Tampilkan postingan dengan label 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2013. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2022

Mbah Jon Kangen Mati

 

Entah sudah berapa banyak orang saja, yang akrab dikenalnya, telah meninggalkan lelaki tua itu untuk selamanya. Mereka adalah orang-orang yang dicintainya. Ada istri pertama dan keduanya, anak pertama dan ketiganya, adik-adiknya, sejumlah keponakannya, juga mayoritas sahabatnya. Menurut perkiraannya sendiri, usianya sudah sembilan puluh enam tahun. Jelas sebuah usia yang sangat lanjut. Dan sudah semestinya orang akan bersyukur sekali dikaruniai kesempatan hidup di dunia yang begitu panjang. Namun tidak demikian yang terjadi pada lelaki tua bernama Karjono atau yang akrab dipanggil oleh khalayak dengan nama Mbah Jon.

“Aku sebetulnya sudah bosan hidup. Rasanya, aku sudah mendapatkan semuanya di dunia ini. Lha, orang-orang yang kukenal juga sudah terus berkurang. Termasuk mbah kakungmu saja sudah ndak ada lagi toh?” cetus Mbah Jon kepada Anto, salah satu cicitnya yang sebentar lagi menikah.
“Wah, Mbah Buyut Kakung itu harusnya ya bangga, dong! Saya yang cicitnya Mbah saja sebentar lagi menikah dan masih bisa dimenangi sama Mbah Buyut. Saya jelas senang dan bangga sekali, walaupun Mbah Kakung saya sendiri malah sudah lama wafat. Kita semua mesti bersyukur masih ada Mbah Buyut Kakung yang panjang umur dan sehat begini.”
“Ya, bukannya aku terus ndak bersyukur. Cuma aku kok rasanya sudah tambah kangen pengen merasakan mati toh?” kata Mbah Jon menerawang.
Anto hanya bisa diam, mencoba mengerti, namun ia tak kunjung memahami hasrat hati kakek buyutnya.

***
“Nuwun sewu, Mbah Jon ini kok lucu ya? Di mana-mana orang itu punya cita-cita panjang umur dan sehat terus, Mbah. Lha, panjenengan sudah diparingi itu semua, kok malah inginnya mati saja?” ujar Pak Jarwo, Ketua RT tempat Mbah Jon tinggal.
Kepada setiap orang yang sempat diajaknya bicara, Mbah Jon memang selalu mengungkapkan kerinduannya terhadap kematian. Termasuk saat ia melayat salah seorang tetangganya yang meninggal, lantas bertemu dengan Pak Jarwo maupun warga lainnya.

“Iya, Mbah Jon. Saya juga pengen banget bisa seperti Mbah yang sudah 90-an tahun umurnya, tapi masih bugar dan gagah begini,” tambah Pak Didin, tetangga Mbah Jon yang lain.
“Yah, kadang-kadang orang cuma bisa melihat yang lain, terus komentarnya, kok enak ya bisa begitu? Padahal kalau sudah dirasakan sendiri, ya ndak mesti senikmat yang dibayangkan sebelumnya,” sahut Mbah Jon sendu.
“Iya juga sih, Mbah. Tapi berapa banyak orang yang sudah tua dan sakit-sakitan? Pasti jumlahnya tidak sedikit. Seperti juga Eyang Roes ini, lebih dari lima tahun beliau hanya bisa berbaring sejak kena stroke, baru akhirnya dikersakke Gusti Allah meninggal sekarang,” ujar Pak Jarwo.
“Itulah, Pak RT. Saya terus terang malah iri sama Pak Roes. Lha, waktunya untuk saya itu terus kapan? Saya itu bakal seneng banget kalau bisa mati secepatnya.”
“Sudahlah, wong memang belum waktunya Mbah Jon meninggal dan masih bisa merasakan hidup di dunia. Jadi, nikmati dan santai sajalah, Mbah,” hibur Pak Didin.

Begitu dalam keinginan Mbah Jon untuk sampai pada peristiwa kematiannya sendiri, bahkan mungkin sudah menjadi semacam obsesi. Namun tentunya masih ada alasan yang tak selalu bisa kita pahami, andaikata Tuhan memang masih menghendakinya bernapas di atas buana. Mbah Jon justru merasa sudah tak mempunyai cukup alasan untuk hidup lebih lama. Semua hal yang bersifat kebendaan toh telah diperolehnya, sementara sudah tiada lagi hasratnya memiliki apa-apa di muka bumi. Yang pokok baginya, ia sudah ingin sekali merasakan mati, lantas bisa kembali bertemu dengan orang-orang tercintanya. Merekalah yang menjadi tujuan kerinduan dan pengobar semangat hidup Mbah Jon di dunia selama ini.

