Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2022

Memilih Menjadi Ibu Tiri

 

Alia sungguh berharap kedua orangtuanya tidak akan terkejut dengan keterusterangan yang disampaikannya, kendati barangkali mereka tidak serta merta menyetujui pilihannya. Tujuan utama kepulangannya kali ini memang merundingkan rencana masa depannya bersama Santoso di hadapan bapak ibunya. Setelah sampai di rumah dan sejenak beristirahat di kamarnya, Alia lantas menghadap kedua orangtuanya yang tengah bersantai di serambi rumah, Minggu pagi itu.

“Bapak dan Ibu, Alia ingin mengatakan sebuah hal penting,” ujar Alia.
“Silakan saja, Bapak dan Ibu siap mendengarkan,” sahut bapaknya sambil menaruh koran yang baru dibacanya. Ibu yang sedang membaca sebuah majalah pun menganggukkan kepalanya seraya menatap lembut wajah putri terkasihnya.
“Seperti yang Bapak dan Ibu tahu, saya kan sudah beberapa bulan ini dekat dengan Mas Santoso. Nah, kami sudah bersepakat untuk melangkah lebih jauh. Mas Santoso berniat akan segera melamar saya. Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?”
”Ya, kalau kau sendiri sudah mantap dengan pilihanmu, tinggal dicari saja waktu yang tepat, supaya orangtua Santoso bisa datang kemari,” ucap Bapak.

”Mmm… Mas Santoso sudah tidak punya orangtua, Pak. Dan ada satu hal lagi yang belum pernah saya haturkan kepada Bapak dan Ibu,” kata Alia lagi.
”Apa itu, Nak?” tanya Ibu dengan mengernyitkan dahi.
”Mas Santoso adalah duda dengan tiga orang putri. Dan usia Mas Santoso dua puluh tahun lebih tua ketimbang saya”
”Hah, jadi pacarmu itu sudah cukup berumur dan punya anak?” komentar Bapak cukup kaget. Ibu pun tampak sedikit terperanjat, tapi dapat lekas menguasai diri.
”Iya, Pak. Memang kenapa jika demikian?” Alia ingin lekas tahu pendapat orangtuanya.

”Buat Ibu sih, terserah kau saja, siapa yang sungguh kau cintai dan kau anggap baik. Tapi apa kau sudah siap menjadi seorang ibu tiri, Alia? Ibu sih percaya, putri kesayangan Ibu pasti bisa menjadi ibu yang baik. Ibu kenal sekali karaktermu seperti apa. Namun pasti tak mudah bagimu menjadi ibu tiri yang baik, Nak,” tutur Ibu yang sedikit khawatir dengan masa depan putrinya.
”Insya Allah, saya akan berusaha benar untuk itu. Terima kasih ya, Bu. Jika ada doa restu dari Ibu dan Bapak, saya pasti sanggup menjalaninya,” jawab Alia.

”Memang Bapak terus terang rada kaget dengan yang kau ucapkan baru saja. Bapak setuju apa kata ibumu. Yang terpenting, tetap kau sendiri yang akan menjalaninya. Hanya lebih baik biarkan Santoso ketemu kami lebih dahulu, sebelum keluarganya nanti resmi datang melamarmu. Bapak ingin kenal betul dengan calon menantu Bapak,” ucap Bapak bijak.

Alia lega sekali, kedua orangtuanya ternyata tidak keberatan menerima lelaki yang dicintainya adalah seseorang yang telah berkeluarga. Ia ingat, Nora kakaknya sempat ditentang habis-habisan ketika memilih Wayne Rogers, seorang lelaki Inggris, menjadi pasangan hidupnya. Apalagi Nora malah kemudian hijrah ke negeri Ratu Elizabeth mengikuti suaminya.

”Sebetulnya Bapak lebih suka mendengar calon suamimu itu perjaka yang usianya tak beda jauh denganmu, Alia. Tapi Bapak sudah belajar dari pengalaman kakakmu dulu, jadi tidak ada gunanya lagi menghalangi keinginan putri kami sendiri,” lanjut Bapak kepada Alia.
”Mungkin memang begitulah nasib putri-putri kita, Pak. Dulu Nora dipersunting orang Inggris dan pindah ke sana, sementara sekarang Alia akan menikah dengan duda beranak tiga,” komentar Ibu yang tersenyum seraya mengelus-elus rambut putrinya.

