Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2011. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2021

Riwayatku Bersama Senja


Seorang lelaki biasanya menjadi kakek sesudah cukup berumur lantaran sang anak telah memberikan cucu baginya. Bisa pula seorang lelaki yang tidak mempunyai cucu -bahkan ia mungkin tak pernah menikah- dipanggil kakek semata-mata karena ia sudah lanjut usia. Yang jelas, kata kakek begitu identik dengan lelaki tua. Bagaimana dengan diriku? Tentu saja belum layaklah aku dibilang cukup berumur atau lanjut usia, bahkan baru tiga puluh usiaku tahun depan. Namun mesti kuterima sebuah kenyataan bahwa tak lama lagi aku akan mendapatkan status sebagai kakek lantaran anakku akan melahirkan anak pertamanya, tentu saja ia akan menjadi cucu pertamaku jua. Padahal teman-teman sebayaku yang telah memiliki anak, rata-rata anaknya masih berusia balita, sementara sebagian teman yang lain malah masih melajang. Jadi, apakah masuk akal seseorang seumurku mempunyai cucu? Baiklah, akan kujelaskan bagaimana mulanya hingga semuda ini aku segera menjadi seorang kakek.


***

Mungkin salah satu yang khas dari diri ini adalah mudah terpukau pada kecantikan perempuan. Maka tak usah heran jika semua gadis yang pernah menjadi kekasihku pasti berwajah rupawan. Begitu pula yang terjadi ketika aku pertama kali bertemu dengan perempuan yang akhirnya kuputuskan sebagai kekasih terakhirku. Mataku nyaris tak berkedip menatap parasnya, saking besar pesona keindahan yang ia pancarkan untukku. Ah, betapa bodohnya aku waktu itu karena seorang gadis yang masih menjadi pacarku tengah bersamaku. Bahkan aku bisa berada di tempat tersebut lantaran mengantarkan dirinya yang berkonsultasi masalah kecantikan. Kami bertengkar cukup hebat ketika kubawa ia pulang ke tempat kosnya. Aku akhirnya mengaku salah dan mohon maaf kepadanya karena telah memperlihatkan sikap mengagumi perempuan lain tepat di depan matanya. Tapi jujur saja, tak mampu lagi kupadamkan hasrat yang telanjur menyala untuk setidaknya mengenal nama sang empunya wajah cantik itu. Bahwa aku telah berkekasih kulupakan sejenak dan jika kami nanti mesti berperang kata lagi tak kupedulikan pula. Hubungan kami sepertinya memang sudah menjelang berakhir di ujung jalan.

Tersemat nama di dadanya, maka akan langsung kusapa saja dirinya. Kebetulan tidak ada konsumen yang sedang dilayaninya. Aku tengah berada di tempat itu lagi.

”Mbak Senja, boleh saya berkenalan dengan Anda?” ucapku sebagai basa-basi.

”Bukankah sudah tahu siapa nama saya? Sepertinya kita tak perlu berkenalan lagi. Oh ya, kok datang sendiri, tidak dengan pacarnya seperti kemarin?”

”Mbak Senja masih ingat saya ya? Sudahlah, tidak usah membicarakan pacar saya. Kami sebenarnya sedang tidak akur nih, Mbak.”

”Lho kok malah curhat ke saya?” komentarnya dengan mengernyitkan dahi.

Yang terjadi selanjutnya, aku justru benar-benar curhat tentang keretakan hubunganku dengan sang pacar. Ia menanggapiku sesekali dan selalu bisa kuterima pendapatnya. Rasa-rasanya aku jadi lebih menyukainya, tak hanya terpana akan kecantikannya. Pembicaraan kami berkali-kali terhenti ketika ada konsumen yang datang dan berlanjut kembali ketika sepi. Aku iseng mengajaknya singgah ke warung angkringan sebelum ia pulang. Sungguh sebuah kejutan bagiku, ternyata ia bersedia.

”Maaf, dari tadi kita ngobrol, aku belum tahu namamu lho,” ujar Senja.

”Jangan terkejut kalau kusebutkan namaku nanti ya. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu,” sahutku tersenyum.

”Memangnya siapa namamu?”

”Namaku Utama, Mbak Senja.”

”Hah? Nama kita berdua kok seperti nama kereta ya? Saya Senja dan kau Utama, jadi Senja Utama?” Tawa kami berdua berderai kala duduk bersisian petang itu.

***

Sejak sore tersebut hubunganku dengan Senja kian hangat. Aku langsung setuju ketika pacarku meminta hubungan kami diakhiri. Justru itulah hal yang kunanti-nanti, sementara aku sudah kian menyukai Senja. Kendati demikian aku dan Senja masih berteman belaka.