***
Betapa terobsesinya Mbah Jon untuk mendekatkan dirinya dengan kematian, hingga suatu kali ia membuat sebuah kehebohan. Malam itu kampung tempat tinggalnya geger, ketika anak cucu Mbah Jon tidak menemukan dirinya di seluruh penjuru tempat tinggalnya. Mbah Jon hilang dari rumahnya! Warga pun segera dikumpulkan oleh Ketua RT.

“Terus terang kami khawatir jika Mbah Kakung mengambil jalan pintas. Beliau itu soalnya sudah ingin sekali meninggal. Apa bapak-bapak bisa menduga, kira-kira Mbah Kakung ada di mana?” tanya Banu, salah satu cucu Mbah Jon di depan warga.
“Apa kita coba saja mulai mencarinya dari kuburan? Siapa tahu Mbah Jon ada di sana?” usul Pak Jarwo.
“Ide yang bagus, Pak RT! Kuburan kan tempat tinggalnya orang mati, mungkin sekali Mbah Jon ada di sana!” seru seorang warga yang disambut suara-suara setuju.

Maka beberapa anggota keluarga Mbah Jon beserta sejumlah warga beranjak menuju makam terdekat. Ternyata dugaan itu benar adanya. Mereka menemukannya tengah pulas terlelap di keranda yang terletak di sebuah sudut kuburan. Anak cucu Mbah Jon membangunkannya, lantas mengajaknya pulang untuk tidur di rumah saja. Dengan berat hati, lelaki tua tersebut menuruti apa kata mereka.

“Mbah Jon itu kok ada-ada saja ya? Padahal di luar negeri itu ada terapi baru, tidur di tempat semacam keranda itu justru untuk kesehatan. Katanya tidur di situ lebih tenang dan malah bisa memperpanjang umur. Begitu yang kemarin sempat saya lihat di televisi,” ungkap Pak Nadir, salah satu warga saat melihat proses pemulangan Mbah Jon.

“Wah, Mbah Jon pasti tidak tahu hal itu. Jangan-jangan, beliau malah umurnya tambah panjang setelah tidur di keranda,” komentar Pak Didin yang disambut senyuman orang-orang yang mendengarnya.

Sejak peristiwa malam itu, keluarga Mbah Jon berusaha benar menjaganya untuk tidak sampai melakukan hal-hal aneh lainnya, karena keberadaannya masih sangat berharga dalam keluarga. Hingga suatu hari ada tetangga Mbah Jon yang kesripahan lagi. Ruli, anak perempuan Pak Didin yang baru berusia tiga puluh tahun meninggal dunia terkena serangan jantung.

“Walah, bahagianya ya Nak Ruli ini. Masih muda sekali sudah merasakan mati,” celetuk Mbah Jon saat datang melayat.
“Sst, Mbah Kakung jangan ngendika seperti itu toh! Pak Didin dan keluarganya pasti sedih sekali dengan kematian Ruli,” ujar Banu yang mengantar kakeknya.
“Le, aku itu cuma bicara sendiri kok. Aku nanti pasti juga bakal ngomong ikut bela sungkawa sama Pak Didin dan keluarganya,” sahut Mbah Jon rada tersinggung.

***
Sepulangnya ke rumah, Mbah Jon kembali kepikiran dengan niatnya ingin segera mati. Sepertinya ia tidak sudi lagi untuk terus menanti, sudah habislah kesabarannya selama ini. Orang-orang tercintanya yang telah tiada seakan terus merayunya untuk segera bergabung dengan mereka di alam sana. Mbah Jon pun mantap memutuskan mengakhiri hidup dengan menggantung tubuhnya pada sebuah pohon besar di halaman belakang rumahnya. Dengan kondisi fisik yang masih baik, ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri. Hal itu dilakukannya menjelang siang, ketika orang-orang serumahnya tengah sibuk dan tidak ada yang sempat memerhatikan dirinya. Maka terwujudlah kerinduan Mbah Jon pada kematian dengan suatu jalan pintas. Sebuah obsesi pun akhirnya telah tuntas.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Radar Surabaya Minggu, 20 Januari 2013.

