Tampilkan postingan dengan label radar surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label radar surabaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2022

Mbah Jon Kangen Mati

 

Entah sudah berapa banyak orang saja, yang akrab dikenalnya, telah meninggalkan lelaki tua itu untuk selamanya. Mereka adalah orang-orang yang dicintainya. Ada istri pertama dan keduanya, anak pertama dan ketiganya, adik-adiknya, sejumlah keponakannya, juga mayoritas sahabatnya. Menurut perkiraannya sendiri, usianya sudah sembilan puluh enam tahun. Jelas sebuah usia yang sangat lanjut. Dan sudah semestinya orang akan bersyukur sekali dikaruniai kesempatan hidup di dunia yang begitu panjang. Namun tidak demikian yang terjadi pada lelaki tua bernama Karjono atau yang akrab dipanggil oleh khalayak dengan nama Mbah Jon.

“Aku sebetulnya sudah bosan hidup. Rasanya, aku sudah mendapatkan semuanya di dunia ini. Lha, orang-orang yang kukenal juga sudah terus berkurang. Termasuk mbah kakungmu saja sudah ndak ada lagi toh?” cetus Mbah Jon kepada Anto, salah satu cicitnya yang sebentar lagi menikah.
“Wah, Mbah Buyut Kakung itu harusnya ya bangga, dong! Saya yang cicitnya Mbah saja sebentar lagi menikah dan masih bisa dimenangi sama Mbah Buyut. Saya jelas senang dan bangga sekali, walaupun Mbah Kakung saya sendiri malah sudah lama wafat. Kita semua mesti bersyukur masih ada Mbah Buyut Kakung yang panjang umur dan sehat begini.”
“Ya, bukannya aku terus ndak bersyukur. Cuma aku kok rasanya sudah tambah kangen pengen merasakan mati toh?” kata Mbah Jon menerawang.
Anto hanya bisa diam, mencoba mengerti, namun ia tak kunjung memahami hasrat hati kakek buyutnya.

***
“Nuwun sewu, Mbah Jon ini kok lucu ya? Di mana-mana orang itu punya cita-cita panjang umur dan sehat terus, Mbah. Lha, panjenengan sudah diparingi itu semua, kok malah inginnya mati saja?” ujar Pak Jarwo, Ketua RT tempat Mbah Jon tinggal.
Kepada setiap orang yang sempat diajaknya bicara, Mbah Jon memang selalu mengungkapkan kerinduannya terhadap kematian. Termasuk saat ia melayat salah seorang tetangganya yang meninggal, lantas bertemu dengan Pak Jarwo maupun warga lainnya.

“Iya, Mbah Jon. Saya juga pengen banget bisa seperti Mbah yang sudah 90-an tahun umurnya, tapi masih bugar dan gagah begini,” tambah Pak Didin, tetangga Mbah Jon yang lain.
“Yah, kadang-kadang orang cuma bisa melihat yang lain, terus komentarnya, kok enak ya bisa begitu? Padahal kalau sudah dirasakan sendiri, ya ndak mesti senikmat yang dibayangkan sebelumnya,” sahut Mbah Jon sendu.
“Iya juga sih, Mbah. Tapi berapa banyak orang yang sudah tua dan sakit-sakitan? Pasti jumlahnya tidak sedikit. Seperti juga Eyang Roes ini, lebih dari lima tahun beliau hanya bisa berbaring sejak kena stroke, baru akhirnya dikersakke Gusti Allah meninggal sekarang,” ujar Pak Jarwo.
“Itulah, Pak RT. Saya terus terang malah iri sama Pak Roes. Lha, waktunya untuk saya itu terus kapan? Saya itu bakal seneng banget kalau bisa mati secepatnya.”
“Sudahlah, wong memang belum waktunya Mbah Jon meninggal dan masih bisa merasakan hidup di dunia. Jadi, nikmati dan santai sajalah, Mbah,” hibur Pak Didin.

