Sabtu, 27 Januari 2018
Membuka Jalan Baru
Kendati yang biasa dilakukan pada Januari tidak bisa terlaksana tahun ini, tapi ada sejumlah aktivitas lainnya -tanpa rencana dari jauh hari- yang justru membuka jalan ke tempat-tempat baru, menambah pengetahuan dan pengalaman, berjumpa kawan-kawan lama, mendapat kenalan baru, serta hal baik lainnya yang layak disyukuri.
Kamis, 25 Januari 2018
Menulis adalah Mengubah Tatapan Batin
Menulis adalah mengubah tatapan batin ke dalam kata-kata, mempelajari dunia yang darinya dia mengundurkan diri saat dia memandang ke dalam dirinya sendiri, dan melakukannya dengan kesabaran, kekeraskepalaan, dan kegembiraan.
(Orhan Pamuk - penulis Turki)
(Orhan Pamuk - penulis Turki)
Senin, 22 Januari 2018
Dilema Sang Putri Raja
Tak pernah
terbayangkan bakal kumiliki riwayat dengan tiga lelaki bersaudara dari sebuah
kerajaan yang –ironisnya- tidak berhubungan baik dengan kerajaan kami. Yang
pertama terhubung denganku adalah sang putra bungsu. Awalnya, aku mengenalnya
sebagai anak angkat pamanku belaka. Sekadar kutahu pemuda bernama Sungging itu
piawai melukis dan pernah membuat lukisan diriku yang begitu mirip aslinya. Anehnya,
kami jarang sekali bertatap muka selama ini. Lalu, siapakah Sungging sebenarnya?
Mengapa ia mampu melukis sosok ragaku seutuhnya secara saksama?
Baru
kuketahui hal ihwal Sungging, justru setelah berjumpa dengan Udrayaka, kakak
kandung pelukis tersebut. Tak mudah bagiku melupakan pertemuan pertamaku
dengannya. Pada sebuah malam aku terjaga dari lelap tidurku dan dirinya semata
di depan mata.
“Siapa
kau? Apa maksudmu berada di sini?” tanyaku berupaya menyembunyikan ketakutanku.
“Maaf,
jika kehadiran saya mengusik tidur Tuan Putri. Saya Udrayaka, saudara kandung
raja Hastinapura. Benarkah Anda Setyawati, putri Prabu Sulangkara?” Sang pemuda
gagah demikian sopan menjawab pertanyaanku.
“Benar. Lantas, apa maksud Anda datang
kemari?” Sikapnya menumbuhkan simpati, maka lebih santun diriku saat bertanya
kembali.
”Saya akan mengajak Anda ke
Hastina agar menjadi permaisuri raja,” ujarnya dengan raut wajah ramah.
”Jadi, Anda hendak menculik
saya? Mengapa tidak terang-terangan saja datang menghadap Prabu Sulangkara?”
Ucapannya cukup memancing amarahku.
”Saya mohon, Anda sudi
mendengarkan sebabnya lebih dulu.”
”Baiklah.” Entah ilmu apa
yang dimilikinya, sehingga emosiku seketika padam dan justru memberinya
kesempatan melanjutkan perkataannya.
”Apakah Anda mengenal
Sungging?”
”Ya, tapi saya mengenalnya
sebatas nama.”
”Apakah Anda pernah
berjumpa dengannya?”
”Kami pernah bertemu muka, namun sekilas belaka.”
”Perlu Tuan Putri ketahui
bahwa Sungging sesungguhnya adik saya. Nama aslinya Udrasana, putra bungsu mendiang
Prabu Parikesit. Udrasana terpisah dari kami sejak masih bocah, ketika terjadi insiden
mengamuknya para penghuni kebun binatang di wilayah Hastina. Ternyata dia
bertemu dengan patih Miantipura, yang kemudian mengangkatnya sebagai anak.”
”Oh, jadi dia sebenarnya pangeran
dari Hastina? Lantas, apa hubungannya dengan saya?”
