Tampilkan postingan dengan label media cetak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media cetak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Oktober 2021

Menjelang Pernikahan Adik Perempuanku


Sebentar lagi, keluarga kami memiliki hajat besar. Bapak dan Ibu akan menikahkan Vina, adik bungsuku sekaligus satu-satunya anak perempuan orangtuaku. Untuk sementara kutinggalkan Jakarta agar bisa kubantu persiapan acara keluarga yang tak biasa di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bagi Bapak dan Ibu, pernikahan Vina di hari Minggu nanti merupakan kesempatan tunggal bagi mereka mengadakan acara mantu, jadi kami sangat serius mempersiapkan semua hal, tentunya agar acara tersebut berlangsung mulus sesuai asa bersama.

Sehari sebelum pernikahan adikku, tepatnya pada Sabtu pagi, sebuah berita duka kami terima. Pakde Parto, kakak tertua ibuku -yang sudah sakit parah selama dua tahun terakhir- tutup usia. Beliau wafat ketika fajar menyingsing dan akan langsung dimakamkan siangnya karena semua anak cucu Pakde Parto kebetulan sudah berkumpul. Mereka datang sebenarnya untuk menghadiri pernikahan adikku keesokan harinya. Kota tempat tinggal Pakde Parto dan kota kami sendiri terpisah jarak belasan kilometer belaka.

”Mungkin ibumu jangan diberitahu dulu, demikian pula Vina,” usul Mbak Runi ketika memberi kabar padam nyawanya sang ayah lewat telepon.
”Iya Mbak, lebih baik begitu. Saya mewakili keluarga besar Bapak turut berduka atas wafatnya Pakde Parto. Mohon maaf, kami mungkin tak sempat melayat”
”Kami maklumi kalian yang tak bisa datang. Sekarang mending kamu urus persiapan pernikahan Vina. Sampai jumpa besok ya, Dik.”

Betapa tidak nyamannya perasaanku. Pakde Parto berakhir riwayat hidupnya, tapi Ibu yang merupakan adik kandung almarhum malah belum tahu. Padahal sejumlah kerabat yang berada di rumah kami sudah mengerti kabar itu. Kuminta mereka semua agar merahasiakan berita duka tersebut agar tidak sampai ke telinga Ibu maupun Vina. Kekhawatiran Mbak Runi memang beralasan lantaran ibuku memiliki penyakit jantung. Sebuah kejutan tak menyenangkan manakala tengah menyambut acara membahagiakan putri bungsunya, bisa saja mempengaruhi kondisi kesehatan Ibu. Demikian pula dengan Vina yang mesti dijaga agar konsentrasinya tak buyar menjelang hari istimewanya. Aku tahu, ia memiliki hubungan yang hangat pula dengan pakdenya. Kendati kecewa tak bisa mendatangi pemakaman Pakde Parto, tapi aku paham, tanggung jawabku tak ringan demi menjamin kelancaran hajat besar keluarga kami.

***
Lantaran Vina menikah mendahului Dino, salah satu kakaknya, maka ada upacara menyerahkan pelangkah sesuai dengan adat Jawa. Namun sehabis acara tersebut dilaksanakan, Dino kemudian pergi tanpa pamit. Ia menghilang begitu saja dari rumah.
”Bagaimana ini, Mas? Tidak ada yang tahu, Dino pergi ke mana,” ucap Beni adikku menjelang acara midodareni.
”Dino sudah dewasa, Ben. Tak usahlah kita terlalu memikirkan dia. Aku percaya, dia bisa jaga diri. Besok pagi ketika Vina menikah, dia pasti sudah pulang,” sahutku mencoba menenangkan Beni.

Beberapa saat setelah acara midodareni usai, Dino tetap belum terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba Bapak memanggilku dengan raut wajah tegang.
”Ada apa, Pak? Baru saja Bapak terima telepon dari siapa?” tanyaku.
”Itu tadi dari kantor polisi. Adikmu Dino ada di sana,” sahut Bapak agak berbisik.

