternyata beberapa hari kemudian dia tidak dihubungi panitia, sedangkan aku justru mendapat informasi kapan vaksinasi dilakukan. Terus terang, aku sedikit ragu karena riwayat kesehatanku di masa lalu, lantas aku pun cenderung memiliki hipertensi pula karena faktor genetik. Mendiang kedua orangtuaku menurunkan hal itu kepada sepasang anaknya.

Berbekal doa aku berangkat ke lokasi vaksinasi dengan cukup percaya diri. Kendati biasanya kerap begadang, tapi dua hari sebelum vaksinasi aku selalu tidur tidak terlalu malam dan membiasakan bangun pagi. Setiba di lokasi lebih dahulu kuisi formulir pendaftaran, sejenak belaka menanti hingga akhirnya mendapat giliran diperiksa. Aku duduk di sebuah kursi, tangan kiriku ditaruh di atas meja untuk diperiksa tensinya. Sepasang dokter perempuan yang tampak masih muda memeriksa tekanan darahku sembari mewawancaraiku.

“Bapak punya tekanan darah tinggi, ya?” kata perempuan berambut pendek yang bertugas mencatat hasil pemeriksaan.

“Memangnya berapa tensi saya?” tanyaku tidak mendapat jawaban, tapi sekilas kulihat angka 197 di tensimeter digital tersebut. Sekejap aku bergeming belaka.

“Kenapa tidak minum obat, Pak? Apa karena takut mengalami ketergantungan?” tanya dokter yang mengecek tensiku. Dia mengenakan jilbab dan masker tanpa kutahu wajahnya, tapi ayu sepertinya.

“Bapak itu mestinya rutin minum obat. Maaf ya, Pak. Saya punya cerita, ada teman saya usianya tiga puluhan tiba-tiba meninggal dunia karena sakit jantung. Sesaat sebelum wafatnya, baru diketahui bahwa dia menderita hipertensi.”

Entah apa maksudnya si rambut pendek mengatakan hal itu kepadaku, sedangkan temannya memeriksa ulang tekanan darahku.

“Ini tensi Bapak sudah turun. 176/110. Silakan menuju meja vaksinasi. Tapi, hari ini Bapak harus banyak beristirahat dan jangan banyak beraktivitas, ya,” kata dokter berjilbab yang kusahut dengan terima kasih seraya beranjak menuju tahap selanjutnya.

Aku memang lebih banyak membisu. Aku tidak suka berdebat, apalagi niatku sebatas untuk disuntik dengan vaksin buatan China itu. Maka akan kujawab pertanyaan dua dokter muda tersebut di sini. Sejujurnya, aku memang tidak ingin mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan modern. Aku belajar dari pengalaman mendiang ibuku yang semenjak muda secara rutin dipaksa mengonsumsi obat untuk menanggulangi tekanan darah tinggi yang dideritanya. Namun, puluhan tahun memasukkan zat-zat kimia ke dalam tubuhnya membuat ginjal Ibu akhirnya bermasalah. Bahkan ibuku akhirnya tutup usia lantaran gagal ginjal. Maka sebisa mungkin aku tidak akan minum obat untuk mengatasi gangguan kesehatanku.

Selain itu, aku pernah sangat karib dengan jarum suntik pada masa bocah hingga awal remajaku. Waktu itu paru-paruku dideteksi oleh dokter ahli mengalami masalah. Maka aku wajib menjalani pengobatan dengan suntikan dalam kurun masa tertentu. Secara berkala dadaku difoto rontgen untuk mengontrol perkembangannya. Akhirnya aku berhenti disuntik. Namun, sekian tahun kemudian aku kembali melakukannya untuk mengobati alergi debu di dokter ahli yang berbeda. Tak kuingat berapa lamanya aku pernah rutin disuntik. Mungkin itulah sebabnya aku senantiasa kurus sepanjang hayatku. Entah sudah berapa liter saja cairan zat kimia yang pernah dijejalkan ke dalam tubuh mungilku dahulu.