Minggu, 05 September 2021

Sudah Cukup Suka Cita

 

Hari ini sudah cukup suka cita
Hanya dengan kuperhatikan paras ayumu,
juga rambut panjang indahmu, serta tawa lucumu
Belum jemu daku padamu dan tak kuinginkan itu

Jika insan tengah jatuh cinta, maka segala hal tentang dirinya yang telah mencuri hati memang indah senantiasa terasa, bahkan untuk sesuatu yang begitu bersahaja sekalipun. Begitulah yang sedang terjadi pada Jannu sejak dia datang ke rumah Aretha dua pekan berselang, pada masa pertengahan liburan akhir semester. Tak masalah bagi dirinya bahwa ketika itu sang dara mengaku tak mengenal dirinya. Maklumlah, Jannu memang bukan mahasiswa yang cukup populer di kampusnya. Yang terpenting, mereka kini sudah mengenal satu sama lain. Jannu sesungguhnya sudah tertarik kepada Aretha sejak gadis berparas ayu itu menjadi mahasiswi baru dan kebetulan dia menjadi salah satu panitia OSPEK. Uniknya, Jannu menjadi panitia bukan karena kemauannya sendiri, melainkan karena diajak oleh Novi yang sempat ditaksirnya sejak setahun sebelumnya. Dia bersedia karena dikiranya hal itu bisa menjadi kesempatannya untuk lebih dekat dengan Novi. Dalam masa persiapan menjelang OSPEK, Jannu justru mendengar kabar bahwa teman yang disukainya baru jadian dengan Dimas, mahasiswa fakultas lain yang merupakan teman Novi sesama aktivis kampus di tingkat universitas. Peristiwa itu menggoreskan sebersit luka di kalbu Jannu. Dia tak terlalu antusias lagi bertugas sebagai panitia OSPEK.

Jadi, memang baru sakit hati Jannu ketika terantuk pada wajah Aretha dengan binar mata indah, hidung bangir, dan senyuman teramat manis tersebut. Maka wajarlah, andaikata Jannu tak ingin tergesa-gesa jatuh cinta lagi dan memilih sekadar mengagumi Aretha dari jauh terlebih dahulu. Yang dia tahu, gadis itu memang belum berpacaran dengan sesiapa. Jannu kerap mencuri dengar hal ihwal Aretha dari teman-teman seangkatannya belaka. Bahkan mereka pula yang membuatnya mengetahui alamat rumah remaja putri favoritnya itu. Maka Jannu pun mengerti bahwa sang dara rupawan merupakan mahasiswi yang cerdas, terbukti dari nilai-nilai ujiannya yang hanya A dan B. Lantas, buku catatan kuliah Aretha ternyata menjadi rujukan utama teman-temannya untuk difotokopi saking lengkap serta rapinya. Setelah berkenalan hingga menjadi teman Aretha, Jannu pernah pula meminjam salah satu buku catatannya dan dia sangat setuju dengan opini teman-temannya tentang gadis yang paling dikaguminya tersebut.

***


Hadirmu bawa ceria senantiasa,

duka pun enyah sementara,
jadinya berbunga-bungalah di jiwa

Lewat sudah berbilang hari, hingga berganti minggu, dan berubah bulan pula. Rasanya Jannu sudah cukup mengetahui kebaikan hati dan kesantunan laku Aretha. Jadi, memang tak sebatas keindahan ragawinya yang layak diibaratkan sebagai bidadari yang membuatnya terpesona. Jannu sendiri semakin menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa di sanubarinya kala memandang sosok Aretha. Pesona sang dara sungguh telah membius kalbu. Jannu tak akan memungkiri hal itu. Namun sang pemuda masih ragu dan belum percaya diri untuk menyatakan kata hatinya pada Aretha. Dia sesungguhnya tak yakin, mungkinkah Aretha tengah menanti ungkapan perasaannya sepenuh hati? Adakah dia juga memiliki sebentuk cinta, seperti yang tampaknya telah terpatri di kalbu pemuda itu? Jannu masih berasumsi bahwa meraih hati Aretha hanya sebuah utopi alias angan semata.