Ternyata Dino berada di tempat itu karena -menurut keterangan polisi- ia mabuk dan telah menabrak orang di jalan. Ah, ada-ada saja peristiwa yang terjadi menjelang pernikahan Vina besok pagi.
”Tolong, kamu jemput adikmu, ya. Kata polisi, dia boleh dibawa pulang, asal ada jaminannya,” kata Bapak lagi.
”Baiklah, Pak. Serahkan saja urusan Dino pada saya. Oh ya, tolong Bapak jaga Ibu agar tidak sampai tahu masalah ini,” ujarku. Bapak pun menganggukkan kepalanya.

Bergegas saja aku beranjak pergi bersama Beni dan Om Narso -adik kandung Bapak- menuju kantor polisi. Moga-moga kami bisa melakukan negosiasi dengan mereka agar Dino bisa pulang selekasnya.
”Ben, kamu tahu Dino sedang ada masalah apa?” tanyaku pada Beni di dalam mobil.
”Tidak tahu, Mas. Cuma beberapa hari ini, dia kelihatan lebih pendiam,” sahut Beni.
”Apa dia sebelumnya sering mabuk?”
”Sepertinya terakhir sekitar dua minggu lalu, waktu habis putus dengan pacarnya. Begitu yang saya dengar dari Ibu.”
”Apa mungkin dia sebenarnya kurang ikhlas, karena adiknya menikah mendahului dirinya?” tanya Om Narso.
”Mungkin saja, Om,” ucapku.
”Om hanya berpesan agar kalian jangan memarahi Dino. Biarkan dia nanti pulang dengan hati nyaman. Dia mungkin merasa kurang mendapat perhatian saja.”

Aku dan Beni mengiyakan apa kata Om Narso. Dalam hati kucoba memaklumi kelakuan adikku. Usia Dino hanya setahun lebih tua daripada Vina, sementara Vina satu-satunya anak perempuan, sehingga otomatis menjadi sosok paling istimewa di keluarga kami. Barangkali tanpa sengaja, baik Bapak dan Ibu, bahkan aku maupun Beni, sudah sering bersikap diskriminatif terhadap mereka sedari Dino dan Vina masih kecil. Ketika kedua bocah itu dahulu bermain bersama, lalu Vina menangis, maka Dino selalu disalahkan dan menjadi sasaran kemarahan kami. Seiring waktu, Vina lantas melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sementara Dino memutuskan bekerja di bengkel sepeda motor sesudah lulus dari SMK. Seusai merampungkan kuliahnya, Vina bekerja di Jakarta, dan tak lama kemudian bertemu dengan jodohnya. Sementara itu, tempat Dino bekerja tidak banyak pelanggannya, jadi kadang ia bagaikan seorang penganggur belaka. Maklumlah, kota tempat tinggal orangtua kami memang tak terlalu besar. Lalu dalam soal asmara, mesti berkali-kali pula Dino patah hati.

Bukannya aku tak pernah mencoba membantu adikku. Aku sempat mengajaknya tinggal bersamaku supaya bisa bekerja di Jakarta. Dino tak mau, karena ia kasihan pada orangtua kami yang usianya semakin menua. Memang hanya dirinya yang masih tinggal bersama mereka. Beni dan keluarganya telah memiliki rumah sendiri, meski masih berada di kota yang sama. Kuhargai pilihan Dino, apalagi alasannya adalah berhasrat menjadi anak yang berbakti pada Bapak dan Ibu.

Sesampainya di kantor polisi, perlu waktu hampir dua jam sebelum kami akhirnya diperbolehkan membawa pulang saudara kami. Orang yang ditabrak Dino dengan sepeda motornya -menurut polisi- hanya mengalami luka ringan. Adikku sendiri mendapatkan luka yang tidak seberapa di wajah, dada, tangan, maupun kakinya. Beruntunglah Dino, lantaran pihak keluarga korban tak ingin membawa insiden tersebut ke ranah hukum. Mereka meminta penyelesaian masalah ganti rugi dilakukan secara kekeluargaan belaka tanpa tergesa-gesa.