”Terima kasih ya, Bapak dan Ibu. Alia sangat bersyukur memiliki orangtua yang memahami keinginan anaknya,” sahut Alia dengan mata berkaca-kaca.
”Kami juga bersyukur punya anak sebaik dirimu. Bapak yakin, Tuhan akan memberikan jalan terbaik sepanjang hidupmu, apa pun yang kau pilih nanti,” ucap Bapak yang tampak terharu pula bersama Ibu.
”Alia, apakah putri-putri Mas Santoso sudah mau menerimamu sebagai calon ibu baru bagi mereka?” tanya Ibu seusai mengusap air matanya dengan sapu tangan.
”Sebetulnya, selama ini saya sudah berhubungan cukup dekat dengan mereka bertiga, Bu. Tapi anehnya, begitu tahu Mas Santoso mau menikahi saya, si sulung yang bernama Andara tampaknya keberatan. Dia kemudian malah mengambil jarak dengan saya. Sementara adik-adiknya, Devina dan Elvara, justru senang sekali. Mereka berdua jadi lebih akrab dengan saya akhir-akhir ini.”

”Lalu, apa yang sudah kalian lakukan menghadapi sikap Andara?” tanya Bapak.
”Mas Santoso sedang berusaha meyakinkan putrinya bahwa saya mampu menjadi ibu yang baik bagi Andara dan kedua adiknya. Saya sendiri akan mengajaknya bicara dari hati ke hati dan mencoba membuatnya percaya kepada saya.”
”Semoga upaya kalian berhasil, Nak. Yang jelas, Ibu dan Bapak di sini pasti akan menerima serta menyayangi Andara dan adik-adiknya sebagaimana cucu kandung kami sendiri. Lihat saja, jika kami bertemu dengan mereka nanti,” ujar Ibu memberi jaminan.
”Iya Bu, sekali lagi terima kasih. Saya mesti yakin, kami kelak bisa menikah dengan restu seluruh putri Mas Santoso,” kata Alia dengan suara bergetar.

***

Santoso kemudian bertandang ke rumah orangtua Alia dengan membawa ketiga putrinya. Ketulusan sikap dan perhatian dari seluruh keluarga Alia saat menerimanya, membuat Santoso yakin bahwa Alia adalah perempuan terbaik yang mampu menjadi istrinya dan ibu baru untuk anak-anaknya. Andara yang semula masih memasang wajah tegang kala datang pun mulai mencair sikapnya melihat Devina dan Elvara cepat akrab dengan orangtua maupun adik-adik dari Alia. Tampaknya, kecemasannya akan memiliki seorang ibu tiri yang jahat mesti segera disirnakannya dari hati.

Sekian pekan berselang, Santoso dengan diantarkan oleh kerabatnya secara resmi datang melamar Alia. Yang unik, orang yang menggantikan posisi orangtua Santoso adalah mantan mertuanya, bapak dari almarhumah istri pertamanya yang telah tutup usia.

”Sepeninggal putri kami, Nak Santoso sudah seperti anak kandung kami sendiri. Oleh karena itu, justru saya yang sekarang datang melamar untuk dirinya. Sekiranya nanti Nak Alia menjadi istri Nak Santoso, dia menjadi seperti pengganti putri kami,” ujar mantan bapak mertua Santoso di hadapan keluarga Alia.
“Bapak, kami semakin percaya bahwa Saudara Santoso merupakan lelaki yang mulia hatinya. Baru kali ini, kami menemui ada seorang mantan mertua yang bersedia datang melamar untuk suami putrinya yang telah tiada. Kami sekarang tinggal menyerahkan semuanya kepada Alia agar bisa menjawabnya,” sahut salah satu paman Alia mewakili keluarga besarnya.

Tentu saja, Alia tak lagi berpikir panjang dan menerima lamaran Santoso. Dua bulan kemudian, mereka berdua jadi bersanding di pelaminan. Andara, gadis berusia empat belas tahun itu, sudah menerima pilihan bapaknya serta berjanji akan menerima dengan baik Alia sebagai ibu barunya.

***

Kehidupan rumah tangga baru Alia dan Santoso telah berlangsung sekian bulan. Alia tiba-tiba merasa sangat gelisah. Sebuah film baru yang bertajuk ’Ratapan Anak Tiri’ sedang menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri dan sebentar lagi kabarnya akan diputar di bioskop yang ada di kota tempat tinggalnya. Ia kemudian mencurahkan kegundahan hatinya kepada sang suami, sepulang mereka berdua dari bekerja.