”Utama, boleh kan gantian aku yang bicara jujur kepadamu?” tanya Senja.

”Kita kan sudah berteman baik. Bicaralah apa saja yang kau inginkan, Senja.”

”Yang sudah pasti kau tahu, aku memang sedang sendiri kini.”

Senja menghentikan ucapannya lantas menundukkan wajahnya. Tak bisa kuduga apa yang sebenarnya akan ia bicarakan selanjutnya.

”Ya Senja, lalu apa?” tanyaku penasaran.

”Sebenarnya aku pernah menikah dan punya dua anak,” lanjut Senja sendu.

”Oh, hanya itu yang ingin kau katakan? Oke, aku bisa menerimanya,” kataku berlagak tenang. Sesungguhnya hal itu di luar dugaanku, namun aku terbiasa tidak berlebihan dalam bereaksi, maka seolah-olah aku tak terkejut mendengarnya.

”Sepertinya kau tak kaget sama sekali. Apa kau sudah tahu sebelumnya?”

”Aku baru tahu, tapi mungkin aku seorang lelaki yang tenang hati, jadi biasa saja responsku. Lagi pula aku ingin dapat menerimamu apa adanya, dengan segala kelebihan maupun kekuranganmu.”

”Terima kasih Utama, kau teman yang sangat baik bagiku.”

”Oke, tapi mungkinkah kita bisa lebih dari berteman biasa? Sudikah dirimu menjadi temanku yang teristimewa?”

Senja tersenyum semata memandangiku. Matanya tampak berbinar, parasnya pun lebih cerah bersinar. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Itulah jawaban Senja atas tanyaku. Ia bersedia menjadi kekasihku. Wow, hidupku pun terasa lebih cerah warnanya sedari waktu itu. Seiring keakraban kami yang semakin lekat, aku pun mengerti bahwa Senja ternyata lebih tua dua belas tahun ketimbang aku.

”Usiaku kini 36 tahun,” sahut Senja ketika kutanya soal umurnya.

”Hah? Apa kau tak berdusta padaku? Aku mengira kau memang lebih tua ketimbang aku, tapi tak kusangka usiamu sudah sedewasa itu,” kataku tanpa bisa menyembunyikan kekagetanku. Rona wajah Senja berubah menjadi tampak resah.

”Lantas bagaimana, apa kau jadi batal mencintaiku?”

”Tidak, sayang. Aku hanya mau bilang kalau wajahmu itu seperti sepuluh tahun lebih muda daripada usiamu sebenarnya,” pujiku spontan. Senja pun tersenyum lebar, kulit wajahnya yang terang tampak memerah.

”Ah, bisa saja kau memujiku. Tidak malu punya kekasih yang jauh lebih tua?”

”Apakah Senja juga keberatan punya kekasih yang jauh lebih muda? Ya sudah, tiada yang salah kok dengan cinta kita.” Senyum kami berdua mengembang bersama.

***

Sudah tiada lagi rahasia antara aku dan Senja. Telah kutemui pula kedua anak Senja yang tinggal bersama ayahnya sejak orang tuanya berpisah. Sesekali mereka memang diperkenankan berjumpa dengan ibunya. Virgie, anak pertama Senja telah berusia enam belas, hanya delapan tahun di bawahku. Senja masih berusia dua puluh saat melahirkan Virgie, sekian bulan sehabis pernikahannya yang terpaksa dilakukan karena ia telah berbadan dua. Wajah gadis itu sama sekali tak ada miripnya dengan Senja, tapi bisa saja ia seperti ayahnya. Sementara itu anak kedua Senja adalah Taura, bocah lelaki berusia sepuluh tahun. Mereka berdua anak-anak yang menyenangkan, tak perlu waktu lama bagiku untuk bisa akrab dengan kedua permata hati kekasihku.

Niatku untuk menikahi Senja pun semakin mantap. Orang tua kekasihku -yang tinggal ibunya- mendukung penuh pilihan putrinya tercinta. Sementara kedua orang tuaku yang senantiasa demokratis semenjak aku bocah tetap konsisten menghargai apa pun pilihanku. Padahal mungkin jarang sekali ada orang tua yang sudi menerima anak lelakinya yang masih perjaka bakal menikahi janda beranak dua yang usianya sekian tahun lebih tua. Senja pernah mengalaminya. Sesudah bercerai dan sebelum berjumpa denganku, Senja sempat memiliki seorang kekasih yang menurutnya baik hati. Orang tua lelaki tersebut menolak niat anaknya menikahi Senja karena statusnya sebagai janda, hingga mereka pun sepakat berpisah.