”Tentu Anda tahu, Sungging
pernah membuat lukisan yang persis dengan aslinya.”
”Ya, saya tahu dia pernah membuat
lukisan yang menyerupai saya. Dan saya tak habis pikir, bagaimana cara dia
melukisnya? Saya bagaikan becermin belaka ketika menatap lukisan itu.”
”Apakah Anda tahu yang
telah dilakukan Prabu Sulangkara terhadap Sungging?”
”Apa yang terjadi? Saya
sama sekali tak mengerti.”
”Ayah Tuan Putri telah
membunuh dan memotong-motong tubuh Sungging gara-gara lukisan itu. Dia dihukum
mati tanpa memahami kesalahannya terhadap sang raja. Apakah Anda ingat, peti
yang diterbangkan bersama layang-layang raksasa oleh Prabu Sulangkara tempo
hari? Potongan tubuh Sungging diletakkan di dalam peti itu.”
”Oh, demikian malang nasib
pemuda itu. Tak kuduga pula, betapa kejam perbuatan ayahku. Lalu, di mana jasad
Sungging kini berada?”
”Tanpa sengaja, kami
menemukan peti berisi jasad Sungging tergantung pada sebuah pohon di tengah
hutan. Atas perkenan dewata di kahyangan, saya dan kakak saya, Prabu Udrayana,
mampu menyatukan kembali jiwa raganya. Ia bisa hidup lagi dan telah
menceritakan segala yang terjadi.”
”Lantas, apa yang bisa
saya lakukan sekarang?”
”Kami bermaksud membuat
perhitungan dengan ayah Putri Setyawati, namun dengan rasa keadilan. Biarlah
dia merasakan sakitnya kehilangan putri kesayangannya. Mau tak mau, Anda saya
bawa ke Hastina. Saya akan meninggalkan surat untuk Prabu Sulangkara di sini.
Bagaimana, Tuan Putri?”
”Baiklah, saya bersedia
ikut ke Hastina. Tunggu saya berganti pakaian dahulu.”
***
Tak lama berselang, kutinggalkan
istana Miantipura dengan bergegas. Surat untuk ayahku diletakkan di atas meja kamarku.
Tiada seorang pun tahu kepergianku. Segenap penghuni istana, termasuk para
prajurit penjaga, tengah nyenyak dalam tidurnya berkat kesaktian yang dimiliki
Udrayaka. Tiada lagi rasa takut ataupun ragu saat melangkah karena aku memercayainya
sebagai seorang kesatria yang berbudi baik. Aku menurut belaka ketika ia
mengangkat tubuhku ke atas kudanya yang tinggi besar. Dalam posisi menyamping,
aku duduk di depan Udrayaka yang mengendalikan sang kuda. Tangan kananku
berpegangan erat pada bahunya yang kokoh. Bagian kanan tubuhku sesekali
menyentuh dadanya yang bidang dan perutnya yang kencang. Tangan kanan Udrayaka
kadang menyenggol kedua kakiku, sementara tangan kirinya malah menjadi tempat
punggungku bersandar.
Dalam gelap perjalanan, suasana hatiku sungguh tak
karuan. Detak jantungku jadi lebih cepat, sempat panas dingin pula tubuhku. Belum
pernah sebelumnya, aku berada dalam kondisi sedekat itu dengan seorang lelaki.
Ada sesuatu yang tak terkatakan, namun terasa menyenangkan. Apakah sesungguhnya
kurasakan indahnya jatuh cinta? Aku berusaha mengatur napasku agar tetap terlihat
tenang di mata Udrayaka, padahal
ketegangan sebenarnya melingkupi jiwa ragaku.
Di luar ibukota Miantipura, seorang lelaki muda
tengah menunggu. Ternyata dialah Udrasana. Ia tersenyum melihatku bersama
kakaknya. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hastina. Sepertinya
beberapa kali aku terlelap di pelukan Udrayaka. Terasa nyaman dan tak
melelahkan, kendati perjalanan berlangsung sejak malam hingga siang harinya
kami baru memasuki wilayah Hastinapura.