Begitu dalam keinginan Mbah Jon untuk sampai pada peristiwa kematiannya sendiri, bahkan mungkin sudah menjadi semacam obsesi. Namun tentunya masih ada alasan yang tak selalu bisa kita pahami, andaikata Tuhan memang masih menghendakinya bernapas di atas buana. Mbah Jon justru merasa sudah tak mempunyai cukup alasan untuk hidup lebih lama. Semua hal yang bersifat kebendaan toh telah diperolehnya, sementara sudah tiada lagi hasratnya memiliki apa-apa di muka bumi. Yang pokok baginya, ia sudah ingin sekali merasakan mati, lantas bisa kembali bertemu dengan orang-orang tercintanya. Merekalah yang menjadi tujuan kerinduan dan pengobar semangat hidup Mbah Jon di dunia selama ini.

***
Betapa terobsesinya Mbah Jon untuk mendekatkan dirinya dengan kematian, hingga suatu kali ia membuat sebuah kehebohan. Malam itu kampung tempat tinggalnya geger, ketika anak cucu Mbah Jon tidak menemukan dirinya di seluruh penjuru tempat tinggalnya. Mbah Jon hilang dari rumahnya! Warga pun segera dikumpulkan oleh Ketua RT.

“Terus terang kami khawatir jika Mbah Kakung mengambil jalan pintas. Beliau itu soalnya sudah ingin sekali meninggal. Apa bapak-bapak bisa menduga, kira-kira Mbah Kakung ada di mana?” tanya Banu, salah satu cucu Mbah Jon di depan warga.
“Apa kita coba saja mulai mencarinya dari kuburan? Siapa tahu Mbah Jon ada di sana?” usul Pak Jarwo.
“Ide yang bagus, Pak RT! Kuburan kan tempat tinggalnya orang mati, mungkin sekali Mbah Jon ada di sana!” seru seorang warga yang disambut suara-suara setuju.

Maka beberapa anggota keluarga Mbah Jon beserta sejumlah warga beranjak menuju makam terdekat. Ternyata dugaan itu benar adanya. Mereka menemukannya tengah pulas terlelap di keranda yang terletak di sebuah sudut kuburan. Anak cucu Mbah Jon membangunkannya, lantas mengajaknya pulang untuk tidur di rumah saja. Dengan berat hati, lelaki tua tersebut menuruti apa kata mereka.

“Mbah Jon itu kok ada-ada saja ya? Padahal di luar negeri itu ada terapi baru, tidur di tempat semacam keranda itu justru untuk kesehatan. Katanya tidur di situ lebih tenang dan malah bisa memperpanjang umur. Begitu yang kemarin sempat saya lihat di televisi,” ungkap Pak Nadir, salah satu warga saat melihat proses pemulangan Mbah Jon.

“Wah, Mbah Jon pasti tidak tahu hal itu. Jangan-jangan, beliau malah umurnya tambah panjang setelah tidur di keranda,” komentar Pak Didin yang disambut senyuman orang-orang yang mendengarnya.

Sejak peristiwa malam itu, keluarga Mbah Jon berusaha benar menjaganya untuk tidak sampai melakukan hal-hal aneh lainnya, karena keberadaannya masih sangat berharga dalam keluarga. Hingga suatu hari ada tetangga Mbah Jon yang kesripahan lagi. Ruli, anak perempuan Pak Didin yang baru berusia tiga puluh tahun meninggal dunia terkena serangan jantung.

“Walah, bahagianya ya Nak Ruli ini. Masih muda sekali sudah merasakan mati,” celetuk Mbah Jon saat datang melayat.
“Sst, Mbah Kakung jangan ngendika seperti itu toh! Pak Didin dan keluarganya pasti sedih sekali dengan kematian Ruli,” ujar Banu yang mengantar kakeknya.
“Le, aku itu cuma bicara sendiri kok. Aku nanti pasti juga bakal ngomong ikut bela sungkawa sama Pak Didin dan keluarganya,” sahut Mbah Jon rada tersinggung.

