Setiap karya memiliki riwayat tersendiri. Cerpen "Berbincang Menunggu Giliran" yang baru ditulis 17 Oktober 2016 dini hari dan langsung dikirim menjelang pagi tiba, ternyata dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 23 Oktober 2016. Sesuatu yang begitu saya syukuri pastinya. Membuat cerpen baru menjadi hal yang jarang saya lakukan lagi akhir-akhir ini. Maka dalam sebulan terakhir, saya kembali mempelajari buku-buku yang menjadi pedoman saya dalam menulis sejak 2006 dahulu. Hasilnya memang tidak langsung menjadikan saya produktif seperti tempo hari, tapi setidaknya mulai ada karya baru yang bisa tercipta lagi. Tetap sabar saja menjalani proses kreatif dengan segala lelikuannya.
Senin, 31 Oktober 2016
Senin, 24 Oktober 2016
Berbincang Menunggu Giliran
Cerpen Luhur Satya Pambudi dimuat di
Kedaulatan Rakyat Minggu, 23 Oktober 2016.
Mengantisipasi sekiranya mesti antre menunggu giliran, ketimbang sebatas bergeming sembari melihat lalu-lalang kendaraan, maka kubawa sebuah buku yang bisa kubaca untuk mengisi waktu. Bisa saja sebenarnya kumanfaatkan telepon seluler untuk berselancar ke mana-mana, selayaknya yang dilakukan kebanyakan orang belakangan ini, namun sengaja kubatasi diri untuk tidak terlalu tergantung pada piranti teknologi. Lagi pula aku masih bisa menikmati sensasi membaca dengan membuka-buka lembaran kertas buku, koran, ataupun majalah. Kebiasaan membaca tulisan yang berkualitas lambat laun tentu bisa memperbaiki caraku berpikir dan menyikapi segala sesuatu. Rupanya terdapat sejumlah buku di kamarku, yang pernah kubeli dengan harga murah dalam sebuah pameran sekian tahun silam, yang belum tuntas kubaca. Salah satunya kuambil dan kumasukkan ke dalam tasku. Begitu sampai di tempat tujuan, ternyata ada yang sedang dicukur rambutnya, maka duduklah aku di amben dari bambu. Aku pun mengeluarkan buku dari tasku. Baru saja kubaca satu paragraf, seorang lelaki datang. Ia duduk di sampingku dan membuka percakapan denganku.
“Maaf,
buku apa yang sedang Anda baca?”
“Oh,
ini karya Kahlil Gibran.”
“Ah,
rupanya Anda penggemar sastra? Memangnya kuliah di mana?”
“Dulu,
di sebuah universitas negeri.”
“Masih
kuliah atau sudah lulus?”
“Tidak
selesai.”
“Lalu
apa yang Anda kerjakan selama ini?”
“Saya
bekerja serabutan saja.”
Sesuatu
yang sejatinya tidak kusukai adalah jika ada orang yang menanyakan hal-hal yang
sangat pribadi tentang diriku, apalagi orang itu baru pertama kali kutemui.
Namun aku berusaha sabar menjawab sedapat mungkin apa pun pertanyaannya
untukku. Tentu demi sopan santun jua, mengingat ia jelas jauh lebih tua
ketimbang aku. Mungkin seumuran paman atau kakak tertuaku.
“Kenapa
kok dulu sampai tidak selesai kuliah?” tanya orang itu, yang sepertinya
penasaran ingin lebih mengenal siapa aku.
“Alasan
pribadi yang tidak bisa saya sampaikan,” sahutku seraya berharap ia tak bertanya-tanya
lagi. Asaku menjadi nyata ketika sang tukang cukur memanggilku karena pelanggan
sebelum aku telah tampil dengan potongan rambut terbarunya. Aku pun beranjak
masuk dengan perasaan lega karena tak perlu menanggapi perkataan yang sudah mulai
membuat hatiku tak nyaman.
