Kamis, 21 April 2016

Tujuan Sama : Kebaikan

Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tapi kesemuanya itu menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan dan kami sendiri menyebutnya Allah.
(R.A. Kartini)

Kehidupan Manusia Serupa Alam

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. 
Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca.
Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan.
Kehidupan manusia serupa alam.

(R.A. Kartini)

Rabu, 20 April 2016

Berdebat dengan Sopan

Para leluhur kita di masa lalu bisa berbantahan penuh tata krama, berkata sopan tanpa merendahkan lawannya. Mereka menyebutnya adu wicara, terjemahan masa kini: berdebat dengan sopan. Sedangkan yang berdebat dengan kata-kata jorok, memaki, saling hina -dan tak jarang dilanjutkan dengan perkelahian- disebut adu cangkem atau ungkapan lain cangkem gembur. Nah, yang terakhir ini, entah sejak kapan, diterjemahkan: adu mulut.

Kita sudah banyak berubah. Keluhuran budaya dan tradisi (termasuk aksara dan sastra lokal) semakin sirna karena kita konon sudah maju. Tapi Jepang jauh lebih maju, produk industrinya menyerbu negeri kita, kok budaya dan kearifan lokal mereka masih jelas? Adakah tatanan masyarakat kita sudah tak harmonis lagi? Para ulama, pendeta, sesepuh sudah tak lagi didengarkan dan berjarak jauh dengan penguasa negeri? Di era kerajaan dulu, para ulama dijadikan purohito (ada istilah lain: bhagawanta) oleh penguasa untuk dimintai nasihat dan pertimbangan. Di masa Orde Baru, ada istilah "ulama dan umaroh tak bisa dipisahkan". Kini, di dewan pertimbangan presiden ada juragan kapal.

(Putu Setia dalam esai "Adu Mulut" di tempo.co)

Pujangga Mendapat "Beasiswa"



Mpu Tantular, yang hidup di era Majapahit Raja Hayam Wuruk abad ke-14, diminta menulis karya yang bisa dijadikan sesuluh kerajaan. Lahirlah Kekawin Sutasoma yang di dalamnya terdapat "kata sakti": bhinneka tunggal ika - kata yang kini jadi sesanti negeri ini. Meski dibiayai hidupnya untuk menulis, pujangga ini tak terpengaruh oleh pesanan, bahkan nama yang dipakai, Tantular, artinya tak terpengaruh.
Tak cuma Tantular yang diberi "beasiswa" oleh Hayam Wuruk. Ada pujangga lain, Mpu Prapanca, yang kemudian melahirkan Kekawin Negarakertagama yang termasyhur itu. Kisah ini memang sejenis reportase kerajaan, namun dengan keindahan bahasa, kekawin dengan 98 pupuh (sajak bertembang) ini begitu indah, melampaui zamannya.

(Putu Setia dalam esai "Pujangga" di tempo.co)

Sabtu, 16 April 2016

Cinta Layaknya Uap Hangat

Cinta layaknya uap hangat yang berhembus dari desah napas sang kekasih. Uap menghilang, kobar api asmara bergelora di mata. Tatkala kau sia-siakan cinta, lautan air matalah yang kau dapatkan.
(Shakespeare dalam "Romeo & Juliet")

Selasa, 05 April 2016

Jangan Benci yang Tidak Kenal

Jangan kita membenci orang yang tidak kita kenal hanya karena mengikut kawan. Siapa tahu kawan itu yang bermasalah. (A. Mustofa Bisri)