***

Semula ada rencanaku minum obat penurun tensi, beberapa hari sebelum menjalani vaksin kedua, tapi akhirnya tak kulakukan. Kakakku yang menyimpan beberapa saset sesekali mengonsumsi obat tersebut. Aku memilih memakan melon yang baru dibeli kakakku. Yang kutahu, melon adalah buah yang bisa menurunkan tekanan darah. Setelah dikupas dan dipotong-potong, berkali-kali aku melahapnya sejak sore hari sebelumnya hingga pagi sebelum berangkat. Ternyata aku sempat dongkol karena lokasi vaksinasi kedua tetap di tempat yang sama dengan vaksinasi pertama. Padahal berdasarkan info via SMS, tempatnya dipindah ke tempat yang sempat kudatangi pada hari yang ditentukan.

Nah, begitu diukur tensinya cukup tinggi. 190/115. Namun, dokter yang memeriksa kali ini tidak reaktif dan dengan tenang memintaku duduk beristirahat sembari minum. Ternyata ada petugas lain yang lantas menyaranku datang ke tenda putih di luar area yang menyediakan obat penurun tensi. Maka aku diminta mengunyah obatnya, setengah jam menunggu, dan baru diukur lagi tensinya. Angkanya sudah berubah menjadi 160/105. Maka aku pun berhak mendapatkan vaksinasi kedua. Mudah-mudahan benda asing yang dimasukkan lewat tangan kiriku bisa lekas beradaptasi agar tubuhku semakin tangguh menangkal ancaman serangan virus.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Jumat Wage, 28 Januari 2022.


Sabtu, 29 Januari 2022

Sebuah Risalah Vaksinasi Dimuat di KR

 



Sebatas berbagi pengalaman menjalani vaksinasi di masa pandemi, sekalian mengenang Ibu serta mengingat masa kecilku. Ternyata cerpen itu beruntung dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Jumat, 28 Januari 2022. Karya tulis pertama di tahun baru.

Minggu, 21 Februari 2021

Figur Tak Dikenal



Tidak semestinya lelaki itu mengeluh sekiranya hingga hari ini namanya tidak terkenal dan figurnya pun nyaris tak dikenal ketika berada dalam keramaian. Bukankah hal itu memang kehendaknya sendiri? Bahkan secara terus terang pernah dia ungkapkan kepada seorang gadis yang tengah dekat dengannya sekian tahun lalu.

          “Aku tidak mau jadi orang terkenal,” ucap lelaki itu kala bercengkrama berdua dengan  gadis bermata cemerlang pujaannya.

          “Lho, kenapa tidak mau? Bukankah terkenal itu menyenangkan? Dikagumi banyak orang dan mungkin juga punya banyak uang?” tanya sang gadis.

          “Mendapat perhatian banyak orang itu  tidak selamanya menyenangkan.”

          “Iya juga, sih. Perhatian orang lain terkadang mengusik hidup kita.”

          “Nah, itulah alasanku. Apalagi pada era media sosial belakangan ini, terdapat fenomena yang menurutku dahulu tidak ada. Seingatku, pada masa lalu ketika ada orang terkenal, maka dia hanya memiliki penggemar. Orang yang tidak suka, ya bersikap biasa dan tak peduli saja. Para penggemar lantas sering membentuk komunitas sebagai wujud kesukaan mereka kepada sang idola. Tapi, lihat saja kini. Para pembenci pun merasa penting untuk memiliki eksistensi.”

          “Yah, risiko menjadi orang terkenal sekarang memang harus siap memiliki pencinta dan sekaligus pembenci, Bung.”

          “Itulah yang membuatku enggan, maka lebih baik aku menjadi orang biasa. Barangkali hanya sedikit pula temanku, tapi aku tak perlu merasa punya musuh.”

          Lelaki itu belum mengerti bahwa gadis yang diajaknya bicara sebenarnya memiliki kedua orang tua yang dikenal publik. Ibunya adalah pakar pendidikan anak yang pendapatnya sering dikutip banyak orang, sedangkan ayahnya waktu itu merupakan pejabat yang dekat dengan menteri yang akhirnya menjadi wakil presiden.