Syukurlah, Papa dan Mama tak memasalahkan hal itu. Barangkali mereka berdua memang tipe orang tua yang langka. Seingatku, nyaris tak pernah ada hal yang mereka paksakan kepadaku maupun kedua adikku. Mereka pun jarang sekali memarahi kami, justru kami yang sering tak enak hati saat sadar baru berbuat salah. Sungguh beruntung diri ini memiliki orang tua seperti mereka.

“Dalam hidup itu selalu ada pilihannya, dan dalam setiap pilihan pun selalu ada konsekuensinya. Kau mesti siap dengan segala konsekuensi logis dari pilihanmu sendiri, Tama. Itu saja yang ingin Papa ingatkan kepadamu,” pesan Papa bijak.

“Kau sudah dewasa, Nak. Kau tahu siapa yang terbaik bagimu. Mama pasti akan tetap berdoa untuk segala niat baikmu,” kata Mama. Kuhargai sungguh ucapan mereka.

Maka terwujudlah hasratku menobatkan Senja sebagai kekasih terakhirku. Senja dan Utama menikah setahun setelah berpacaran. Sengaja kami memilih sore hari sebagai waktu pernikahan kami supaya lebih syahdu terasa. Kedua anak Senja, Virgie dan Taura tetap tinggal bersama ayah kandungnya, namun kadangkala mereka menginap di rumah kontrakan yang kutinggali bersama Senja. Hampir di setiap hari libur kami berkumpul, lantas pergi bersama ke tempat-tempat yang menggembirakan hati.

Tentu saja aku berhasrat memiliki anak keturunanku sendiri, tapi Senja tak kunjung hamil tahun demi tahun sejak kami menikah. Mesti kuterima hal itu dengan ikhlas hati dan lapang dada. Setidaknya kedua anak kandung istriku adalah anak tiriku, coba kusayangi saja mereka selalu setulus mungkin. Menjelang empat tahun usia pernikahan kami, Virgie dilamar pacarnya sejak SMA. Senja tak punya pilihan lain untuk menyetujui rencana pernikahan anaknya lantaran sejarah memang selalu berulang. Virgie telah hamil tiga bulan saat menikah, hampir sama dengan waktu ibunya dinikahi oleh ayahnya di masa silam. Telah kuanggap Virgie sebagai darah dagingku sendiri, maka ketika anaknya nanti hadir ke dunia, ia menjadi cucuku pula. Aku mesti siap menjadi seorang kakek di usiaku yang belum genap tiga puluh kini. Terserah orang mau bilang apa, mending tak kupedulikan saja. Inilah salah satu konsekuensi logis dari pilihanku sendiri.

Yogyakarta, 2010


* Cerpen ini pernah dimuat di sebuah koran (yang sudah tutup) pada Agustus 2011.

Rabu, 11 Januari 2012

Album Terbaik Indonesia 2011




Melanjutkan kebiasaan sejak tahun 2008, kembali saya menyusun senarai album musik Indonesia yang saya dengar sepanjang 2011 -yang tidak banyak juga- dan layak menjadi yang terbaik. Maka jelas bahwa pilihan saya sangat subjektif lantaran alasannya adalah saya senang menyimak lagu-lagunya, lalu kata hati maupun benak saya bagus belaka, serta tentu saja dengan selera musik dan keterbatasan wawasan yang saya miliki.

Sebelum menyusun daftar tersebut, saya sudah lebih dahulu membaca 20 Album Terbaik Indonesia 2011 versi majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Hal itu memang agak di luar kebiasaaan. Ternyata ada banyak album dengan genre rock dan jazz yang mendominasinya. Tercatat hanya empat nama yang pernah saya dengar serta masuk dalam daftar saya, yaitu : Barry Likumahuwa Project (Generasi Synergy), Trisum (Five in One), Naif (Planet Cinta), dan Sheila on 7 (Berlayar). Selain itu saya cukup penasaran ingin mendengarkan Gugun Blues Shelters (Satu untuk Berbagi), LLW (Long Live Wisdom), dan Tohpati Bertiga (Riot). Album anyar GBS menarik karena mayoritas lirik lagunya dalam bahasa Indonesia. Bahkan RSI menjadikan singel ’Jangan Berkata dalam Hati’ sebagai salah satu lagu terbaik Indonesia 2011. LLW (Lesmana Likumahuwa Winarta) adalah aksi kibordis senior Indra Lesmana bersama dua musisi muda berbakat, Barry Likumahuwa (bass) dan Sandy Winarta (drum). Sementara Tohpati Bertiga adalah proyek terbaru gitaris Tohpati bersama Indro Hardjodikoro (bass) dan Bowie (drum, anggota GBS). Saya pernah melihat aksi live mereka ketika bermain di Ngayogjazz 2011 yang berlangsung di halaman rumah pelukis sepuh Djoko Pekik. Tohpati terkesan lebih ngerock dan bermain cepat dalam aksinya tersebut.