”Putri Setyawati, silakan beristirahat di tempat
yang sudah kami sediakan. Silakan mengatakan keperluan Anda kepada inang
pengasuh,” kata Udrayaka begitu kami menjejakkan kaki di dalam istana.
”Apakah saya tidak harus segera berjumpa dengan
Prabu Udrayana?” tanyaku.
”Kanda Prabu Udrayana tidak ingin tergesa. Kita
akan menjumpainya petang nanti. Lagi pula perjalanan dari tadi malam pasti
sangat melelahkan Anda.”
Aku merasa tersanjung diperlakukan sedemikian rupa.
Para inang pengasuh pun bersikap baik seakan aku memang majikan mereka. Tanpa
kesulitan, aku langsung terlelap di pembaringan sesudah membersihkan diri dan
mengisi perutku. Sekian jam kemudian aku terjaga, salah satu inang pengasuh
memberitahuku sesuatu.
”Putri Setyawati telah ditunggu oleh Pangeran
Udrayaka dan Pangeran Udrasana di luar. Mereka akan menghadapkan Anda kepada Prabu
Udrayana.”
”Oh, jadi mereka sudah menunggu saya? Baiklah,
saya segera mempersiapkan diri.”
Sempat berdebar-debar lagi
dadaku begitu bertatapan mata dengan Udrayaka. Namun lekas kuenyahkan sesuatu
yang mengusik perasaanku. Mesti kusadari, aku berada di istana Hastina bukan
akan menjadi pendamping hidup pangeran, melainkan menjadi permaisuri raja.
Kuikuti langkah Udrayaka dan Udrasana yang akan mempertemukanku dengan kakak
mereka. Seraya berjalan, sedikit kubayangkan seperti apa figur putra sulung mendiang
Prabu Parikesit itu.
Ternyata pertemuan pertamaku dengan raja Hastina
tidaklah terlalu mengesankan. Prabu Udrayana terlihat biasa belaka. Wajahnya
cukup rupawan, tapi tubuhnya agak kurus, dan sosoknya tidak segagah Udrayaka.
Usia raja muda tersebut mungkin sedikit lebih tua ketimbang aku. Keraguan seketika
menyeruak dari relung kalbuku. Apakah sudah benar, kuterima begitu saja
permintaan Udrayaka agar aku bersedia menjadi istri kakaknya? Tak bisa segera
kujawab pertanyaan itu.
***
Takdir dewata telah
membawaku menjadi permaisuri Prabu Udrayana. Perdamaian akhirnya terjadi antara
Hastinapura dan Miantipura, sesudah pasukan kedua kerajaan sempat bertempur karena Prabu
Sulangkara ingin merebut kembali putri kesayangannya. Ayahku menerima
permintaan raja Hastina menjadi menantunya. Aku tak keberatan menjalani
pernikahan dengan Udrayana, demi terciptanya hubungan baik kedua kerajaan. Namun,
tak akan kulupakan lelaki yang pertama kali membawaku ke Hastina. Apalagi
dialah yang sesungguhnya mampu mengimbangi kesaktian ayahku kala terjadi perang
tanding di antara mereka. Sepanjang hayatku, tak pernah kulihat ada kesatria
yang bisa melakukannya. Prabu Sulangkara begitu kondang sebagai raja sakti
mandraguna yang susah dikalahkan sesiapa. Mesti ada kata-kata yang keluar dari
mulutku, sebelum salah satu dari Udrayaka maupun ayahku dijemput nyawanya oleh
Batara Yamadipati.
”Setyawati anakku, mengapa
kau berada di sini?” tanya ayahku.
”Siapa yang Ayah bela
sehingga mengadu jiwa dengan Udrayaka?”
”Hei, dia kan yang
menculikmu?”
”Dia bukan penculik karena
hamba sukarela mengikutinya,” kataku tanpa berdusta.
”Dengan sukarela? Mengapa
kau melakukan hal itu, anakku?”
