Sabtu, 27 Februari 2010

Anugerah Kecerdasan dan Pengetahuan (Kahlil Gibran)

Tuhan telah menganugerahkan kecerdasan dan pengetahuan kepadamu. Janganlah kamu padamkan pelita cinta itu dan jangan biarkan lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan kesalahan, karena orang yang bijak mendekati manusia dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.(Kahlil Gibran)

Selasa, 02 Februari 2010

Menulis Perlu Keikhlasan

Menurut Prof.Suminto A.Sayuti, menulis itu pun perlu keikhlasan. Jika sedang tidak bisa menulis kok dipaksakan, nanti jadinya ibarat onani, hasilnya hanya sampah. Itulah salah satu hal yang dapat kucatat dari acara Bincang-Bincang Sastra edisi Januari 2010 yang berlangsung hari Minggu (31/1) di ruang seminar TBY. Malam itu merupakan saat peluncuran buku ’Menggambar Angin’ - dokumentasi 70 puisi Hari Leo AER, seorang seniman multibakat Jogja, yang merupakan pionir utama acara BBS, yang telah berlangsung lebih dari 50 kali. Aku sendiri sepertinya baru untuk kelima kalinya mengikuti acara tersebut.

Sebagai wujud apresiasi untuk Hari Leo AER, maka ditampilkan sejumlah puisi karya beliau yang dibaca oleh aktor Whani Dharmawan dan sejumlah nama (maaf, tidak hafal), serta musikalisasi puisi oleh Untung Basuki dan dua komunitas seni mahasiswa. Aku setuju bahwa mestinya sudah saatnya ada penghargaan khusus dari pemerintah untuk Hari Leo AER, atas kerja keras dan dedikasi penuhnya terhadap perkembangan seni budaya di Yogyakarta.

Ulasan Prof.Suminto, guru besar dari UNY serta tanya jawab dengan beberapa orang cukup menambah wawasan pengetahuan para penggemar sastra yang hadir malam itu, termasuk bagiku sendiri pastinya. Sebagai bentuk penghormatanku bagi Mas Hari, kubelilah ’Menggambar Angin’ yang langsung ditandatangani oleh penulisnya. Sehabis itu aku sempat menyapa Mas Joni Ariadinata, redaktur majalah sastra Horison. Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, tapi sangat sedikit yang sempat tercetus. Sekali waktu, mungkin aku mesti berkunjung ke rumahnya, seperti yang pernah ditawarkannya kepadaku. Masih banyak jalan untuk terus belajar dan belajar.

Dengan Bahasa Cinta (Hari Leo AER)

Dengan bahasa cinta

kita pernah menawar malam

untuk tidak segera bergegas pulang


Yogya 2008

Sabtu, 16 Januari 2010

Seniman Berkesan Nyeleneh (Fariz RM)

Seniman – karena namanya berorientasi kreativitas - memiliki pendapat dan gagasan yang berbeda dari pemikiran umum. Parameter yang mereka gunakan tidak sama dengan banyak orang, sehingga berkesan nyeleneh dan ingin bebas tak terikat di mata pendapat umum. (Fariz RM)

Rabu, 13 Januari 2010

Karya Sastra dan Makna Peristiwa (Ismet Fanany)

Karya sastra tidak hanya berkisah tentang manusia, tingkah lakunya atau tentang tempat, tapi juga merenung tentang makna sebuah peristiwa, tentang akibat tingkah laku manusia. (Ismet Fanany)

Rabu, 06 Januari 2010

Wajah Jogja Rada Beda dengan Biennale Jogja X


Sejak pertengahan Desember 2009 silam hingga minggu kedua Januari 2010 ada pemandangan yang berbeda di berbagai penjuru Yogyakarta. Di seputar titik nol saja, yaitu antara Benteng Vredeburg, Istana Gedung Agung, hingga perempatan Kantor Pos Besar dan BNI, ada sejumlah karya yang tersaji. Ada patung-patung yang aneh atau poster lukisan berukuran raksasa. Lalu masih banyak pula yang terlihat, seperti di Malioboro, perempatan Jalan Senopati, pojok beteng wetan, bunderan UGM, dan lain-lain.

Keberadaan karya-karya seni rupa itu adalah dalam rangka Biennale Jogja X - 2009, pameran seni rupa besar-besaran setiap dua tahun. Biennale tahun 2009 diikuti lebih dari 300 seniman Jogja yang terdiri dari 126 perupa dan 6 kelompok seni yang hasil karyanya dipamerkan di empat pusat di Jogja yaitu TBY, Jogja National Museum (JNM), Sangkring Art Space dan Bank Indonesia. 197 seniman yang menyuguhkan hasil karyanya di ruang publik. Karya-karya di ruang-ruang publik ini berupa instalasi, mural kampung, street art, melukisi tanki air, karya master senirupa tradisional berusia sepuh, performance art, art project, respon kios PKL, melukisi toilet mobil, patung publik, banner, billboard dan videotronik.

Ketika Biennale Jogja X dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada Jumat malam, 11 Desember 2009 lalu, halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) terasa sesak karena begitu banyak seniman dan masyarakat umum yang menghadirinya.

Menyikapi tagline Biennale Jogja X - 2009 "Seni Agawe Santosa", Jero Wacik mengharapkan agar seni benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan bagi seniman. "Jangan sampai ada seniman besar dan dikagumi, tetapi hidupnya susah," ujarnya.

Jika masih ingin melihat ruang publik Jogja yang menjadi ajang pameran seni rupa, datang saja hingga 10 Januari 2010, saat Biennale X Jogja berakhir.

Sumber data : www.gudeg.net

Foto-foto oleh Langkah Bangkit S. dan dapat lebih banyak dilihat di www.luhursatya.multiply.com









Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.