”Mas Santoso sudah tahu, ada film judulnya ’Ratapan Anak Tiri’ yang sebentar lagi diputar di sini?” tanya Alia tanpa menyembunyikan kecemasannya.
”Iya, saya sudah dengar. Tapi apa ceritanya, saya belum tahu persis.”
”Ceritanya tentang anak yang lahir batinnya menderita karena memiliki seorang ibu tiri yang jahat, Mas.”
”Hah, begitu ceritanya? Sangat klise. Siapa sih yang membuat film itu, apa dia tidak pernah mengerti, di alam nyata ini, seorang ibu tiri pun bisa baik hatinya?” kata Santoso sedikit sewot.
”Ya, dia mungkin memang tidak tahu. Saya sebetulnya khawatir, anak-anak bakal terpengaruh dengan film itu, Mas. Walaupun sejauh ini rasanya saya tidak pernah berbuat jahat terhadap Dara, Vina, maupun Vara,” ucap Alia sembari berusaha menahan air matanya supaya tak sampai tumpah. Santoso yang memahami kesedihan istrinya pun lekas memeluk perempuan yang sungguh dicintainya.
”Tidak, Dik Alia. Saya yakin, anak-anak tidak akan percaya dengan isi film tidak bermutu itu. Andara dan adik-adiknya sudah tahu persis, Dik Alia adalah ibu yang baik bagi mereka. Sudahlah, mending kita tak perlu terlalu khawatir dengan film itu, apalagi sampai menontonnya.”

”Mas, bagaimana jika kita ajak saja anak-anak menonton film itu?” ujar Alia serta merta, yang membuat Santoso tentu saja sangat terperanjat.
”Hah, apa aku tidak salah dengar? Bagaimana dengan kecemasanmu tadi?”
”Justru itu, aku ingin membuktikan apa kata Mas Santoso. Jika anak-anak percaya bahwa aku merupakan ibu tiri yang baik bagi mereka, pasti mereka tidak akan terpengaruh dengan apa pun materi film itu kan, Mas?” ucap Alia yang jadi bersemangat.
”Dik Alia, aku memang tak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku. Cara berpikirmu itu luar biasa! Aku setuju dan mendukung gagasanmu. Mari kita ajak anak-anak menonton ’Ratapan Anak Tiri’ dan biarkan mereka justru bersyukur karena kenyataan yang mereka hadapi tidak seperti yang digambarkan film itu.”

Maka ketika film yang ramai dibicarakan khalayak tersebut jadi diputar di bioskop, Santoso pun mengajak Alia bersama ketiga putrinya menyaksikannya beramai-ramai. Mereka memang sempat terharu melihat nasib malang si anak karena ulah ibu tirinya yang sangat jahat dalam cerita film tersebut. Lantas, apa kata ketiga putri Santoso setelah film usai?

”Itu sih salah bapaknya, kenapa dia memilih wanita jahat sebagai istrinya?” ucap Devina, si anak kedua yang berusia dua belas tahun.
”Iya, betul itu, Kak. Orang gadis yang baik masih banyak, kenapa dia mesti memilih wanita itu?” komentar Elvara, sang bungsu yang baru berumur sembilan tahun.
Santoso dan Alia sebatas tersenyum mendengarkan komentar mereka. Andara yang semula hanya diam, akhirnya ikut bersuara sambil matanya melirik ke arah Alia.
”Yang paling penting, kenyataannya kita bertiga hanya punya seorang ibu yang baik hati. Tidak ada itu, ibu tiri yang jahat dalam hidup kita. Dan bukankah kita sangat senang menjalani hidup seperti ini, adik-adikku?”
”Iya, kami setuju!” teriak Devina serta Elvara nyaris berbarengan. Ketiga gadis muda tersebut saling memandang, lalu sama-sama menatap Alia dengan senyuman.
”Kami semua sayang sama Ibu,” kata Andara, Devina, dan Elvara secara spontan, sambil tiba-tiba memeluk Alia dengan hangat.

Sempat terpana belaka Alia mendapat perlakuan serupa itu. Ia begitu bersukacita, maka dibiarkannya saja air mata haru membasahi wajah cantiknya dalam pelukan tulus ketiga putrinya. Memilih Santoso sebagai suaminya serta menjadi ibu tiri bagi Andara, Devina, dan Elvara ternyata sebuah karunia yang indahnya luar biasa. Sementara itu, Santoso tersenyum dengan mata berkaca-kaca memerhatikan apa yang terjadi. Sekali lagi, ia merasa sungguh beruntung telah dipertemukan dengan gadis berhati mulia yang akhirnya menjadi istri terkasihnya.