”Saya ingin meminta maaf
kepada Sungging yang dibunuh Ayah, meski dia tak bersalah. Ayah pasti sudah
tahu, Sungging adalah adik raja Hastina saat ini.”
”Ayah mengaku bersalah
telah membunuh anak itu. Lalu bagaimana perlakuan mereka terhadapmu di
Hastina?”
”Mereka sangat memanjakan
saya, bahkan saya akan menjadi permaisuri raja Hastina.”
”Hei, siapa yang
mengizinkanmu menikah dengannya?”
”Dahulu Ayah pernah
berkata ingin memiliki menantu yang sesakti Anda. Kenyataannya Ayah tak mampu
mengalahkan Udrayaka.”
”Tapi dia bukanlah raja
Hastinapura.”
”Sama saja. Udrayaka
adalah adik raja Hastina.”
”Kau bersedia menjadi
istrinya?”
”Iya, Ayah. Saya bersedia.”
Cukup berat bagiku mengatakannya karena tak bisa kumungkiri, sejatinya aku jauh
lebih menyukai Udrayaka. Tak kuasa kutatap lelaki gagah yang tengah berdiri
terpaku di hadapan ayahku.
”Baiklah, kurestui kau
menikah dengannya.”
Akhirnya bersandinglah
diriku di pelaminan bersama Udrayana, lelaki ketiga dari Hastinapura yang
kukenal setelah adik-adiknya. Barangkali bakal ada kisah panjang tersurat
antara aku dan Udrayana. Namun, entah apakah dapat terjalin anyaman cerita nan
indah, sementara bukanlah dirinya lelaki yang sejatinya pernah membuatku jatuh
cinta.
# Cerpen ini dikembangkan dan terinspirasi dari salah satu episode dalam
komik wayang Prabu Udrayana karya RA Kosasih (pernah dimuat di nusantaranews.co pada 22 Januari 2017).
Minggu, 21 Januari 2018
Lukisan Sungging dan Peti yang Terbang Bersama Layang-Layang Raksasa
Pemuda tersebut kondang namanya di seluruh penjuru negeri lantaran kemahirannya dalam melukis. Jelaslah, ia bukan pelukis sembarangan karena pernah berjasa besar pada sang raja beserta rakyat yang dipimpinnya. Berkat lukisannya yang memiliki khasiat tersendiri, hujankembali membasahi wilayah kerajaan yang telah lama dilanda kemarau panjang. Lukisannya mampu menghadirkan keajaiban dari langit. Berkat jasanya, pemuda tersebut ditawari jabatan sebagai punggawa tinggi oleh sang raja. Ia menolaknya dengan halus, namun kemudian ia mendapatkan tugas baru untuk melukis sesuatu yang berbeda.
Nama aslinya Udrasana atau Udrasengsana. Sejatinya ia adalah putra bungsu Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang merupakan putra Abimanyu. Parikesit adalah cucu Arjuna dari Pandawa yang telah melegenda. Udrasana memiliki dua kakak kandung yang bernama Udrayana dan Udrayaka. Beberapa tahun silam, Udrasana—yang masih bocah—terpisah dari kedua kakaknya ketika terjadi kerusuhan berupa mengamuknya para satwa penghuni kebun binatang di negerinya. Ada konspirasi jahat antara seorang pertapa sakti dengan para jin yang membuat peristiwa tersebut berlangsung, namun tak seorang pun yang tahu saat itu. Udrasana bersama kedua kakaknya yang dikawal prajurit kerajaan sedang dalam perjalanan menuju istana, sesudah melakukan rekreasi di luar ibu kota. Di tengah jalan, mereka dihadang rombongan hewan yang mendadak liar lantaran kerasukan. Udrasana dan kedua kakaknya meninggalkan kereta kudanya menyelamatkan diri, namun mereka berlari ke arah yang tak sama. Pengawal mereka berakhir riwayat hidupnya diserbu kawanan binatang tersebut. Udrayana selamat kembali sampai di istana, sedangkan Udrayaka sempat berguru pada seorang pertapa tua bijaksana, yang pernah menjadi guru kakek buyutnya. Sekian tahun kemudian, Udrayaka kembali bersatu dengan kakaknya yang akhirnya menjadi raja menggantikan Prabu Parikesit yang padam nyawa.