Satu dekade telah berlalu. Lelaki itu masih tetap menjadi orang biasa. Biarpun puluhan karya tulisnya telah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring, tapi namanya tetap saja tidak kondang. Padahal dia kerap pula menghadiri sejumlah acara literasi, sastra, maupun beraneka rupa kesenian yang begitu kerap digelar di kotanya. Hanya sesekali dia justru menyapa orang-orang kondang yang menjadi kawannya di media sosial.

Oh ya, ada seorang pemuda yang dahulu dikenalnya baru mulai merintis kariernya di dunia kepenulisan. Si pemuda yang ramah kini telah menjadi penulis tenar dan memiliki banyak penggemar. Belum lama ini, lelaki itu dan si penulis tenar secara tak sengaja bertemu di gedung bioskop. Ternyata si pemuda sudah melupakannya sama sekali.

Yogyakarta, 6 September 2019

#Cerpen ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 1 Desember 2019.


Kamis, 15 Februari 2018

Mencuri Dengar dari Langit

Lumrah belaka sejatinya bahwa menjalani hidup kadangkala diwarnai hal-hal yang mengejutkan. Ketika kejutan itu menyenangkan, syukurlah jika demikian. Namun, ketika kejutan itu sangat mengecewakan, mesti bersabarlah kita menghadapinya. Apa yang belum lama ini terjadi pada ayahku termasuk kejutan kategori kedua. Dan ternyata memang tidaklah mudah mempraktikkan apa yang sudah kita pahami teorinya ketika hal itu terjadi pada diri sendiri. Begitulah yang tengah kualami.
Betapa aku merasa sedih, marah, kecewa, dan terhina saat mengetahui Bapak ditangkap oleh aparat penegak hukum dengan tuduhan korupsi. Laksana badai tsunami tiba-tiba menerjang kehidupan keluargaku, menjadikannya berantakan, terobrak-abrik tak karuan. Sama sekali tak kuduga, ayahku yang dalam kesehariannya begitu bersahaja dan tak pernah silau harta kebendaan, ternyata justru tersangkut kasus yang melukai hati bangsa sendiri. Segala kebaikan dan keteladanan yang pernah dicatat Bapak sepanjang hidupnya serta- merta sirna, tak ada artinya apa-apa bagi sesiapa.
Silakan media maupun publik di seluruh penjuru negeri menilai para tersangka koruptor pada umumnya tetap tersenyum ceria, tak merasa berdosa, dan malah terkesan bangga kala kasusnya menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi biasanya mereka hanya mendapat hukuman ringan atau malah bebas dari hukuman karena tak terbukti bersalah di pengadilan. Namun, tidaklah demikian yang terjadi dengan ayahku. Aku tahu persis hal itu.
Hancur lebur sanubari Bapak menghadapi kenyataan bahwa apa yang menurut beliau telah dikerjakannya secara profesional ternyata dianggap mengandung kesalahan yang signifikan. Bapak disangka memperkaya dirinya secara tidak sah lewat jabatannya. Sesuatu yang jelas melenceng jauh dari jati diri beliau, yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran maupun kerja keras serta bersukacita menjalani hidup sederhana apa adanya. Dan lebih remuk redam lagi hati Bapak, begitu menyadari telah secara langsung mengoyak kehidupan istri dan anak-anaknya sendiri yang selama ini sudah relatif bahagia, tenteram, dan sejahtera.
