Rabu, 29 September 2010

Aransemen Musik Memang Bisa Membuat Lagu Terkesan Beda



Citra ‘Indonesian Idol’ dan Lagu Wali dkk

Mungkin banyak di antara kita yang terkesan dengan penampilan Citra, seorang gadis belasan tahun asal Yogyakarta, saat tampil dalam panggung Indonesian Idol 2010. Selain gaya menyanyinya yang jazzy, yang khas adalah sejumlah lagu yang selalu apik dia bawakan. Terus terang saya bukan penggemar Wali, D’Bagindas, dan Armada, kendati cukup suka dengan beberapa lagu milik ST 12. Namun saya suka sekali saat menyimak Citra menyanyikan Yank (Wali), C.I.N.T.A (D’Bagindas), Mau Dibawa Kemana (Armada), maupun dua lagu karya Charly ST 12. Saya jauh lebih suka mendengar Citra menyanyikan lagu-lagu itu ketimbang penyanyi aslinya.

Selain gaya bernyanyi Citra yang memang menawan, tentu saja kita tak boleh melupakan peranan Oni Krisnerwinto, penata musik dan komandan ‘home band’ Indonesian Idol 2010. Aransemen musiknya bagi Citra dkk kadang mampu mengubah citra lagu-lagu yang disajikan di atas pentas, terutama untuk lagu-lagu yang dibawakan Citra, yang menjadi jauh lebih menarik ketimbang versi orisinalnya. Salut buat Oni dan band-nya.




The Masterpiece of Rinto Harahap with Tohpati

Rinto Harahap adalah salah satu nama besar dalam dunia musik pop Indonesia. Lagu-lagunya banyak sekali yang menjadi hits di masa lalu. Tapi ada sementara pihak yang kadang menganggap lagu-lagu karya beliau sebagai lagu cengeng, sebagaimana pula lagu karya Pance F.Pondaag maupun Obbie Mesakh. Lagu-lagu tersebut mungkin terkesan cengeng karena aransemen musik dan cara penyanyinya dalam membawakannya dahulu.

Jika kita pernah mendengarkan lagu-lagu dalam album ‘The Masterpiece of Rinto Harahap with Tohpati’ sama sekali tidak terkesan ada lagu cengeng karya Rinto Harahap. Ada Benci Tapi Rindu (Ello), Tangan Tak Sampai (Maia), Jangan Kau Sakiti Hatinya (Andy /rif), Dingin (Aci Harahap), Kau Tercipta Untukku (Pinkan), Aku Jatuh Cinta (Pasto), Katakan Sejujurnya (Nindy) dan sejumlah lagu lainnya. Saya bahkan tidak mengira bahwa lagu yang dibawakan oleh The Changcuters (Hey Hey Hey) dan Yovie & Nuno (Seindah Rembulan) dalam album itu juga merupakan ciptaan Bung Rinto karena lagunya ceria, iramanya yang cepat, dan terdengar seperti lagu karya dua grup pop itu sendiri.

Yang jelas, aransemen baru dan cara para penyanyi masa kini menyanyikannya kembali membuat lagu-lagu Rinto Harahap terdengar segar dan berubah warnanya. Salut bagi Tohpati atas aransemen musiknya yang apik. Semoga para pencinta musik Indonesia bisa menikmati ‘The Masterpiece of Rinto Harahap with Tohpati’.




Selasa, 28 September 2010

Musik adalah Pelangi Keajaiban

Musik adalah pelangi-pelangi keajaiban yang abadi. (Carlos Santana)

Rabu, 22 September 2010

Catatan tentang Sejumlah Acara dalam Sekian Bulan





Sekian bulan telah berselang tanpa apa pun tersurat di tempat ini. Entahlah, aku merasa belum cukup waktu senggang untuk menuliskan sekadar catatan dari banyak acara yang kuhadiri selama beberapa bulan terakhir. Padahal ada banyak hal menarik dari apa-apa yang kusimak dan kusaksikan, baik itu acara sastra, musik, teater, atau ragam seni.

Acara sastra : Peluncuran ’Mata Blater’ karya Mahwi Air Tawar di Karta Pustaka (7 Mei), Peluncuran Kembali ’Hujan di Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono di Studio Teater Garasi (23 Juni), Bincang-bincang Sastra tentang Musikalisasi Puisi di ruang seminar TBY (25 Juli), dan Gelar Karya Maestro Sastra (6 dan 7 Agustus) di gedung sositet TBY.

Acara musik : Dewa Budjana di Sangkring Artspace (31 Mei), Yogyakarta Gamelan Festival 2010 (16 dan 18 Juli), Konser Komposisi Musik ’Tumpang Tindih’ karya Warsana ”Kliwir” di Auditorium Teater FSP ISI (22 Juli), dan ’Nusa Swara’ karya Kua Etnika di gedung konser TBY (31 Agustus).