***
Sepulangnya ke rumah, Mbah Jon kembali kepikiran dengan niatnya ingin segera mati. Sepertinya ia tidak sudi lagi untuk terus menanti, sudah habislah kesabarannya selama ini. Orang-orang tercintanya yang telah tiada seakan terus merayunya untuk segera bergabung dengan mereka di alam sana. Mbah Jon pun mantap memutuskan mengakhiri hidup dengan menggantung tubuhnya pada sebuah pohon besar di halaman belakang rumahnya. Dengan kondisi fisik yang masih baik, ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri. Hal itu dilakukannya menjelang siang, ketika orang-orang serumahnya tengah sibuk dan tidak ada yang sempat memerhatikan dirinya. Maka terwujudlah kerinduan Mbah Jon pada kematian dengan suatu jalan pintas. Sebuah obsesi pun akhirnya telah tuntas.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Radar Surabaya Minggu, 20 Januari 2013.

Minggu, 30 April 2017

Dilema Nesya

Belum pernah Nesya berada dalam situasi maupun kondisi sebagaimana akhir-akhir ini. Sebuah dilema tengah dihadapi sang gadis demi menentukan masa depannya. Dua lelaki yang mencintainya mesti dia pilih salah satu sebagai pendamping hidupnya. Nesya sungguh tak ingin hari-harinya mendatang sarat kisah tak bahagia, lantaran sesal kemudian adalah kesia-siaan belaka. Ia mesti mempertimbangkan segala yang diketahuinya tentang mereka dengan logika, tapi tentu dengan menyimak pula kata sanubarinya.
Lelaki pertama yang bernama Bryan berasal dari sebuah keluarga kaya yang dikenal murah hati, meski adakalanya agak tinggi hati. Orangtua Nesya sudah lama berteman baik dengan ayah ibu Bryan yang kini telah tiada keduanya. Namun, gadis itu tak terlalu mengakrabi Bryan, kendati mereka saling mengenal sejak bocah. Secara kasat mata, anak orang kaya itu mungkin lelaki idaman banyak perempuan. Bryan berwajah tampan, mewarisi harta kekayaan yang lebih dari cukup jumlahnya, sehingga apa saja yang diminta istrinya kelak, pastilah dia mampu membelikannya. Sayangnya, ada sikap Bryan yang tak disukai Nesya. Lelaki itu mudah tersinggung dan menjadi sosok yang menakutkan jika marah. Rhea, sahabatnya, yang memberitahunya karena sepupunya pernah menjadi kekasih Bryan. Maka Nesya sangat berhati-hati saban berbincang dengan si lelaki tampan. Dia tidak pernah merasa nyaman berada di dekat Bryan, biarpun lelaki itu selalu membawakan buah tangan dan mendapat sambutan hangat orangtuanya.
          Lelaki kedua bernama Jaka. Tidak terlalu ganteng, tapi berbicara dengan lelaki kurus itu senantiasa menyenangkan hati Nesya. Dia humoris dan memiliki hal-hal yang menarik untuk diceritakan. Setahu Nesya, Jaka merupakan pekerja keras hingga bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada orangtuanya lagi secara ekonomi. Ayah Jaka telah tutup usia, sementara ibunya hidup bersahaja dengan uang pensiun peninggalan suaminya. Ketika usahanya mulai berkembang, Jaka mampu membantu memenuhi keperluan sehari-hari ibu maupun adik-adiknya. Ibunya bahkan diberi modal membuka warung kelontong kecil di rumahnya yang bisa memperbaiki perekonomian keluarga.