”Apa yang akan kau katakan, jika Ibu melihatmu seperti itu?” tanyaku di dalam mobil yang membawa kami berlalu dari kantor polisi.
”Saya naik motor dan tabrakan di jalan. Apa lagi yang mesti saya bilang, Mas?” sahut Dino dengan raut wajah datar.
”Dino, apa kau tidak sadar sudah bikin susah banyak orang?” ucap Beni dengan suara agak keras. Ia tampak geregetan melihat sikap adiknya yang seolah tak merasa bersalah.
”Ben, yang penting malam ini Dino bisa pulang,” kataku yang berada di belakang kemudi. Beni duduk di sampingku, sementara Dino di kursi belakang bersama Om Narso.
“Dino, jika boleh Om menyarankan, nanti sampai rumah, kau bersedia kan, mandi dan segera tidur? Oh ya, kamu sudah makan belum?” Om Narso ikut bersuara.

Dino ternyata belum makan, sehingga kami memutuskan mampir di sebuah warung tenda yang masih buka di seputar alun-alun. Rasanya kami memang perlu menenangkan hati masing-masing sebelum kembali ke rumah.
”Mas Rano, Mas Beni, dan juga Om Narso, saya minta maaf. Seharusnya sejak sore tadi, saya tak perlu ke mana-mana,” ujar Dino setelah rampung makan mie ayam dan minum teh hangat. Kami bertiga sempat saling menatap, lantas tersenyum bersama menyikapi kata-kata Dino.
”Ya, sudahlah. Masih kau ingat kan, apa saran Om Narso tadi?” tanyaku.
”Iya, Mas. Terima kasih ya, kalian bertiga sudah mau menjemput saya sehingga bisa tidur di rumah malam ini,” sahut Dino sambil tersenyum.

Aku lega, kami bisa pulang dengan hati yang lebih tertata. Setibanya di rumah, Dino bersedia melakukan saran paman kami. Syukurlah, Ibu sudah masuk ke kamarnya, setelah sempat menemani Vina terjaga sampai pukul dua belas malam. Kulihat waktu menunjukkan jam satu lebih sepuluh menit dini hari. Masih ada beberapa kerabat kami yang terjaga di depan rumah.

***


Hari pernikahan adik perempuanku tiba. Segala sesuatunya berlangsung mulus tanpa aral gendala. Aku sebenarnya sempat khawatir, ketika melihat Ibu pagi-pagi bertanya pada Dino tentang wajahnya yang memar.
”Ibu tidak usah cemas. Tadi malam saya hanya jatuh dari motor,” sahut Dino.
Ibu tampak mengangguk dan menyibukkan diri lagi. Perasaanku kembali tidak tenang kala melihat putra-putri almarhum Pakde Parto datang. Tapi tampaknya Mbak Runi tahu mesti menjawab apa, jika Ibu menanyakan kabar ayahnya.

Sekian jam kemudian, ketika malam menjelang, kami sekeluarga tengah berkumpul di dalam rumah. Pada intinya, kami mensyukuri hajat besar keluarga dapat berjalan lancar. Bapak kemudian memintaku menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum adik perempuanku bersanding di pelaminan.

”Ibu, sebelumnya kami mohon maaf. Ada sesuatu yang terjadi kemarin, tapi Ibu mungkin belum tahu,” kataku yang berusaha berhati-hati sekali menyusun kalimat.
”Apa maksudmu, Nak?” tanya Ibu.
”Mmm… Ini tentang Pakde Parto.”
“Hah, pakdemu kenapa?”
“Semoga Ibu bisa kuat dan sabar mendengar kabar ini. Pakde Parto kemarin sudah meninggalkan kita semua.”

Serta merta pecahlah suara tangisan Ibu. Mataku ikut berkaca-kaca menatap reaksi ibuku. Beliau tampak terpukul mendengar berita kepergian kakak sulungnya. Kami berusaha menenangkan kegalauan hati Ibu. Bapak lekas saja memeluk istrinya dan mengelus-elus punggungnya. Yang tidak kuduga, beliau ternyata memiliki firasat tersendiri tentang wafatnya Pakde Parto.

”Menjelang bangun tidur subuh tadi, Ibu sempat bermimpi didatangi Pakde Parto. Beliau hanya tersenyum, jadi Ibu mengira kondisinya baik-baik saja. Ternyata, mungkin itulah salam perpisahan dari beliau,” ujar Ibu yang masih berurai air mata.