Berikut ini daftar album pilihan saya di tahun 2011 yang disusun berdasarkan urutan abjad nama artis/albumnya belaka.

  1. A Tribute to KLa Project
Setelah pada 2010 KLa Project merilis album baru Exellentia, maka di tahun 2011 Lilo KLa menjadi produser album A Tribute to KLa Project. Sejumlah nama band kondang maupun penyanyi solo tenar turut mengisi album yang hanya dijual di minimarket terkenal yang tersebar di seluruh Indonesia itu.
Mereka adalah Ungu, Maliq n D’Essentials, Kerispatih, RAN, The Upstairs, Ahmad Dhani, Vidi Aldiano, dan Pongki Barata. Ada pula nama yang relatif baru seperti Babas dan Violet. Nama terakhir merupakan trio vokalis sekaligus violis yang terdiri dari tiga perempuan muda yang cantik (Sherrin, Ava, Mia).
Meski tidak banyak yang memberi tafsir baru pada sejumlah hits KLa, namun setidaknya generasi muda saat ini bisa berkenalan dengan lagu-lagu pop berkualitas milik musisi Indonesia yang pernah sangat digemari di masa lalu.
Lagu favorit saya : Meski Tlah Jauh, Bahagia Tanpamu, Prasangka, Semoga, Tentang Kita, dll.

  1. Anggun : Echoes
Anggun tetap menunjukkan konsistensinya dalam bermusk dengan merilis album terbarunya di tahun 2011. Penyanyi internasional kebanggaan Indonesia tersebut belakangan tampak semakin eksis dengan kerap tampil menjadi bintang iklan berbagai produk di media cetak maupun elektornik. Lagu ’Berkilaulah’ merupakan lagu yang sangat inspiratif dan paling saya sukai.
Lagu favorit saya : Berkilaulah, Hanyalah Cinta, Silent Vow, Eternal, dll.

  1. Barry Likumahuwa Project : Generasi Synergy
Barry Likumahuwa adalah pemain bass muda yang permainannya disegani banyak musisi Indonesia. Bahkan seorang Fariz RM pun mengajaknya ketika di tahun 2011 sempat pentas di Jogja. Setelah di album sebelumnya, Barry tampil dengan namanya sendiri, maka kali ini ia beraksi bersama kelompoknya. Materi lagu dalam album ini asyik sekali di kuping, seolah terus memberi semangat, dan jelas tidak membosankan. Ada beberapa lagu dengan vokal, sementara selebihnya merupakan nomor instrumentalia.
Lagu favorit saya : Generasi Synergy, Twitter Jam, Heart Keeper, Saat Kau Milikku, Kappanya, dll.

  1. Gigi : Sweet 17
Tanpa terasa sebuah band bernama Gigi telah berusia 17 tahun. Setelah sempat bergonta-ganti personel, tampaknya kuartet Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, dan Gusti Hendy sudah menjadi komposisi band yang paling solid hingga hari ini.
Lagu favorit saya : Sahabat, Distorsi Manusia, Bunga Syurgawi, Mana Hati, Smoga Saja, dll.

  1. Jubing Kristianto : Kaki Langit
Yang paling menarik dari album terbaru Jubing yaitu adanya lagu anak-anak ’Gembira Berkumpul’ hasil karya Pak AT Mahmud yang pernah populer oleh Tasya tempo hari.
Lagu favorit saya : Wangi Hujan, Bengawan Solo, Gembira Berkumpul, Sarinande, Blackbird, dll.

  1. Komunitas Jazz Kemayoran : Compilation Chapter One
Terdapat 10 artis artis yang terlibat dalam album ini. Mereka adalah 416, D’Etudiant, Zarro, Laconiek, Sketsa, Beben Jazz, Soultrain, Earth, Zinnia, dan Vodka. Ada sejumlah lagu instrumentalia, sementara yang dengan vokal ada yang berlirik Inggris, Indonesia, maupun bahasa daerah (La La Laya dari Zarro).
Lagu favorit saya : Above The Sky, La La Laya, Alexa, Satu yang Pasti, Where Do We Go From Here, dll.