Ibu tampak menangis tak berkesudahan, kendati kakak sulungku berusaha menenangkan hatinya. Aku sendiri tak mengerti mesti berbuat apa, bergeming di rumah belaka. Tak bisa kubayangan apa yang terjadi esok hari ketika bertemu lagi dengan kawan-kawanku di kampus. Yang jelas, aku tak sudi menonton televisi maupun berselancar di dunia maya. Semua alat komunikasi pun kumatikan sementara. Semula aku merasa seluruh dunia pasti bakal memusuhiku dan keluargaku. Namun, kemudian terlihat ada tetangga dekat maupun sejumlah kerabat yang memberikan dukungan bagi kami sekeluarga. Mereka datang menemui atau sekadar menelepon Ibu. Mereka berharap kami tegar dan ikhlas menghadapi kejutan tak menyenangkan dalam hidup kami. Aku tak mengerti, apakah mereka tulus menyatakannya atau sebatas basa-basi. Hal itu bukanlah urusanku. Cuma aku merasa tetap perlu berterima kasih atas simpati mereka.
Beberapa kawan dekatku pun akhirnya menemuiku karena seluruh kontak personalku tak bisa dihubungi. Mereka membesarkan hatiku dan mengajakku bercanda tawa bagaikan tidak terjadi prahara dalam keluargaku. Yah, aku jadi teringat sebuah nasihat bahwa Tuhan senantiasa membagikan soal ujian yang sesuai dengan kapasitas hamba-Nya masing-masing. Kucoba meyakininya, entah apakah ayahku sebenarnya memang bersalah atau menjadi korban fitnah semata.
Namun, ada satu hal yang serta-merta mengusik pikiran dan perasaanku tentang sebuah peristiwa tempo hari. Bagaikan sebuah firasat belaka. Jika waktu itu Bapak bersedia mendengarkan pesan tersebut dan sudi mengikutinya, barangkali tidak bakal menjadi kacau balau begini situasinya. Ada seseorang yang sudah pernah mengingatkan ayahku agar tak usah menerima jabatan yang ditawarkan kepadanya karena hanya akan mengancam keselamatan hidup beliau selanjutnya. Namun, Bapak mengabaikannya dan tetap bergeming dengan sikapnya.
“Apa untungnya buat Bapak mendengarkan kata-katanya? Bapak bahkan tidak mengenal siapa orang itu sebenarnya. Apalagi jika dia ternyata seorang dukun peramal atau cenayang, kita justru dilarang mempercayai mereka.” Begitulah alasan Bapak yang membuatku tak mampu memberi argumentasi lagi, setelah sebelumnya kusarankan agar memerhatikan apa katanya.
Sebenarnya Ibu sempat pula memikirkan apa yang diucapkan orang itu, namun Bapak berhasil meyakinkannya agar tak usah menganggapnya ada belaka.
“Ibu pasti tahu kan, dari mana mereka punya kemampuan meramalkan nasib orang lain? Ada jin atau iblis yang mencuri dengar dari langit, lalu memberitahunya dengan disertai dusta di sana sini. Mereka saja tidak bisa meramalkan nasibnya sendiri, kenapa jadi merasa tahu apa yang bakal terjadi pada orang lain? Ibu masih mau percaya kepada mereka?”
“Iyalah, Pak. Ibu percaya apa kata Bapak saja.”
“Ingatlah bahwa setiap pekerjaan apa pun pasti memiliki risiko tersendiri. Demikian pula ketika Bapak memutuskan menerima jabatan ini. Pokoknya Ibu dan anak-anak tenang saja, Bapak selalu bekerja secara profesional dan tidak bakal neka-neka.” 