Sementara itu, Udrasana sendiri melangkah gontai tanpa arah. Selama berbilang hari, putra bungsu raja Hastinapura sebatas makan dedaunan. Hingga akhirnya Udrasana menemukan kebun semangka yang begitu luas. Saking laparnya, bocah itu mengambil sebuah semangka dan memakannya dengan lahap. Tengah asyik menikmati makanan istimewanya, seseorang berkuda mendekatinya. Udrasana mengira sang pemilik kebun mengetahui buahnya dicuri dan ingin menangkapnya, namun orang tersebut justru bersikap lembut terhadapnya. Ia berhasrat mengenal bocah itu dengan baik. Udrasana berterus terang tentang dirinya. Lelaki bernama Indrabahu itu bersimpati terhadap sang bocah. Udrasana kemudian diangkat sebagai anaknya dan diberi nama baru. Indrabahu dan istrinya telah lama berumah tangga tanpa dikaruniai keturunan. Mereka berdua bersukacita akhirnya memiliki anak angkat yang dinamai Sungging.
***
Sungging telah sepuluh tahun lebih tinggal bersama orang tua angkatnya. Melukis merupakan keahliannya. Indrabahu adalah patih kerajaan Miantipura yang dipimpin Prabu Sulangkara, yang juga saudara sepupunya. Perintah sang raja bukanlah hal yang ringan bagi Sungging. Melalui Indrabahu, pemuda tersebut diminta membuat lukisan istana raja dengan segenap penghuninya. Lukisan itu mesti sama persis dengan wujud aslinya, namun penguasa Miantipura melarang sang pelukis melihat langsung rupa istana. Sungging menyanggupinya, hanya memang perlu waktu mengejawantahkannya.
“Sungguh pekerjaan yang berat, Ayah. Saya mesti melukis sesuatu yang belum pernah saya lihat dengan saksama. Namun percayalah, saya sanggup memenuhi permintaan itu.”
Sungging menjawab pertanyaan Indrabahu yang ditegur sang raja soal lukisan pesanannya. Selain melukis, pemuda tersebut tekun melakukan tirakat pula. Maka ia pun memperoleh ilham yang membuatnya mampu membuat lukisan yang dikehendaki Prabu Sulangkara. Yang aneh, salah satu lukisannya yang berupa seorang perempuan rupawan begitu mirip denganPutri Setyawati, putri sang raja. Raut muka dan tubuh indahnya tergambar tanpa cela, sehingga tahi lalat di pipi dan di dekat buah dadanya pun terlihat jelas. Indrabahu dan istrinya takjub sekali menyaksikan hasil karya Sungging.
Semula Prabu Sulangkara mengagumi lukisan Sungging, namun ia lantas curiga, jangan-jangan sang pelukis pernah datang ke istananya. Apalagi ketika ia melihat lukisan putrinya yang persis dengan sosok sebenarnya.
“Adik Patih, bukankah anakmu belum pernah kemari?” tanya Prabu Sulangkara.
“Belum, Kakak Prabu. Ia hanya pernah melihat istana ini dari luar,” sahut Patih Indrabahu.
“Tidak mungkin ia mampu melukis sesempurna itu. Bagaimana bisa ia mencipta wajah putriku hingga tahi lalatnya segala? Bawa anakmu kemari selekasnya!”
Indrabahu kalut menghadapi reaksi sepupunya. Ia segera pulang dan memberitahukan masalah yang ada. Ibu angkat Sungging pilu membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa putra kesayangannya. Sungging sendiri tidak terkejut dengan kecurigaan sang raja.
“Memang saya yang bersalah. Demi menggembirakan hati sang raja, saya melakukan tirakat sekian lama. Dan hasilnya justru sebuah fitnah yang tak beralasan,” kata Sungging pahit. Indrabahu dan istrinya tak mampu berkata-kata, kesedihan mendalam tampak dari wajah mereka.