Masih dalam rencana menyatakan kejujuran hatinya dan belum sempat melakukan tindakan nyata, Jannu melihat ada yang berubah dari sosok Aretha. Dara rupawan itu akhir-akhir ini tampak lebih ceria ketimbang sebelumnya. Apakah mungkin gadis yang dipujanya telah memiliki tambatan hati? Jannu tak mau peduli dan tetap akan mempertahankan perasaannya terhadap Aretha, kendati keraguan masih sangat menghantui pikirannya. Suatu siang, tanpa sengaja Jannu mendengar kabar dari seorang teman bahwa Aretha baru saja resmi menjadi kekasih Ridho, teman seangkatan gadis itu.

Terbitlah rasa kecewa di hati Jannu. Dia tak percaya begitu saja gosip tersebut dan ingin mendengar langsung kebenarannya dari perempuan idamannya. Sore hari itu pula, Jannu menelepon Aretha dengan niat berterus terang mengenai sesuatu yang telah lama disimpannya dalam kalbu.

“Aretha, sudah tiba masanya kini kau mesti tahu hal ini,” ujar Jannu setelah sebentar berbasa-basi.
“Apa yang harus kuketahui, Jannu?” tanya Aretha.
“Aku mencintaimu.”
“Hah?”
Aretha tiba-tiba membisu.
“Bagaimana menurutmu, Aretha?” tanya Jannu menunggu tanggapan Aretha.
“Maaf, Jannu. Kamu sudah tahu kan, aku belum lama jadian dengan Ridho? Aku… tidak bisa menerimamu, mmm… setidaknya untuk saat ini.”
”Jadi, apa yang kudengar bukan gosip belaka, ya? Lalu, apa maksudmu di lain waktu kau mungkin menerima cintaku?”
”Iya, aku sekarang pacar Ridho. Soal itu, entahlah. Sekali lagi, aku mohon maaf, Jannu.”
”Baiklah. Aku juga minta maaf telah lancang menyatakan cinta pada kekasih orang. Aku sekadar ingin berterus terang kepadamu, Aretha.”
”Ya, sudahlah. Tapi kita masih bisa berteman seperti sebelumnya kan?”
”Jika itu yang kau mau, aku sih tak masalah.”

Terluka sesungguhnya hati Jannu. Apa yang menjadi asanya, menjalani hari mendatang bersama Aretha sebagai belahan jiwanya telah musnah. Untuk sementara waktu, Jannu tak ingin mengingat-ingat lagi segala sesuatu mengenai Aretha, bahkan berusaha menghindari pertemuan dengannya. Apabila perasaannya sudah kembali tertata, barangkali dia dapat berkawan lagi dengan Aretha seperti awal perkenalan mereka.

***

Tiba jua yang kucemaskan selama ini
Tak ada yang bisa dipertahankan lagi
Usai sudah pertemanan,
usai cinta bertepuk sebelah tangan

Telah cepat setahun lewat, saat Jannu sempat terkesiap. Waktu itu dia mengetahui sudah ada nama seorang lelaki di hati Aretha. Jelas sudah tak berbalas cinta Jannu. Meski hatinya kecewa, namun Aretha masih dapat dianggap Jannu sebagai teman belaka. Tetap ada bahagia jua yang dirasakannya -kendati sedikit semata- apabila berjumpa lalu berbincang apa saja dengan sang dara rupawan. Akan tetapi senantiasa mengusik hati Jannu, sampai kapan pertemanan mereka bertahan, andaikata nuraninya tersiksa sejatinya, tak rela menganggap Aretha sekadar kawan biasa? Pintu hatinya masih belum dapat terbuka untuk sebuah nama baru, hanya Aretha seorang yang masih tetap tersimpan di kalbu dan benaknya. Lama-lama Jannu menyadari bahwa sia-sia saja menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dengan ada sesuatu yang senantiasa mengganjal di relung sanubari. Suka cita yang dirasakan Jannu terhadap sosok Aretha nyatanya memang sudah cukup seperti di masa lalu atau sebagai teman belaka, tak mungkin lebih ketimbang itu. Jannu memutuskan tak akan secara sengaja menemui Aretha lagi. Barangkali masih mungkin dia sebatas menyapa gadis berambut indah itu, sekiranya mereka secara kebetulan bersua di sebuah hari nanti.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah JOe Fiksi Volume 3/2013.