***
Sebenarnya
diajak berbincang ketika menunggu giliran di tempat itu pernah kualami pula
sekitar sembilan bulan silam. Namun suasananya berbeda karena lelaki yang
mengajakku bicara bukanlah orang asing bagiku. Beliau pernah beberapa kali
memberi ceramah di masjid kampungku. Lelaki tua itu salah satu guru favoritku
lantaran pembawaannya yang humoris. Pengurus masjid kami suka mengundangnya
karena beliau tidak bersedia dibayar dengan amplop berisi uang. Pulang dengan
membawa kotak berisi makanan kecil sudah cukup membuatnya bersukacita. Sekiranya
beliau tidak mengenalku, tentu bukanlah problema berarti bagiku. Tapi ketika
kukatakan bahwa aku kerap menyimak nasihatnya di masjid kampungku, rona
wajahnya tampak berseri-seri.
Biarpun
suaranya terdengar lirih di antara kebisingan suara kendaraan bermotor yang
mondar-mandir tepat di hadapan kami, kucoba mencatat sepercik nasihatnya. Kendati
apa yang disampaikannya sudah kupahami, tapi tiada salahnya kuingat lagi.
“Menjalani hidup itu
santai sajalah, Nak. Yang penting berpasrah diri pada Allah serta tak pernah
alpa selalu berterima kasih pada-Nya.”
Tersenyum belaka aku
menanggapinya. Tentu aku sepakat dengan hal itu.
“Memiliki istri itu tak
perlu terlalu ayu, tapi mungkin lebih baik jika dia bekerja dan memiliki
penghasilan sendiri.”
Aku memang berharap
demikian, ucapku dalam hati. Entah dia bekerja sebagai pegawai, karyawati,
guru, seniwati, atau malah memiliki usaha mandiri. Perbincangan kami terhenti
karena giliran rambutku dicukur sudah tiba. Beliau sebenarnya mempersilakan aku
berkunjung ke rumahnya –yang tak jauh dari situ- untuk membahas apa saja.
Barangkali ada baiknya tawaran tersebut kuterima, siapa tahu bakal lebih nyaman
hatiku dan tertata pikiranku setelah memperoleh sejumlah pelajaran berharga
dari sang lelaki tua yang sarat pengalaman dalam menempuh lelikuan kehidupan.
Kuharap bisa terjadi dialog yang berkesan nanti, tapi hingga hari ini aku belum
pernah menjumpainya lagi.
Yogyakarta,
17 Oktober 2016
Kamis, 20 Oktober 2016
Tak Usah Kritisi yang Tak Paham
Tak usah kau kritisi hal yang tak bisa kau pahami.
(Bob Dylan adalah peraih Hadiah Nobel Sastra 2016, musisi pertama yang mendapatkannya)
Rabu, 19 Oktober 2016
Menulis Mencari Tahu
Kalau mau belajar, ya menulis. Karena dengan menulis kamu akan tahu apa yang tidak kamu ketahui dan juga tahu apa yang telah kamu ketahui. Dan dalam proses menulis itu, kamu akan mencari tahu apa-apa yang belum kamu ketahui. (Cak Nun)
Senin, 17 Oktober 2016
Menulis Itu Menghubungkan Berbagai Hal
Saya tidak dapat menganggap diri tahu bagaimana menulis itu sebaiknya dilakukan, atau tahu apakah kritik yang bijak memang bermaksud memperbaiki tulisan saya. Yang paling dapat saya lakukan adalah menghubungkan berbagai hal yang berkaitan dengan usaha-usaha saya sendiri.
(Bertrand Russel - filsuf Inggris, penerima Hadiah Nobel Sastra 1950)
Sabtu, 15 Oktober 2016
Sebersit Catatan Sederhana - Tentang Penulis
Sepanjang yang kutahu, sejumlah teman penulis sudah memiliki profesi lain yang mampu membuat hati senantiasa tenteram karena keperluan hidup sehari-harinya telah tercukupi dengan baik. Ada yang menjadi manajer di sebuah restoran cepat saji bermerek internasional. Ada yang bekerja sebagai arsitek, merancang pembangunan rumah mewah dan gedung bertingkat. Ada yang merupakan pemimpin redaksi sebuah media cetak terkemuka di kotanya. Ada pula yang masih berstatus mahasiswa dan tinggal di tempat kos, namun berasal dari keluarga kaya yang tinggal di luar Jawa sana. Menulis cerita pendek atau puisi barangkali menjadi semacam ruang katarsis di antara aneka kesibukan mereka yang membuat penat dan kadang menjemukan. Ketika karya mereka akhirnya kerap dimuat di banyak media cetak, honor hanya menjadi sesuatu yang tidak secara signifikan menambah pendapatan, karena setiap bulannya penghasilan dari pekerjaan utama mereka sudah relatif besar. Bisa jadi jika honornya tidak ditransfer ke rekening tabungan mereka pun sama sekali tak masalah.