Esok harinya, kami sekeluarga berziarah ke makam saudara tertua Ibu, setelah sebelumnya mengunjungi rumah keluarga Pakde Parto. Ibu berusaha mengikhlaskan diri menerima takdir Ilahi atas kakaknya. Yang paling penting, tiada masalah berarti selama acara pernikahan Vina kemarin. Tentang insiden yang terjadi pada Dino, biarlah nanti Bapak saja yang menceritakannya pada Ibu di lain waktu.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Lampung Post Minggu, 20 Juli 2014.

Senin, 20 Maret 2017

Kisah Silam yang Terabaikan

 Andaikata orang berkomentar hidupku sudah sempurna, aku akan setuju dan mengucapkan terima kasih. Bukannya aku takabur, melainkan justru ungkapan syukur. Dalam tiga tahun belakangan saja, aku bisa tinggal santai di rumah atau berlibur ke mana saja kumau. Adakalanya kuajak istriku semata atau bersama anak cucuku sekalian. Segala urusan perusahaan telah kupercayakan kepada Julian, anak lelakiku yang nomor satu. Sesekali belaka aku ke kantor, sekadar mengontrol situasi dan kondisi perusahaan. Rasanya tinggal kunikmati manisnya hidup menjelang lima puluh tujuh usiaku kini, sesudah bekerja keras sekian masa. Namun, sekonyong-konyong sejumlah peristiwa tak terduga secara berurutan mengusik kemapanan hidupku.
 Awalnya, sebuah kecelakaan lalu lintas menimpa Julian. Ia mengalami koma dengan luka parah di kepala dan sekujur badan, setelah mobil yang dikendarainya diterjang sebuah truk tronton. Julian harapan utamaku sebagai penerus sekaligus pemimpin beragam bisnisku. Sepekan kemudian, giliran Novisha -anak keduaku- yang terkena musibah. Kafe yang dikelolanya mengalami kebakaran hingga tinggal puing belaka. Sayangnya, ia belum sempat mengasuransikan tempat usahanya. Novisha begitu terpukul. Hanya tiga hari setelah itu, giliran Maretta -anak bungsuku- mengalami hal kelam. Ia diperkosa.
Aku tak mengerti mesti bersikap bagaimana. Lelaki mana pun pasti terpuruk hatinya dengan nasib buruk anak-anaknya sedemikian rupa. Mengapa semua terjadi secara beruntun? Kucoba introspeksi diri, mungkinkah ada kesalahan besar bertahun-tahun silam, yang kini sudah tak kuingat lagi, bahkan kuanggap tak pernah terjadi? Sungguh kutelusuri langkahku selama ini, hingga akhirnya kuingat sebuah peristiwa pahit di masa lalu. Segala kesialan yang menimpa anak-anakku bisa jadi berkaitan dengan hal itu, kendati belum kuyakini.

***
Terus terang, aku pernah melakukan hal tak terpuji di masa mudaku. Aku masih kelas II SMA ketika pacarku mengaku hamil. Jadi, kejadiannya lebih dari tiga puluh tahun silam. Tentu aku sangat terperanjat. Aku sempat tak mampu jernih berpikir, hingga terlintas rencana menggugurkan kandungan pacarku. Entahlah, aku mesti bersyukur atau menyesali batalnya niat busuk tersebut.
Sekiranya waktu itu ada yang memaksaku menikahinya, aku tak akan menghindarinya. Namun, ibu pacarku ternyata tak sudi anaknya menjadi istriku, sementara ibuku hanya bisa pasrah. Tak perlu ditanyakan bagaimana reaksi ayahku. Kendati orangtuaku belum pernah bercerai, tapi sudah lama ayahku tidak lagi serumah dengan kami. Ia tinggal bersama istri muda dan anak-anaknya sudah lama. Sementara itu ayah pacarku hanya bisa menuruti kata sang istri. Ia bekerja di tempat yang jauh bersama istri mudanya pula, tapi sesekali masih sempat pulang menemui keluarganya. Aku dan pacarku merupakan potret nyata anak-anak dari keluarga yang berantakan. Kami seakan pergi sejenak dari kenyataan pahit saban berjumpa. Lalu ada kebahagiaan yang tak terkatakan kala kami berdua bisa melakukan apa saja.
Aku menangis tersedu ketika diberitahu bahwa pacarku telah melahirkan anak kami. Bersama sejumlah kawan karibku, aku tengah berlatih basket di sekolahku. Tak akan kuingkari bayi itu merupakan darah dagingku. Namun, aku bukanlah ayahnya yang sah selama ibu anak itu tak pernah kunikahi. Tak bisa kupaksa pacarku yang akhirnya malah putus denganku dan pergi menjauh membawa buah cinta kami. Aku tak mau ambil pusing dan kulanjutkan hidupku tanpa mengingat yang pernah terjadi.
Selama bertahun-tahun aku berkonsentrasi belajar dan bekerja keras hingga memiliki karier cemerlang sebagai pengusaha. Ada Juwita istriku beserta Julian, Novisha, serta Maretta, anak-anakku tercinta yang membuat hidupku serasa lengkap. Begitulah riwayatku sebelum ketiga anakku mengalami rentetan musibah. Firasatku mengatakan ada hal yang mesti kuselesaikan dengan bekas pacarku maupun anak kami. Namun, bagaimana kabar mereka dan di manakah mereka berada kini?