TAMAT

# Cerpen ini (versi yang sudah disunting redaktur) pernah dimuat di Inilah Koran Minggu, 27 April 2014 dengan judul "Ibu Tiri”.

Minggu, 24 Oktober 2021

Menjelang Pernikahan Adik Perempuanku


Sebentar lagi, keluarga kami memiliki hajat besar. Bapak dan Ibu akan menikahkan Vina, adik bungsuku sekaligus satu-satunya anak perempuan orangtuaku. Untuk sementara kutinggalkan Jakarta agar bisa kubantu persiapan acara keluarga yang tak biasa di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bagi Bapak dan Ibu, pernikahan Vina di hari Minggu nanti merupakan kesempatan tunggal bagi mereka mengadakan acara mantu, jadi kami sangat serius mempersiapkan semua hal, tentunya agar acara tersebut berlangsung mulus sesuai asa bersama.

Sehari sebelum pernikahan adikku, tepatnya pada Sabtu pagi, sebuah berita duka kami terima. Pakde Parto, kakak tertua ibuku -yang sudah sakit parah selama dua tahun terakhir- tutup usia. Beliau wafat ketika fajar menyingsing dan akan langsung dimakamkan siangnya karena semua anak cucu Pakde Parto kebetulan sudah berkumpul. Mereka datang sebenarnya untuk menghadiri pernikahan adikku keesokan harinya. Kota tempat tinggal Pakde Parto dan kota kami sendiri terpisah jarak belasan kilometer belaka.

”Mungkin ibumu jangan diberitahu dulu, demikian pula Vina,” usul Mbak Runi ketika memberi kabar padam nyawanya sang ayah lewat telepon.
”Iya Mbak, lebih baik begitu. Saya mewakili keluarga besar Bapak turut berduka atas wafatnya Pakde Parto. Mohon maaf, kami mungkin tak sempat melayat”
”Kami maklumi kalian yang tak bisa datang. Sekarang mending kamu urus persiapan pernikahan Vina. Sampai jumpa besok ya, Dik.”

Betapa tidak nyamannya perasaanku. Pakde Parto berakhir riwayat hidupnya, tapi Ibu yang merupakan adik kandung almarhum malah belum tahu. Padahal sejumlah kerabat yang berada di rumah kami sudah mengerti kabar itu. Kuminta mereka semua agar merahasiakan berita duka tersebut agar tidak sampai ke telinga Ibu maupun Vina. Kekhawatiran Mbak Runi memang beralasan lantaran ibuku memiliki penyakit jantung. Sebuah kejutan tak menyenangkan manakala tengah menyambut acara membahagiakan putri bungsunya, bisa saja mempengaruhi kondisi kesehatan Ibu. Demikian pula dengan Vina yang mesti dijaga agar konsentrasinya tak buyar menjelang hari istimewanya. Aku tahu, ia memiliki hubungan yang hangat pula dengan pakdenya. Kendati kecewa tak bisa mendatangi pemakaman Pakde Parto, tapi aku paham, tanggung jawabku tak ringan demi menjamin kelancaran hajat besar keluarga kami.

***
Lantaran Vina menikah mendahului Dino, salah satu kakaknya, maka ada upacara menyerahkan pelangkah sesuai dengan adat Jawa. Namun sehabis acara tersebut dilaksanakan, Dino kemudian pergi tanpa pamit. Ia menghilang begitu saja dari rumah.
”Bagaimana ini, Mas? Tidak ada yang tahu, Dino pergi ke mana,” ucap Beni adikku menjelang acara midodareni.
”Dino sudah dewasa, Ben. Tak usahlah kita terlalu memikirkan dia. Aku percaya, dia bisa jaga diri. Besok pagi ketika Vina menikah, dia pasti sudah pulang,” sahutku mencoba menenangkan Beni.

Beberapa saat setelah acara midodareni usai, Dino tetap belum terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba Bapak memanggilku dengan raut wajah tegang.
”Ada apa, Pak? Baru saja Bapak terima telepon dari siapa?” tanyaku.
”Itu tadi dari kantor polisi. Adikmu Dino ada di sana,” sahut Bapak agak berbisik.