# Cerpen ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 9 Februari 2014.


Senin, 24 Oktober 2016

Berbincang Menunggu Giliran

Cerpen Luhur Satya Pambudi dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 23 Oktober 2016.

Mengantisipasi sekiranya mesti antre menunggu giliran, ketimbang sebatas bergeming sembari melihat lalu-lalang kendaraan, maka kubawa sebuah buku yang bisa kubaca untuk mengisi waktu. Bisa saja sebenarnya kumanfaatkan telepon seluler untuk berselancar ke mana-mana, selayaknya yang dilakukan kebanyakan orang belakangan ini, namun sengaja kubatasi diri untuk tidak terlalu tergantung pada piranti teknologi. Lagi pula aku masih bisa menikmati sensasi membaca dengan membuka-buka lembaran kertas buku, koran, ataupun majalah. Kebiasaan membaca tulisan yang berkualitas lambat laun tentu bisa memperbaiki caraku berpikir dan menyikapi segala sesuatu. Rupanya terdapat sejumlah buku di kamarku, yang pernah kubeli dengan harga murah dalam sebuah pameran sekian tahun silam, yang belum tuntas kubaca. Salah satunya kuambil dan kumasukkan ke dalam tasku. Begitu sampai di tempat tujuan, ternyata ada yang sedang dicukur rambutnya, maka duduklah aku di amben dari bambu. Aku pun mengeluarkan buku dari tasku. Baru saja kubaca satu paragraf, seorang lelaki datang. Ia duduk di sampingku dan membuka percakapan denganku.
          “Maaf, buku apa yang sedang Anda baca?”
          “Oh, ini karya Kahlil Gibran.”
          “Ah, rupanya Anda penggemar sastra? Memangnya kuliah di mana?”
          “Dulu, di sebuah universitas negeri.”
          “Masih kuliah atau sudah lulus?”
          “Tidak selesai.”
          “Lalu apa yang Anda kerjakan selama ini?”
          “Saya bekerja serabutan saja.”
          Sesuatu yang sejatinya tidak kusukai adalah jika ada orang yang menanyakan hal-hal yang sangat pribadi tentang diriku, apalagi orang itu baru pertama kali kutemui. Namun aku berusaha sabar menjawab sedapat mungkin apa pun pertanyaannya untukku. Tentu demi sopan santun jua, mengingat ia jelas jauh lebih tua ketimbang aku. Mungkin seumuran paman atau kakak tertuaku.
          “Kenapa kok dulu sampai tidak selesai kuliah?” tanya orang itu, yang sepertinya penasaran ingin lebih mengenal siapa aku.
          “Alasan pribadi yang tidak bisa saya sampaikan,” sahutku seraya berharap ia tak bertanya-tanya lagi. Asaku menjadi nyata ketika sang tukang cukur memanggilku karena pelanggan sebelum aku telah tampil dengan potongan rambut terbarunya. Aku pun beranjak masuk dengan perasaan lega karena tak perlu menanggapi perkataan yang sudah mulai membuat hatiku tak nyaman.

***
          Sebenarnya diajak berbincang ketika menunggu giliran di tempat itu pernah kualami pula sekitar sembilan bulan silam. Namun suasananya berbeda karena lelaki yang mengajakku bicara bukanlah orang asing bagiku. Beliau pernah beberapa kali memberi ceramah di masjid kampungku. Lelaki tua itu salah satu guru favoritku lantaran pembawaannya yang humoris. Pengurus masjid kami suka mengundangnya karena beliau tidak bersedia dibayar dengan amplop berisi uang. Pulang dengan membawa kotak berisi makanan kecil sudah cukup membuatnya bersukacita. Sekiranya beliau tidak mengenalku, tentu bukanlah problema berarti bagiku. Tapi ketika kukatakan bahwa aku kerap menyimak nasihatnya di masjid kampungku, rona wajahnya tampak berseri-seri.
          Biarpun suaranya terdengar lirih di antara kebisingan suara kendaraan bermotor yang mondar-mandir tepat di hadapan kami, kucoba mencatat sepercik nasihatnya. Kendati apa yang disampaikannya sudah kupahami, tapi tiada salahnya kuingat lagi.
“Menjalani hidup itu santai sajalah, Nak. Yang penting berpasrah diri pada Allah serta tak pernah alpa selalu berterima kasih pada-Nya.”
Tersenyum belaka aku menanggapinya. Tentu aku sepakat dengan hal itu.
“Memiliki istri itu tak perlu terlalu ayu, tapi mungkin lebih baik jika dia bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.”
Aku memang berharap demikian, ucapku dalam hati. Entah dia bekerja sebagai pegawai, karyawati, guru, seniwati, atau malah memiliki usaha mandiri. Perbincangan kami terhenti karena giliran rambutku dicukur sudah tiba. Beliau sebenarnya mempersilakan aku berkunjung ke rumahnya –yang tak jauh dari situ- untuk membahas apa saja. Barangkali ada baiknya tawaran tersebut kuterima, siapa tahu bakal lebih nyaman hatiku dan tertata pikiranku setelah memperoleh sejumlah pelajaran berharga dari sang lelaki tua yang sarat pengalaman dalam menempuh lelikuan kehidupan. Kuharap bisa terjadi dialog yang berkesan nanti, tapi hingga hari ini aku belum pernah menjumpainya lagi.

Yogyakarta, 17 Oktober 2016