“Baiklah, saya bersedia datang sendiri menghadap Prabu Sulangkara. Ayah tak perlu mengantarkan saya,” ucap Sungging yang kemudian berpamitan menuju istana.
Setibanya di hadapan pemimpinnya, Sungging bergeming belaka ketika sang raja menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan yang tak masuk akal. Ia memilih menutup mulutnya karena sadar yang dikatakannya tak bakal dipercaya. Hal itu membuat sang raja murka dan memerintahkan Sungging dipenjara. Ia berhasrat memberi hukuman kejam bagi si pelukis.
Tak lama kemudian, ada sebuah perintah aneh dari penguasa Miantipura. Ia memerintahkan pembuatan layang-layang raksasa. Mereka yang membuatnya tidak diberi tahu untuk apa. Beberapa pekan berselang, jadilah layang-layang raksasa siap diterbangkan. Prabu Sulangkara datang mengemudikan kereta kudanya sendiri. Ia memerintahkan para prajurit agar mengangkat sebuah peti dari dalam keretanya. Peti tersebut diikatkan kuat-kuat pada ekor layang-layang raksasa. Tujuh ekor kuda tangguh disiapkan untuk menarik layang-layang agar bisa terbang. Begitu kuda dipacu, mengudaralah benda besar itu. Rakyat bersorak gembira melihatnya dan mengira penerbangan layang-layang raksasa sekadar hiburan bagi mereka. Ternyata peti yang terikat di ekornya membuat layang-layang rada susah mengangkasa. Prabu Sulangkara pun mengeluarkan kesaktiannya. Angin pun bertiup kencang membuat layang-layang raksasa terbang meninggi menjauhi wilayah Miantipura.
***
Prabu Udrayana tengah membonceng Udrayaka mengendarai kuda sakti peninggalan Arjuna, kakek buyut mereka. Sang kuda membawa kakak beradik tersebut sampai di hutan yang merupakan perbatasan Hastinapura dengan kerajaan tetangga. Tiba-tiba kuda sakti menghentikan langkahnya dan matanya terarah pada sesuatu yang bergelantungan di atas sebuah pohon yang tinggi. Ternyata benda itulah peti yang diikatkan pada layang-layang raksasa yang telah jatuh dari angkasa. Udrayaka memiliki firasat, sesuatu yang penting ada di dalam benda yang mereka temukan. Ia menurunkan peti dengan hati-hati dan membukanya pelan-pelan. Betapa terperanjatnya Udrayaka maupun Udrayana menyaksikan sejumlah potongan tubuh manusia berada di dalam peti. Anehnya, tiada darah yang mengalir dari mayat tersebut.
“Kesalahan apa yang diperbuatnya hingga dihukum begitu keji? Semoga aku dijauhkan dari hal serupa itu,” ujar Udrayana pilu.
“Kita mesti menyelidiki hal ini hingga tuntas. Rada berat melakukannya, kecuali orang tersebut dapat hidup kembali,” jawab Udrayaka tetap dengan tenang hati.
“Bisakah ia hidup lagi?”
“Saya akan mengupayakannya. Semoga Dewata memperkenankannya.”
Udrayaka mengeluarkan tubuh korban mutilasi satu demi satu dari dalam peti dan mencoba menyusunnya sebagaimana tubuh manusia selayaknya. Ia mengeluarkan bunga Wijayakusuma pemberian gurunya dengan kesaktiannya, lantas mengusapkannya ke sekujur tubuh tersebut. Udrayaka dengan dibantu kakaknya kemudian berkonsentrasi memohon petunjuk Yang Mahakuasa. Keajaiban serta-merta turun dari langit. Tubuh itu menjadi utuh, lalu mulai bergerak-gerak. Udrayaka membuka matanya dan menghentikan semadinya begitu mendengar suara isak tangis.