Ternyata Dino berada di tempat itu karena -menurut keterangan polisi- ia mabuk dan telah menabrak orang di jalan. Ah, ada-ada saja peristiwa yang terjadi menjelang pernikahan Vina besok pagi.
”Tolong, kamu jemput adikmu, ya. Kata polisi, dia boleh dibawa pulang, asal ada jaminannya,” kata Bapak lagi.
”Baiklah, Pak. Serahkan saja urusan Dino pada saya. Oh ya, tolong Bapak jaga Ibu agar tidak sampai tahu masalah ini,” ujarku. Bapak pun menganggukkan kepalanya.

Bergegas saja aku beranjak pergi bersama Beni dan Om Narso -adik kandung Bapak- menuju kantor polisi. Moga-moga kami bisa melakukan negosiasi dengan mereka agar Dino bisa pulang selekasnya.
”Ben, kamu tahu Dino sedang ada masalah apa?” tanyaku pada Beni di dalam mobil.
”Tidak tahu, Mas. Cuma beberapa hari ini, dia kelihatan lebih pendiam,” sahut Beni.
”Apa dia sebelumnya sering mabuk?”
”Sepertinya terakhir sekitar dua minggu lalu, waktu habis putus dengan pacarnya. Begitu yang saya dengar dari Ibu.”
”Apa mungkin dia sebenarnya kurang ikhlas, karena adiknya menikah mendahului dirinya?” tanya Om Narso.
”Mungkin saja, Om,” ucapku.
”Om hanya berpesan agar kalian jangan memarahi Dino. Biarkan dia nanti pulang dengan hati nyaman. Dia mungkin merasa kurang mendapat perhatian saja.”

Aku dan Beni mengiyakan apa kata Om Narso. Dalam hati kucoba memaklumi kelakuan adikku. Usia Dino hanya setahun lebih tua daripada Vina, sementara Vina satu-satunya anak perempuan, sehingga otomatis menjadi sosok paling istimewa di keluarga kami. Barangkali tanpa sengaja, baik Bapak dan Ibu, bahkan aku maupun Beni, sudah sering bersikap diskriminatif terhadap mereka sedari Dino dan Vina masih kecil. Ketika kedua bocah itu dahulu bermain bersama, lalu Vina menangis, maka Dino selalu disalahkan dan menjadi sasaran kemarahan kami. Seiring waktu, Vina lantas melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sementara Dino memutuskan bekerja di bengkel sepeda motor sesudah lulus dari SMK. Seusai merampungkan kuliahnya, Vina bekerja di Jakarta, dan tak lama kemudian bertemu dengan jodohnya. Sementara itu, tempat Dino bekerja tidak banyak pelanggannya, jadi kadang ia bagaikan seorang penganggur belaka. Maklumlah, kota tempat tinggal orangtua kami memang tak terlalu besar. Lalu dalam soal asmara, mesti berkali-kali pula Dino patah hati.

Bukannya aku tak pernah mencoba membantu adikku. Aku sempat mengajaknya tinggal bersamaku supaya bisa bekerja di Jakarta. Dino tak mau, karena ia kasihan pada orangtua kami yang usianya semakin menua. Memang hanya dirinya yang masih tinggal bersama mereka. Beni dan keluarganya telah memiliki rumah sendiri, meski masih berada di kota yang sama. Kuhargai pilihan Dino, apalagi alasannya adalah berhasrat menjadi anak yang berbakti pada Bapak dan Ibu.

Sesampainya di kantor polisi, perlu waktu hampir dua jam sebelum kami akhirnya diperbolehkan membawa pulang saudara kami. Orang yang ditabrak Dino dengan sepeda motornya -menurut polisi- hanya mengalami luka ringan. Adikku sendiri mendapatkan luka yang tidak seberapa di wajah, dada, tangan, maupun kakinya. Beruntunglah Dino, lantaran pihak keluarga korban tak ingin membawa insiden tersebut ke ranah hukum. Mereka meminta penyelesaian masalah ganti rugi dilakukan secara kekeluargaan belaka tanpa tergesa-gesa.

”Apa yang akan kau katakan, jika Ibu melihatmu seperti itu?” tanyaku di dalam mobil yang membawa kami berlalu dari kantor polisi.
”Saya naik motor dan tabrakan di jalan. Apa lagi yang mesti saya bilang, Mas?” sahut Dino dengan raut wajah datar.
”Dino, apa kau tidak sadar sudah bikin susah banyak orang?” ucap Beni dengan suara agak keras. Ia tampak geregetan melihat sikap adiknya yang seolah tak merasa bersalah.
”Ben, yang penting malam ini Dino bisa pulang,” kataku yang berada di belakang kemudi. Beni duduk di sampingku, sementara Dino di kursi belakang bersama Om Narso.
“Dino, jika boleh Om menyarankan, nanti sampai rumah, kau bersedia kan, mandi dan segera tidur? Oh ya, kamu sudah makan belum?” Om Narso ikut bersuara.