***
          “Bapak dan Ibu, saya bebas memilih Kak Bryan atau Kak Jaka untuk mendampingi hidup saya, bukan?” tanya Nesya meminta nasihat orangtuanya.
          “Iya, Nak. Terserah kau yang mengambil keputusan terbaik demi masa depanmu. Yang jelas, Bapak lebih mengenal Nak Bryan. Tapi sepertinya Nak Jaka pun lelaki yang bertanggung jawab. Yang perlu kau ingat, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing,” sahut Bapak.
          “Siapa pun yang kau pilih, mudah-mudahan dia yang terbaik bagimu dan hidup kalian bakal bahagia. Sudah pasti Ibu selalu memberikan doa restu padamu, Nesya sayang.”
          Nesya lega mendapat dukungan positif dari orangtuanya. Ia memutuskan memilih Jaka sebagai calon suaminya. Namun, gadis itu rada khawatir ketika harus menolak Bryan. Nesya pun meminta saran Jaka.
          “Kau minta saja Bryan datang kemari dan katakan padanya dengan terus terang. Tapi kau tak perlu seorang diri menghadapinya. Mintalah Bapak dan Ibu menemanimu. Jika kau tak keberatan, aku juga akan hadir mendampingimu,” ucap Jaka.
          “Terima kasih, Kak. Semoga hal itu bisa menjadi solusi yang baik.”
          Peristiwa selanjutnya berjalan sesuai dengan skenario yang dirancang Jaka. Di depan dara dambaannya yang duduk di antara orangtua dan calon suaminya, Bryan berusaha menerima sebuah kenyataan pahit dengan berbasa-basi.
          “Jika demikian adanya, saya ucapkan selamat untuk Saudara Jaka yang sudah dipilih Dik Nesya menjadi pendamping hidupnya. Moga-moga kalian hidup bahagia hingga lanjut usia.”
          “Terima kasih untuk kebesaran hati dan doanya. Mudah-mudahan Kak Bryan mendapatkan jodoh yang lebih baik ketimbang saya,” kata Nesya hati-hati karena melihat raut wajah Bryan yang tampak memucat, meski lelaki itu berusaha tetap tersenyum.

***
          Kendati di hadapan Nesya tampaknya Bryan telah rela melepas perempuan yang dicintainya, ternyata kemasygulan masih tersisa dalam hatinya. Ia tak mau begitu saja membiarkan Jaka dengan mudahnya menikahi Nesya. Dimintanya saran dari Saprino, sahabat lawasnya yang menjadi tangan kanannya dalam menjalankan usahanya.
          “Serahkan saja semua padaku. Bos tinggal duduk manis menanti hasilnya,” ujar Saprino percaya diri.
          “Apa rencanamu sebenarnya? Tapi tolong ya, aku tak mau ada kekerasan yang berpotensi jadi urusan polisi nanti,” sahut Bryan yang mencoba tetap rasional.
          “Tenang saja, kita tidak akan main kasar. Aku pasti jaga nama baikmu, Bos.”
          Maka mulai dijalankanlah rencana Saprino. Tentu Bryan berharap rencana pernikahan Nesya dan Jaka bisa digagalkan. Ia siap melakukan upaya pendekatan lagi terhadap sang gadis, sekiranya apa yang dilakukan Saprino berhasil.

***
          Nesya suatu hari menerima beberapa pesan di ponselnya dari nomor-nomor yang tidak dikenalnya. Berlanjut pada hari sesudahnya, dia pun menerima tiga surat yang tidak tertulis nama pengirimnya. Namun, isinya rata-rata hampir sama. Seluruh pesan dan surat tersebut mengabarkan hal-hal buruk mengenai Jaka, lelaki yang akan menikahinya. Ada yang isinya memberitahu bahwa Jaka pernah menghamili pacarnya dan memaksanya melakukan aborsi. Ada pula yang meminta Nesya membatalkan pernikahannya karena Jaka hanyalah lelaki pendusta. Bahkan ada foto yang memperlihatkan Jaka sedang berciuman dengan seorang perempuan dan masih ada beberapa informasi lainnya yang membuat Nesya terperangah. Semua orang yang dekat dengan sang gadis menyarankannya agar tidak memedulikan berita yang sumbernya tak jelas tersebut. Nesya lama-lama sedikit terpengaruh. Dia ingin Jaka bisa memberikan klarifikasi terhadap isi pesan dan surat yang diperolehnya.
          “Sayang, apakah kau kenal satu atau beberapa orang yang memberitahumu macam-macam tentang diriku itu?” tanya Jaka dengan sabar.
          “Tak ada satu pun yang kutahu, Kak,” jawab Nesya pelan.
          “Apakah wajar kau percayai kata-kata orang yang bahkan kau tak tahu mereka itu siapa?”
          “Iya, Kak. Pastinya lebih baik kupercayai orang yang kukenal dengan baik, seperti calon suamiku ini. Apa gunanya ya, kupercayai seluruh kabar tak jelas itu?” Ucapan Nesya membuat Jaka tersenyum lega.
          Upaya Saprino -demi ambisi Bryan- untuk mengusik rencana pernikahan Nesya dan Jaka ternyata tidak efektif. Dua sejoli itu terus melanjutkan rencananya mempersiapkan momentum berharga dalam hidup mereka. Bryan akhirnya berbesar hati menerima fakta bahwa Nesya memang bukanlah miliknya dan bahkan siap menghadiri pernikahan perempuan yang pernah didambanya. Ia terkesan dengan kehangatan sikap Jaka yang secara khusus mendatangi rumahnya untuk mengantarkan undangan pernikahannya. Kemantapan hati Nesya memilih Jaka pun mengakhiri dilema yang sempat menderanya. Ia telah bersedia seia sekata melakoni sisa hidupnya di muka bumi bersama lelaki kurus itu.