***
Perempuan di depanku mengaku bernama Nirmala. Usianya tiga puluh tujuh. Ialah anak kandungku yang tak pernah tercatat di lembaga apa saja sebagai keturunanku yang sah. Perempuan ayu berwajah masam itu mendatangi ruang kerjaku yang lebih sering kukunjungi sejak Julian tak sadarkan diri. Anehnya, aku langsung mengiyakan ketika sang sekretaris memberitahuku ada yang ingin menemuiku untuk urusan pribadi. Tebersit isyarat di kalbuku bahwa ia bukanlah tamu biasa.
“Maaf, jika kedatangan saya mengusik ketentraman hidup Bapak,” ucap Nirmala seusai memperkenalkan diri.
“Nirmala, saya justru senang sekaligus takjub karena tiba-tiba kau kemari. Apakah gerangan yang membuatmu menemui saya hari ini?” kataku yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
Baru saja kuingat kembali kisah silam yang terabaikan. Sehabis itu, menjelmalah kerinduan bagi Nirmala dan perempuan yang melahirkannya, justru ketika anak-anakku dengan Juwita mengalami hal tak menyenangkan. Tiba-tiba orang yang mengaku anakku berada tepat di depan mata.
“Apakah Bapak tidak curiga? Bisa saja saya penipu yang mengaku-aku sebagai putri Bapak,” sahut Nirmala yang mungkin heran melihat reaksiku.
 “Ah, Nirmala! Tidakkah kau tahu, saya sebenarnya sedang merindukan kalian? Kau dan juga ibumu.”
“Kenapa?”
“Saya ingin menebus kesalahan saya yang tak pernah pedulikan kalian selama ini. Saya harap, kau sudi memaafkan bapakmu yang sudah bertindak keterlaluan,” kataku tanpa bisa menahan gejolak di dada. Tentu tak kulupakan pula nasib buruk yang menimpa Julian dan kedua adiknya. Aku berdiri mendekati Nirmala dan memeluknya. Ia menurut belaka tanpa kata.
Belum lama kutuntaskan rindu, mendadak terdengar pintu diketuk, kulepaskan pelukanku dari tubuh Nirmala, dan masuklah perempuan yang sangat kukenal. Juwita datang mengajakku menjenguk Julian. Sekejap aku bagai terperangkap dalam situasi yang tak pernah kuprediksi bisa terjadi. Aku berusaha tetap tenang demi menguasai keadaan.
”Papa? Siapa perempuan yang bersamamu?” tanya Juwita dengan nada agak tinggi. Kulihat Nirmala salah tingkah dan bingung bersikap bagaimana.
”Mama, kumohon kau bersedia sabar mendengarkan kata-kataku,” ujarku seraya membimbingnya agar duduk. Beruntunglah Juwita bersedia. Istriku bukan sosok yang mudah meledak, tapi wajarlah jika bergemuruh hatinya memergoki aku tengah berdua bersama seorang perempuan.
”Mama, sebenarnya sudah lama Papa ingin mengungkapkan hal ini. Papa masih mencari waktu yang tepat, tapi rupanya momentum itu sudah tiba kini.”
”Sudahlah, langsung Papa jelaskan, dia itu siapa? Ingat, kita harus segera ke rumah sakit,” ucap Juwita.
”Baiklah. Perempuan ini namanya Nirmala. Dia anak kandung Papa. Semoga Mama bisa menerimanya.”
”Hah, masak Papa punya anak sedewasa itu?”
”Papa harus bicara panjang lebar soal itu. Tapi untuk saat ini, kumohon Mama tidak bereaksi berlebihan. Kita jadi menjenguk Julian? Ayo, kita berangkat sekarang.”
Syukurlah, istriku mampu bersikap biasa belaka, kendati aku tak tahu kondisi sejati hatinya. Kuajak Nirmala pergi bersama kami menuju rumah sakit, tapi aku memakai mobil yang berbeda dengan istriku. Satu mobil bersama Juwita, ada Maretta yang sudah mulai pulih luka jiwa raganya. Aku kemudian duduk membisu di samping Nirmala.
”Maaf, tadi saya belum sempat mengutarakan maksud saya,” kata Nirmala memecah kesunyian.
“Oh, ya. Jadi, saya bisa membantumu apa?” sahutku.
“Saya mohon Bapak bisa mencarikan pengacara.”
”Hah, pengacara? Siapa yang memerlukannya? Ada kasus hukum apa rupanya?”
”Anak saya, Ryan namanya. Dia ditangkap polisi karena kasus narkoba. Bisakah Bapak membantu saya?”
 ”Hah, kau sudah punya anak, berapa usianya? Soal pengacara, kau tenang saja. Ada pengacara keluarga kami yang bisa saya hubungi saat ini juga.”
”Ryan usianya tujuh belas. Dia sekarang kelas II SMA.”
”Ah, ternyata saya punya cucu yang sudah remaja, ya? Sayang, dia sedang terbelit masalah,” komentarku sendu.
“Bapak tidak ingin tahu kabar tentang Ibu?” tanya Nirmala sambil melirikku.
“Ya, saya sebenarnya ingin menanyakan hal itu. Di mana dia sekarang?”
“Ibu sudah wafat sepuluh tahun silam. Sebetulnya saya sudah tahu siapa bapak saya sejak Ibu masih ada. Tapi kami tak pernah berniat mengganggu kehidupan Bapak. Jika tidak demi Ryan, saya tak akan nekad hari ini menemui Bapak. Saya selalu ingat kata Ibu bahwa bapak saya sebenarnya orang baik. Dan saya percaya itu setelah ketemu Bapak sekarang,” ucap Nirmala terbata-bata, tanpa mampu membendung air matanya yang mengalir. Kuambilkan dia tisu dan kuelus-elus punggung anak perempuan yang baru kujumpai kembali. Bergeming belaka diriku tanpa suara.
Kami sudah sampai di rumah sakit. Kuperkenalkan Nirmala pada Maretta ketika kami berjalan beriringan menuju kamar Julian.
“Nirmala, ini anak bungsu Bapak. Maretta, ini saudaramu,” ujarku pendek.