Dino ternyata belum makan, sehingga kami memutuskan mampir di sebuah warung tenda yang masih buka di seputar alun-alun. Rasanya kami memang perlu menenangkan hati masing-masing sebelum kembali ke rumah.
”Mas Rano, Mas Beni, dan juga Om Narso, saya minta maaf. Seharusnya sejak sore tadi, saya tak perlu ke mana-mana,” ujar Dino setelah rampung makan mie ayam dan minum teh hangat. Kami bertiga sempat saling menatap, lantas tersenyum bersama menyikapi kata-kata Dino.
”Ya, sudahlah. Masih kau ingat kan, apa saran Om Narso tadi?” tanyaku.
”Iya, Mas. Terima kasih ya, kalian bertiga sudah mau menjemput saya sehingga bisa tidur di rumah malam ini,” sahut Dino sambil tersenyum.

Aku lega, kami bisa pulang dengan hati yang lebih tertata. Setibanya di rumah, Dino bersedia melakukan saran paman kami. Syukurlah, Ibu sudah masuk ke kamarnya, setelah sempat menemani Vina terjaga sampai pukul dua belas malam. Kulihat waktu menunjukkan jam satu lebih sepuluh menit dini hari. Masih ada beberapa kerabat kami yang terjaga di depan rumah.

***


Hari pernikahan adik perempuanku tiba. Segala sesuatunya berlangsung mulus tanpa aral gendala. Aku sebenarnya sempat khawatir, ketika melihat Ibu pagi-pagi bertanya pada Dino tentang wajahnya yang memar.
”Ibu tidak usah cemas. Tadi malam saya hanya jatuh dari motor,” sahut Dino.
Ibu tampak mengangguk dan menyibukkan diri lagi. Perasaanku kembali tidak tenang kala melihat putra-putri almarhum Pakde Parto datang. Tapi tampaknya Mbak Runi tahu mesti menjawab apa, jika Ibu menanyakan kabar ayahnya.

Sekian jam kemudian, ketika malam menjelang, kami sekeluarga tengah berkumpul di dalam rumah. Pada intinya, kami mensyukuri hajat besar keluarga dapat berjalan lancar. Bapak kemudian memintaku menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum adik perempuanku bersanding di pelaminan.

”Ibu, sebelumnya kami mohon maaf. Ada sesuatu yang terjadi kemarin, tapi Ibu mungkin belum tahu,” kataku yang berusaha berhati-hati sekali menyusun kalimat.
”Apa maksudmu, Nak?” tanya Ibu.
”Mmm… Ini tentang Pakde Parto.”
“Hah, pakdemu kenapa?”
“Semoga Ibu bisa kuat dan sabar mendengar kabar ini. Pakde Parto kemarin sudah meninggalkan kita semua.”

Serta merta pecahlah suara tangisan Ibu. Mataku ikut berkaca-kaca menatap reaksi ibuku. Beliau tampak terpukul mendengar berita kepergian kakak sulungnya. Kami berusaha menenangkan kegalauan hati Ibu. Bapak lekas saja memeluk istrinya dan mengelus-elus punggungnya. Yang tidak kuduga, beliau ternyata memiliki firasat tersendiri tentang wafatnya Pakde Parto.

”Menjelang bangun tidur subuh tadi, Ibu sempat bermimpi didatangi Pakde Parto. Beliau hanya tersenyum, jadi Ibu mengira kondisinya baik-baik saja. Ternyata, mungkin itulah salam perpisahan dari beliau,” ujar Ibu yang masih berurai air mata.

Esok harinya, kami sekeluarga berziarah ke makam saudara tertua Ibu, setelah sebelumnya mengunjungi rumah keluarga Pakde Parto. Ibu berusaha mengikhlaskan diri menerima takdir Ilahi atas kakaknya. Yang paling penting, tiada masalah berarti selama acara pernikahan Vina kemarin. Tentang insiden yang terjadi pada Dino, biarlah nanti Bapak saja yang menceritakannya pada Ibu di lain waktu.

TAMAT

# Cerpen ini dimuat di Lampung Post Minggu, 20 Juli 2014.