Tentu berbeda denganku yang belum mempunyai penghasilan yang memadai sekadar untuk kebutuhan primer. Pekerjaan tetapku ala kadarnya mendatangkan rezeki, selebihnya kadang membantu teman di sana-sini. Menulis cerpen merupakan salah satu upayaku untuk menjemput rezeki yang lebih apik. Namun tak kusesali sama sekali hal itu, toh masih banyak yang masih dapat kusyukuri dari semua yang kumiliki. Dengan baju yang tak pernah baru, telepon seluler yang sudah enam tahun belum pernah diganti, dan sepeda motor yang sudah lebih lima belas tahun mendampingi langkahku, rasa-rasanya penampilanku sudah terbilang sangat bersahaja ketimbang semua temanku yang pernah kujumpai. Apalagi jika mengingat bahwa setiap kali berinternet aku masih menggunakan jasa warung internet, sementara ada yang setiap kali ke kafe selalu membawa serta netbook-nya atau paling tidak masih bisa online ketika berada di rumah.
Maka menjadi kejutan tersendiri bagiku ketika pertama kali bertemu dengan seseorang yang karyanya pernah berkali-kali dimuat di sejumlah koran nasional itu. Bahkan salah satu cerpennya termasuk ke dalam sebuah buku cerpen pilihan koran terkemuka. Sehabis kubaca cerpen-cerpen karyanya di koran dengan bahasa langitnya yang indah, maupun komentar-komentar kritisnya atas cerpen teman-temannya di facebook, terwujudlah sebuah sosok yang baru bersemayam dalam otakku semata tentang dirinya. Seorang laki-laki yang begitu serius, angkuh, tidak peduli perasaan orang, dan tampaknya bukan tipe orang yang ingin kukenal. Apa yang ada kemudian di depan mataku ternyata sangat jauh tak sama dengan angan-anganku. Dia hanyalah pemuda yang sangat rendah hati dengan penampilan yang bersahaja sekali. Ketika kulihat dia menggunakan telepon selulernya, sepertinya sama lawasnya dengan milikku. Dan bahkan kendaraannya malah lebih sederhana ketimbang punyaku. Dia hanya naik sepeda onthel yang kuyakin tidak baru dan jika dijual lagi harganya pun pasti murah.
Usianya memang jauh lebih muda dariku, namun rasanya kami masih pantas dibilang seumuran, karena dia tampak lebih dewasa ketimbang usianya. Tapi ketika kami bercakap ngalor-ngidul, memang ada hal-hal yang menunjukkan bahwa aku layak lebih dulu hadir di muka bumi ini. ”Saya menulis cerpen hanya untuk mencari uang. Itulah motivasi terbesar saya sesungguhnya. Yang jelas, tiada sama sekali niat mau jadi orang terkenal yang senang bila sering dipuji-puji orang lain,” katanya dengan percaya diri. Mungkin karena kesederhanaan hidupnya yang luar biasa, maka layak saja jika dia mendapatkan itu semua dalam waktu singkat. Aku mungkin masih terlalu banyak merasakan kenikmatan, kurang rekasa hidupnya, dan tidak pernah merasakan penderitaan seperti halnya dia.
Yogyakarta, awal Juli 2010
# pernah dimuat di www.kompasiana.com pada 15 Juli 2010.
# pernah dimuat di www.kompasiana.com pada 15 Juli 2010.
Kamis, 13 Oktober 2016
Apa yang Diharapkan Pembaca
Saya tidak tahu apa yang diharapkan pembaca. Saya pikir, penulis harus menulis apa yang tidak diharapkan pembaca. Masalahnya bukan untuk meminta apa yang mereka perlukan, melainkan untuk mereka. (Umberto Eco)
Langganan:
Postingan (Atom)