“Hei, kau hidup kembali. Berterima kasihlah pada-Nya yang berkenan mengembalikan jiwa ragamu bersatu lagi. Siapa gerangan sesungguhnya dirimu, Anak muda?” kata Udrayaka. Pemuda tersebut menghentikan tangisnya dan menceritakan riwayat hidupnya secara panjang lebar hingga ia dimutilasi.
“Jadi, kau Udrasana? Tidakkah kau ingat, aku Udrayaka, kakakmu!”
“Oh, jadi ini Kak Udrayaka?” ucap pemuda tersebut sedikit ragu.
“Iya, Adikku. Dan inilah Kak Udrayana, kakak sulung kita yang telah menjadi raja Hastinapura.”
Udrayaka menanggapi keraguan adiknya seraya menunjuk ke arah Udrayana.
“Oh, betapa besar rasa syukurku hari ini. Akhirnya kita bisa berkumpul kini,” ujar Udrayana. Mereka bertiga saling berpelukan dengan rasa haru yang luar biasa. Setelah tercerai-berai sekian lamanya, takdir kembali mempersatukan Udrayana, Udrayaka, dan Udrasana. Sempat tebersit duka manakala mengingat ayah mereka telah tiada, namun tetaplah mereka bisa bersukacita pada gilirannya.
# Cerpen ini terinspirasi dan merupakan hasil adaptasi dari komik wayang Prabu Udrayana karya R.A. Kosasih (dimuat di basabasi.co sejak 20 Januari 2017).
Jumat, 19 Januari 2018
Spirit yang Sama
Kita akan merasakan keperihan dan kepedihan dengan spirit yang sama : bahwa kekerasan alam dan nasib telah melahirkan keindahan hidup yang tak habis digali.
(Joni Ariadinata dalam kata pengantar kumpulan cerpen Mata Blater karya Mahwi Air Tawar)
Kamis, 18 Januari 2018
Koleksi Buku 2017
Semula aku ingin menuliskannya di hari-hari awal 2018, tapi baru terwujud hari ini, ya sudahlah. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pembelian buku yang kulakukan sepanjang 2017 tidak terlalu kencang. Ada beberapa bulan yang hampa tanpa menambah koleksi yang kumiliki. Pada akhirnya terdapat lebih dari 20 buku baru yang kubawa pulang. Tempat pembeliannya mayoritas tetap seperti biasanya, yaitu di Togamas Kotabaru, Gramedia Sudirman, dan Bentara Budaya Yogyakarta. Namun, ada beberapa tempat baru bagiku membeli buku, yaitu di Jogja Expo Center (JEC), Food Park UGM, Kafe Basabasi, Rumah Maiyah, dan Kedai JBS (Jual Buku Sastra). Sebuah buku kudapatkan sebagai pengganti tiket masuk menyaksikan Tompi dan Glenn Fredly dalam acara Mocosik yang berlangsung di JEC. Lantas, buku yang kubeli di Food Park Taman Kearifan UGM pada acara Kampung Buku Jogja 3. Tiga buku kupilih dalam dua kali kesempatan menghadiri acara di Kafe Basabasi. Satu buku kubeli di Rumah Maiyah, bertepatan dengan acara bedah buku tersebut yang dihadiri oleh penulisnya sendiri. Sekian tahun lalu aku juga pernah melakukannya ketika Emha Ainun Nadjib meluncurkan kembali buku Slilit Sang Kiai. Sebenarnya sudah lama aku berniat ke Kedai JBS, tapi baru terlaksana di akhir tahun ketika ada acara Tahun Baru di JBS edisi ke-5.
Berikut ini senarai buku yang kubeli di tahun 2017 berdasarkan waktu pembeliannya. Belum semua buku tersebut tuntas kubaca, terutama yang kubeli kala Desember.
