Rabu, 23 Agustus 2017

Kerja, Pasrah, Ketuk

Kerja
Terus gali sumurmu
Jangan pikir istirah
Air ada di suatu tempat
Di sana

Pasrahkan dirimu
kepada ibadah-harianmu
Kesetiaanmu padanya
adalah bel di pintu masuk

Ketuk terus
Dan keceriaan yang ada
di dalam
kan akhirnya buka jendela
tuk tengok siapa
di luar sana

(Rumi)

Pertolongan Tuhan

Mari kita mohon pertolongan Tuhan yang mengawasi diri kita : orang yang lemah kendali dirinya akan dijauhkan dari karunia-Nya. (Rumi)

Senin, 14 Agustus 2017

Kisah Lelaki Berdaster

Lelaki itu tak memiliki rambut di bagian depan kepalanya. Tatapan matanya yang hampa melihat lurus ke depan ketika melangkah perlahan-lahan. Andaikata sekilas belaka menatapnya, mungkin tiada yang aneh dengan hal tersebut. Namun, lihatlah daster bermotif batik berwarna merah marun campur merah jambu tanpa lengan yang menempel pada tubuh lelaki dengan perut buncit berusia sekitar lima puluhan itu, beserta tas belanja khas para ibu rumah tangga zaman baheula yang dijinjing dengan tangan kirinya. Yang jelas, ia tidak tengah memainkan sebuah peran di atas panggung teater. Ia berjalan santai belaka pada trotoar yang berada di jalan protokol sebuah kota yang dipenuhi pertokoan. Tak tampak pula orang-orang di sekitarnya yang tengah membawa kamera. Artinya, ia tidak berakting untuk sebuah film atau acara lain yang mungkin akan bisa disaksikan di bioskop maupun televisi. Cuma entahlah, jika sesungguhnya sejumlah orang bersembunyi dan tengah mengabadikan derap langkah si lelaki. Penampilannya yang unik mau tak mau memang cukup mengundang perhatian sesiapa yang berpapasan dengannya atau sekadar melihat sosoknya. Namun, ia tetap mengayunkan kakinya yang bersandal jepit butut belaka, tanpa mendengar komentar orang terhadapnya. Lelaki itu bahkan bagaikan tak peduli dengan dirinya sendiri.
         Di sebuah kota yang banyak dihuni oleh para seniman beragam bidang, sejumlah manusia dengan penampilan tak biasa -yang kerap disebut nyentrik- sesungguhnya hal yang tak terlampau istimewa. Kita bisa berjumpa dengan mereka di mana saja, tidak hanya ketika ada acara karnaval atau pertunjukan seni pada tempo maupun wahana tertentu. Jadi, selain ada orang gila dalam arti sesungguhnya yang menderita sakit jiwa, ada pula ”orang gila” yang sejatinya justru merupakan para insan yang sangat kreatif dalam berkesenian dan mungkin masih kekurangan wadah berekspresi, sehingga dengan sukarela mereka mendandani dirinya dengan penampilan yang kurang lazim di mata publik. Padahal bisa jadi mereka tidak bermaksud mencari sensasi, tapi sebatas ingin memerdekakan jiwanya, dan tak terlalu memerhatikan apa kata khalayak ramai tentang mereka.

***
         
Bagaimana dengan lelaki botak berdaster itu? Apakah ia penderita sakit jiwa atau jangan-jangan ia malah seniman yang tengah mengaktualisasikan dirinya? Menurut  beberapa orang yang cukup karib mengenal figurnya, ia berubah penampilan semenjak istrinya tutup usia, sekitar dua pekan silam. Semula ia tampil sebagaimana layaknya lelaki kebanyakan, yaitu dengan mengenakan kemeja atau kaus, yang dipadukan dengan celana panjang, celana pendek, atau sesekali memakai sarung.
Lelaki itu konon benar-benar mencintai mendiang pendamping hidupnya, kendati banyak orang mencibirnya tak percaya. Sesuatu yang wajar belaka tampaknya. Mereka yang mengenal si lelaki tentu paham bahwa suatu ketika ia pernah melakukan sebuah kesalahan, yang barangkali sudah jamak dilakukan para suami, sedari masa jahiliyah hingga era teknologi informasi masa kini. Apalagi namanya jika bukan mengkhianati sang istri dengan cara mencintai perempuan lainnya. Bertahun-tahun ia melakukannya tanpa beban serta tak peduli perasaan perempuan yang dahulu sungguh ia cintai. Akan tetapi, jatuh sakitnya kekasih hati nan sejati -yang terbilang parah- membuatnya sadar untuk kembali. Tatkala hal itu terjadi, kekasih gelapnya baru memutuskan meninggalkan dirinya. Pastilah ia benar-benar tidak mau merasakan sebuah peristiwa kehilangan lagi dalam masa yang berdekatan.
          ”Tolong, jangan biarkan aku sendiri tanpamu. Aku sungguh mohon maaf atas ulahku menelantarkanmu selama ini. Kuakui, memang begitu besar kesalahanku padamu,” ujar si lelaki seraya menahan sesak di dadanya.
          ”Sudahlah Mas, yang dulu biarlah berlalu. Manakala aku telah tiada nanti, kamu toh bisa bebas berhubungan dengan siapa saja dan tak ada yang sakit hati lagi,“ sahut istrinya yang terbujur lemah di atas dipan dengan suara pelan.
        Lelaki itu malah menangis sesenggukan. Ia baru menemukan kembali betapa berharganya seorang pendamping hidup nan setia, sebagaimana yang telah dilakukan  istrinya selama ini. Terutama ketika mereka berdua menjalani kesulitan hidup yang tiada terperi. Sekadar untuk mencari sesuap nasi pun mereka pernah susah sekali memperolehnya di masa silam. Tidak seperti beberapa tahun belakangan, ketika mereka sudah hidup nyaman berkecukupan dan mudah saja memperoleh sekeranjang berlian. Di saat itulah hatinya malah berpaling pada perempuan yang baru dikenalnya. Dan ia lalaikan begitu rupa eksistensi sang istri sebagai karunia paling berharga yang pernah ia miliki. Apalagi mereka berdua tidak dikaruniai keturunan.
          ”Aku janji akan setia mendampingimu dan tak bakalan mendua lagi. Percayalah, cuma kau yang benar-benar kucintai,” kata lelaki itu dengan hujan air mata.
          Istrinya tak mengatakan apa-apa, sebatas menganggukkan kepala seraya tersenyum, kemudian dengan halus memejamkan matanya. Sekejap ia terlihat seperti tersedak. Matanya membelalak sejenak dan tertutup lagi. Ternyata mata perempuan itu tak pernah kembali terbuka. Malaikat maut menjalankan tugasnya dengan sempurna. Maka berakhirlah perjalanan hidup sang istri di bumi persada.
Bukan kepalang sedihnya si lelaki botak ditinggalkan perempuan yang sempat dikecewakannya berkali-kali. Dan rupanya ia belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Untuk itulah ia merasa mesti melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam hidupnya. Si lelaki memutuskan mengenakan daster milik perempuan yang pernah dinikahinya dan membawa tas belanja yang biasa dibawa sang istri ke pasar. Ia ingin mendiang istrinya tahu, betapa ia menyesali perbuatan tercelanya dahulu. Ia sebatas hendak membuktikan kesungguhan dirinya bahwa perempuan yang paling ia cintai hanyalah istrinya seorang. Jadi, percayalah, lelaki berdaster itu tak sedang mencari sensasi. Ia menapaki sejumlah sudut kota agar semua orang mengerti kata hatinya, lelaki semacam dirinya pun berhak dan tetap pantas memiliki cinta sejati.
#Cerpen ini dimuat di Harian Waktu, 11 Agustus 2017.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Perang Hanyalah Benturan Kepentingan