  1. Musikal Laskar Pelangi (Original Cast Recording)
Setelah sukses tampil di panggung, lagu-lagu dalam Musikal Laskar Pelangi hadir dalam sebuah album. Lagu ciptaan Erwin Gutawa dan Mira Lesmana ternyata tetap dapat dinikmati tanpa harus melihat pertunjukannya. Dira Sugandi dan Eka Deli yang sudah teruji kualitas vokalnya ditemani oleh penyanyi remaja bersaura emas seperti Cristoffer Nelwan atau Hilmi Faturrahman.
Lagu favorit saya : Anak Pelangi, Jari-jari Cantik, Sahabat Alam, Menanti Ayah Menanti Lintang, dll.

  1. Naif : Planet Cinta
Naif tampil dengan lagu-lagu yang sebenarnya semua layak menjadi hits. Meski jenis musiknya variatif, tapi tetap ada benang merah Naif-nya. Sayang sekali mereka nyaris tidak pernah tampil di televisi lagi. Kita pasti ingat bahwa mereka pernah sangat terkenal dengan lagu dan videoklip ‘Posesif’.
Singel ‘Karena Kamu Cuma Satu’ menjadi salah satu lagu terbaik dan videoklip terbaik versi majalah RSI. Oya, bagi para pendengar radio, Naif sepanjang bulan Januari 2011 akan bersiaran di I-Radio (Jakarta, Bandung, Jogja, Makassar) setiap Selasa malam pukul 20.00 – 22.00.
Lagu favorit saya : Karena Kamu Cuma Satu, Apa Adanya, Planet Cinta, Cuek, Berjalan di Bulan, Pemimpi, dll.

  1. Raisa
Raisa Andriana menjadi fenomena tersendiri akhir-akhir ini. Tidak hanya karena bersuara khas sebagai penyanyi, dia pun berparas sangat cantik dan berwaruga apik, maka layaklah jika sudah memiliki banyak penggemar. Asta Andoko (RAN), Ramadhan Handy, dan Adrianto Ario Seto (Soulvibe) merupakan produser album solo pertama Raisa yang berjudul sama dengan namanya.
Lagu favorit saya : Serba Salah, Apalah (Arti Menunggu), Could It Be, Inginku, Terjebak Nostalgia, dll.

  1. Sheila on 7 : Berlayar
Sheila on 7 ternyata masih tetap bertaji! Setelah pernah mengalami masa penuh kejayaan, lantas sempat rada tenggelam (meski sebenarnya tetap merilis album), Eross Candra dkk kembali menelurkan sejumlah hits lewat album terbarunya. Lagu-lagu seperti ’Hari Bersamanya’, ’Pasti Ku Bisa’, atau ’Hujan Turun’ terasa sangat akrab di telinga kita, seperti dahulu kita pernah menyukai ’Kita’, ’Dan’, ’Sephia’, ’Seberapa Pantas’, ’Berhenti Berharap’, ’Pejantan Tangguh’ dan masih banyak lagi hits mereka.
Lagu favorit saya : Pasti Ku Bisa, Hujan Turun, Hari Bersamanya, Berlayar Denganku, Bait Pertama, dll.

  1. Trisum : Five in One
Trio gitaris papan atas Indonesia : Dewa Budjana, Tohpati, dan Balawan menelurkan album keduanya. Echa Sumantri (drum) dan Indro Hardjodikoro (bass) mendukung sepenuhnya aksi mereka bertiga dalam Five in One. Ada sebuah lagu yang lucu, mendengarnya saja bisa membuat kita tersenyum, apalagi melihat aksi mereka bertiga lewat Youtube. Judulnya ‘All U Can Eat’.
Lagu favorit saya : Unyil, Love To Be Around You, Pulang, Rahwana, All U Can Eat, dll.

  1. Ubiet & Dian HP : Komposisi Delapan Cinta (Puisi : Nirwan Dewanto & Sritok Srengenge)
Komposisi Delapan Cinta merupakan musikalisasi pusi karya Nirwan Dewanto dan Sritok Srengenge oleh Dian HP dan Ubiet. Jika kebanyakan lagu hasil musikalisasi puisi lebih sering diiringi gitar akustik, maka selalu ada suara piano Dian HP yang mengirigi suara unik Ubiet dalam album yang sebagian materinya direkam di Bangun Jiwo Yogyakarta tersebut. Selebihnya ada suara akordeon, cello, flute, klarinet, biola, marimba, dan kontra bas yang memperindah lagu. Di antara lagu-lagu sendu nan syahdu, ada Kuintet (puisi Nirwan Dewanto) yang sangat energik dan menghibur. Setidaknya terdapat dua videoklip dari album ini yang pernah saya simak di Youtube.
            Lagu favorit saya : Menulis Cinta, Kuintet, Penghujung Musim Hujan, Air, dll.