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya, 30 April 2017. 


Senin, 10 Oktober 2016

Sudut Pandang Selena

Cerpen Luhur Satya Pambudi (Radar Surabaya, 9 Oktober 2016)

Selena sejenak menerawang kembali ke masa bocahnya. Sang empunya wajah ayu tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi dahulu. Usianya masih sembilan tahun waktu pertama kali melihat lelaki itu. Sepertinya belum ada perasaan apa-apa karena dia masih bocah nan lugu. Setahun berikutnya, Selena menyadari perubahan yang terjadi. Anehnya, dia mulai terkesan pada pemuda yang lebih tua belasan tahun ketimbang dirinya dan pernah menjadi teman sepermainan pamannya saat bocah. Selena diam-diam mengagumi lelaki yang dikenalnya sebagai Satrio atau Mas Rio. Biasanya dia bertemu dengan Satrio di dekat rumah kakeknya. Di situ, saban tahunnya pernah ada acara yang diadakan dalam rangka Hari Anak Nasional yang selalu melibatkan anak cucu warga setempat. Selena maupun adiknya selalu datang ke rumah kakeknya setiap acara itu diselenggarakan, meski mereka tinggal bersama kedua orangtuanya. Satrio senantiasa aktif sebagai panitia yang mengurus beberapa lomba dan biasanya mengiringi anak-anak bernyanyi dengan kibordnya. Selena sendiri tercatat pernah memenangkan lomba lukis maupun beberapa lomba lainnya. Hal itu menjadi kenangan manis bagi sang gadis.