Fiksi
Metafora Padma (Bernard Batubara), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (Risda Nur Widia), Legenda Asal-Usul Ketawa (Mustofa W. Hasyim), Petang Panjang di Central Park (Bondan Winarno), Negeri Kabut (Seno Gumira Ajidarma), 99 untuk Tuhanku (Emha Ainun Nadjib), Menebang Pohon Silsilah (Indra Tranggono), Balada Bidadari (Yuditeha), Kritikus Adinan (Budi Darma), Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Bamby Cahyadi), Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota dalam Kepala (Mashdar Zainal), Ratu Sekop (Iksaka Banu), Tahilalat (Joko Pinurbo), Tangan yang Lain (Tia Setiadi), Pingkan Melipat Jarak (Sapardi Djoko Damono), Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez), Pelisaurus (Gunawan Tri Atmodjo), Lelucon Para Koruptor (Agus Noor), Perempuan Berkepang Kenangan (Sinta Ridwan).
Nonfiksi
Tuhan Maha Asyik (Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba), Menulis Itu Indah : Pengalaman Para Penulis Dunia (Albert Camus dkk, penerjemah : Adhe, penyunting : Dewi Kharisma Michellia), Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem (Emha Ainun Nadjib), Elegi Penegakan Hukum : Kisah Sum Kuning, Prita, hingga Janda Pahlawan (editor : Aloysius Soni BL de Rosari), Daur I (Emha Ainun Nadjib), Memetik Matahari (Agung Adiprasetyo), Aku Rapopo : No Limit For Success (Umar Dani Hasyim), Profesi Wong Cilik (Iman Budhi Santosa), Dongeng dari Negeri Bola (Yusuf 'Dalipin' Arifin), Bola di Balik Bulan (Sindhunata).
Berikut ini senarai buku yang kubeli di tahun 2017 berdasarkan waktu pembeliannya. Belum semua buku tersebut tuntas kubaca, terutama yang kubeli kala Desember.
Fiksi
Metafora Padma (Bernard Batubara), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (Risda Nur Widia), Legenda Asal-Usul Ketawa (Mustofa W. Hasyim), Petang Panjang di Central Park (Bondan Winarno), Negeri Kabut (Seno Gumira Ajidarma), 99 untuk Tuhanku (Emha Ainun Nadjib), Menebang Pohon Silsilah (Indra Tranggono), Balada Bidadari (Yuditeha), Kritikus Adinan (Budi Darma), Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Bamby Cahyadi), Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota dalam Kepala (Mashdar Zainal), Ratu Sekop (Iksaka Banu), Tahilalat (Joko Pinurbo), Tangan yang Lain (Tia Setiadi), Pingkan Melipat Jarak (Sapardi Djoko Damono), Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez), Pelisaurus (Gunawan Tri Atmodjo), Lelucon Para Koruptor (Agus Noor), Perempuan Berkepang Kenangan (Sinta Ridwan).
Nonfiksi
Tuhan Maha Asyik (Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba), Menulis Itu Indah : Pengalaman Para Penulis Dunia (Albert Camus dkk, penerjemah : Adhe, penyunting : Dewi Kharisma Michellia), Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem (Emha Ainun Nadjib), Elegi Penegakan Hukum : Kisah Sum Kuning, Prita, hingga Janda Pahlawan (editor : Aloysius Soni BL de Rosari), Daur I (Emha Ainun Nadjib), Memetik Matahari (Agung Adiprasetyo), Aku Rapopo : No Limit For Success (Umar Dani Hasyim), Profesi Wong Cilik (Iman Budhi Santosa), Dongeng dari Negeri Bola (Yusuf 'Dalipin' Arifin), Bola di Balik Bulan (Sindhunata).
Rabu, 17 Januari 2018
Bertanggung Jawab dalam Mengarang
Aku memintamu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kaukarang. Jangan lupa, mengarang adalah mengingatkan orang lain tanpa mereka merasa digurui. Nah, bila tukang tegurnya saja sembrono dalam bertabiat, bagaimana orang-orang yang membaca karangannya mendapat manfaat yang (pura-pura) ia baik-baikkan dalam bahasa ceritanya?!
(Benny Arnas dalam cerpen Anak Ibu : Bila Kau Jadi Pengarang)
Langganan:
Postingan (Atom)