Di dalam kamar sudah ada Novisha dan suaminya, ada pula istri Julian bersama anak bungsunya. Sebuah kejutan menggembirakan hadir begitu rupa. Sebelum kami masuk ke kamar, Julian sempat membuka matanya. Padahal sudah sekitar dua pekan ia tak sadarkan diri. Dokter  berkata bahwa kondisi kesehatan Julian membaik. Kami menyambutnya dengan rasa syukur dan sukacita. Aku menjadi lelaki paling bahagia hari ini. Julian telah sadar dari tidur panjangnya. Lalu kulihat Novisha kembali bersemangat mengurus bisnisnya. Maretta pun tidak perlu waktu lama melewati masa traumanya dan siap menjadi saksi di pengadilan. Dan yang terakhir, tentu saja kehadiran Nirmala. Kendati ia datang membawa kisah sedih, tapi Tuhan masih berkenan mempertemukan diriku dengan anak tertuaku yang sekian masa terlupakan. Aku berjanji akan meringankan beban hidup Nirmala, walau tak bakal cukup menebus kesalahanku pada dirinya dan ibunya. Kuharap Juwita, Julian, Novisha, dan Maretta pun bersedia menerima Nirmala dengan tangan terbuka, biarpun bisa kuduga, hal itu tak akan mudah bagi mereka.

#Cerpen ini dimuat di Harian Waktu, 17 Maret 2017.