***
            Sekian tahun berlalu, Selena baru bertemu muka lagi dengan Satrio. Gadis berusia delapan belas tahun itu kini berparas rupawan, berkulit kuning langsat, dengan tinggi tubuh yang cukup menjulang. Ke mana saja dia melangkah biasanya mengundang perhatian orang. Apalagi Selena merupakan gadis yang ramah dan sopan pula. Perjumpaan Selena dengan Satrio terjadi di rumah kakek Selena yang malam itu menjadi tempat pertemuan RT. Riang hati Selena melihat Satrio kembali sesudah bertahun-tahun mereka tak pernah saling memandang. Sebelumnya, mereka hanya sempat berkomunikasi melalui jejaring sosial. Setahu Selena, Satrio masih melajang di usianya yang mungkin sudah sekitar tiga puluhan.
Semula Selena sebatas tersenyum sendiri menyaksikan wajah simpatik Satrio di antara tamu undangan. Namun ketika dia dan lelaki itu saling bertatapan, mereka pun spontan tersenyum bersamaan. Selena malah sempat berjalan mendekati tempat Satrio duduk karena dia memang bertugas membantu neneknya menyajikan hidangan. Senyuman mereka berdua kian lebar ketika posisi mereka tak lagi jauh jaraknya. Memandangi lelaki itu seakan mengingatkan Selena kembali pada masa silam. Bagaikan dilihatnya sosok Satrio yang pernah menarik perhatiannya sekian tahun berselang. 
            ”Selena sekarang sudah lulus SMA, ya? Mau melanjutkan ke mana rencananya?” tanya Satrio ketika acara telah usai dan para tamu mulai meninggalkan rumah tersebut.
            ”Iya, Mas Rio. Saya inginnya sih kuliah di Arsitektur. Doakan saya ya, Mas.” Selena menjawabnya dengan wajah berseri-seri. Matanya berbinar-binar dan senyuman indah menghiasi bibir tipisnya.
            ”Iya, deh. Semoga berhasil, Selena.”
            “Makasih, Mas Rio.”
Perbincangan singkat itu ternyata meninggalkan kesan yang membekas di benak Selena. Lambat laun si cantik menumbuhkan asa, siapa tahu Satrio sudi lebih intensif mendekati dirinya. Mereka kemudian beberapa kali berkomunikasi, baik lewat jejaring sosial maupun sms. Selena memang tidak menolak ketika Satrio meminta nomor ponselnya. Ada sejumlah wujud perhatian spesial yang lantas diterimanya dari lelaki itu. Selena cukup bersukacita menerimanya. Meski selama ini sudah banyak kawan lelakinya yang memerhatikan dirinya, tapi apa yang diberikan oleh Satrio terasa tak sama. Adakalanya Selena dan Satrio bertemu kembali tanpa rencana. Namun mereka saling tersenyum belaka dari kejauhan, tidak berkata apa-apa.
Selena begitu tersanjung ketika mengetahui Satrio ternyata pernah menulis cerpen yang tokoh utamanya bernama sama dengan dirinya. Cerpen itu bahkan sempat dimuat di sebuah majalah remaja terbitan ibukota, begitu kata Satrio. Dia tersenyum senang saat membaca cerpen yang dibacanya lewat file yang dikirim Satrio via email. Dalam cerpen itu dikisahkan ada gadis bernama Selena yang memiliki seorang pemuja rahasia yang berupaya menarik perhatiannya. 
Namun lama-lama Selena merasa tidak ada langkah maju yang nyata dari lelaki itu. Bahkan Satrio belum pernah sekali pun menyatakan keinginannya untuk mengunjungi rumahnya atau mengajaknya pergi entah ke mana. Lagi pula mereka malah tinggal berjauhan sekian pekan kemudian. Selena akhirnya diterima di jurusan Arsitektur -sesuai asanya- pada sebuah universitas yang lokasinya sedikit berada di luar kotanya. Atas seizin kedua orangtuanya, dia memilih tinggal di kos-kosan yang dekat dengan kampusnya. Selena jadi berpikir, apakah sebenarnya dia sedang dijauhkan dari sosok Satrio?

***
            Masa kuliah menjadi lembaran baru dalam hidup Selena. Dia pun mulai membuka diri terhadap para lelaki yang mencoba mendekatinya. Ayah ibunya telah merestuinya memiliki kekasih, berbeda dengan saat Selena masih duduk di bangku SMA. Sebenarnya ketika masa sekolah pun ada sejumlah teman lelaki yang cukup menarik perhatian si cantik. Namun dia cuma menganggap mereka semua sebagai kawan biasa. Pantas sajalah jika begitu banyak kumbang yang berhasrat menjadi kekasih dari bunga nan indah dan wangi selayaknya Selena.
Kehidupan di kampus membuka wawasan baru dalam pemikiran dan perasaan Selena. Tentu saja, jadi lebih banyak lelaki yang menjadi penggemarnya pula. Sekian bulan menjadi mahasiswi, Selena akhirnya justru memutuskan menerima pernyataan cinta kakak kelasnya satu jurusan. Semula dia terkesan dengan kepandaian lelaki itu dalam membantunya menyelesaikan tugas dari para dosen. Nyaman hati Selena saban berada di dekat lelaki yang tubuhnya lebih tinggi ketimbang dirinya dan cakap sekali memainkan gitar itu.
Serta-merta mudah saja dilupakannya figur Mas Rio, lelaki yang pernah peduli terhadap dirinya, membuat hatinya sempat berbunga-bunga, namun tak kunjung memberi sikap yang pasti kepadanya. Terakhir dia mendengar kabar, Satrio telah merilis buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Hikayat Pemuja Rahasia, yang tokoh utamanya bernama Selena. Gadis ayu itu tersenyum simpul belaka.