"Perang... 
Semula kuanggap sebagai pertempuran antara benar dan salah.
Lama kurenungi...
Ternyata perang tak lebih hanyalah sebuah benturan antara dua pihak dengan kepentingan berseberangan. Cukuplah aku terlibat hanya pada satu perang besar."
(Pitoyo Amrih dalam novel "Hanoman - Akhir Bisu Sebuah Perang Besar")

Kamis, 10 Agustus 2017

Sembilan Hari Puasa Internet

Awal Agustus 2017 terjadi sesuatu yang mengesankan kembali ke masa silam. Selama sembilan hari berturut-turut tidak ada koneksi internet di rumahku. Semula diperkirakan ada masalah administrasi, tapi ternyata bukan. Mencoba menghubungi telepon aduan Telkom, cuma tak kunjung nyambung. Untuk sementara aku terputus dari komunikasi di dunia maya, baik lewat ponsel maupun laptop. Baru pada hari keenam kudapatkan koneksi internet gratis di TBY, jadi setidaknya bisa kubaca pesan-pesan via WhatsApp, tapi tiada yang sempat kutanggapi. Lantas, pada hari ketujuh akhirnya kuulangi sebuah kebiasaan pada zaman dahulu, yaitu berselancar di warnet. Selama lebih dari tiga jam aku mendekam di bilik ditemani segelas kopi. Kunikmati belaka hal itu pada Senin malam kemarin.  
Pada hari ke-10 di bulan kedelapan ini akhirnya koneksi internet di rumahku kembali normal. Telkom bisa dihubungi dan memberikan solusi yang tepat. Tulisan pendek ini pun bisa kuketik dengan laptop yang selama setahun terakhir menjadi teman setiaku.
Namun, ada bagusnya juga aku sempat puasa internetan. Aku bisa sejenak melepaskan diri dari ketergantungan atas gawai. Aku pun terhindar dari mengikuti nafsu negatif dan justru bisa mendayagunakan diri melakukan hal-hal baik. Novel 1984 (George Orwell) yang sempat mandek kubaca dan Hanoman (Pitoyo Amrih) yang kubaca dari awal lagi-juga sempat mandek di tengah jalan-malah akhirnya mampu kutuntaskan hingga halaman terakhir. 
Secara selintas memang pernah kubayangkan, jika ada satu hari saja koneksi internet terputus di seluruh dunia. Pada hari itu untuk sementara berhentilah tersebar yang namanya ujaran kebencian, hoaks, maupun hal sia-sia lainnya, yang biasa mengusik keseharian hidup kita, setidaknya selama sekitar 3-4 tahun terakhir kalau di Indonesia. Asaku, hal itu bisa menjadi semacam shock therapy bagi para pengguna internet negatif. Barangkali para pengguna internet positif tak akan keberatan merelakan satu hari tanpa berselancar di dunia maya dan bisa rehat sejenak seraya menikmati kenyataan. Namun, apa yang terjadi justru aku yang sempat sembilan hari mengalaminya, meski selama ini aku berusaha menjadi pengguna internet positif. Ya sudah, kusyukuri sajalah apa yang ada.

Senin, 07 Agustus 2017

Rahasia Penulis Bukan Inspirasi

Rahasia penulis bukanlah inspirasi -sebab tak jelas betul dari mana gerangan datangnya- melainkan kekeraskepalannya, kesabarannya. 
(Orhan Pamuk - penulis Turki)