Acara teater : ’Pandol’ (Panti Idola) karya Teater Gandrik di gedung konser TBY (4 Juni) dan ’Kabut di Malam Hari’ karya teater mahasiswa STMIK Akakom (17 Juli).

Acara ragam seni : Pasar Kangen Jogja 2010 – pembukaan (26 Juni), pentas dolanan anak dari Taman Kesenian (29 Juni) dan pentas lagu-lagu daerah dari anak-anak AFC (3 Juli) dan ART JOG (Juli) di TBY.


Selasa, 17 Agustus 2010

Kelemahan Jiwa Kita

Apakah kelemahan kita? Kelemahan jiwa kita ialah, kita kurang
percaya kepada diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa
penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, pada hal
kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong.
[Pidato Bung Karno pada HUT Proklamasi, 1966]

Senin, 24 Mei 2010

Kekayaan Sejati Sebuah Negeri

Kekayaaan sejati sebuah negeri tidak terletak ada emas atau perak, tetapi dalam pengetahuan dan kearifan – yang tidak akan pernah mengkhianatimu. (Kahlil Gibran)

Rabu, 05 Mei 2010

Sekilas Tentang Pertunjukan Pendek di Gedung Sositet

Pada hari Kamis, tanggal 29 April 2010 silam, AFC (Art for Children) TBY menggelar pentas teater di gedung sositet Taman Budaya Yogyakarta. Pentas yang penontonnya tidak dipungut biaya malam itu merupakan presentasi dari dua pertunjukan pendek karya Ibed Surgana Yuga, yaitu : ’Perempuan Satu-satunya di Semesta’ dan ’Mommy, I Don’t Want to Go to School!’

Perempuan Satu-satunya di Semesta

Lakon pertama yang dibawakan oleh dua aktor dan seorang aktris (Andika, Iman, dan Eka) menyajikan eksploitasi gerakan yang dilatarbelakangi kemampuan para pemainnya untuk menari, berpencak silat, maupun melakukan butoh (seni gerak dari Jepang). Masing-masing pemain juga sempat bermonolog dengan gaya berlainan di sela-sela pergerakan tubuh mereka yang sangat menguras tenaga. Kedua aktor sempat memainkan tongkat bambu yang perlu keterampilan tersendiri pula. Seorang pemain rebab (Pak Suyoto) dan seorang pemain belia (Arin) tampil sekejab sebagai figuran untuk memberi nuansa lakon berkonsep minimalis itu. Suara rebab mengisi sejumlah bagian menjadi ilustrasi musiknya.

Mommy, I Don’t Want to Go to School

Lakon kedua dimainkan oleh enam remaja putri yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka adalah Dila, Puput, Yanni, Chandra, Manda, dan Arin. Adegan diawali dengan curhat menjelang tidur dengan suasana panggung gelap hanya berteman korek api yang dibawa oleh masing-masing pemain. Apa yang mereka katakan menggambarkan keresahan, kejenuhan, dan ketidaknyamanan para pelajar menjalani masa sekolah mereka, terutama menghadapi ’monster’ ujian nasional. Setiap bicara mereka selalu diawali dengan memanggil nama ’mommy’. Setelah tidur yang tenang damai -dengan sesekali menggeliat- diiringi suara piano, anak-anak bangun dengan panik dan gaduh diiringi suara gedubrakan dari kibor yang kumainkan. Adegan selanjutnya adalah ketakutan mereka sebelum berangkat sekolah. Untuk mandi pun mereka terpaksa dimandikan oleh ibu masing-masing dan khayalan menjadi artis yang tampil di atas pentas menjadi akhir bagian tersebut. Adegan selanjutnya menggambarkan suasana belajar di dalam kelas. Para murid hanya manggut-manggut mengikuti apa kata ibu gurunya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Saking besarnya tekanan dan tersiksanya perasaan, akhirnya murid-murid itu malah menembak sang guru. Mereka lantas menyesali perbuatannya dengan kembali meneriakkan kata ’mommy’ diiringi lagu sedih yang kubawakan dengan suara piano. Lakon kedua pun berakhir.

Selamat dan sukses bagi semua pendukung pertunjukan malam itu. Terima kasihku terutama bagi Bung Ibed yang memberi kepercayaan kepadaku dan Pak Sigit ER yang memberi arahan bagaimana memberi ilustrasi musik dalam lakon kedua. Semoga tak pernah lelah kita terus menghasilkan karya yang lebih apik di saat mendatang. Tak lupa jua, terima kasih bagi para penonton yang sudah hadir memberi apresiasi.

Pendidikan seharusnya memerdekakan murid, menumbuhkan keberagaman di berbagai bidang kemampuan melalui proses pemahaman akan kebudayaan dan kebangsaan.(Ki Hadjar Dewantara)

5 Mei 2010




Kamis, 08 April 2010

Dua Malam Meriah di Bentara Budaya Yogyakarta

'Jazz Mben Senen' Edisi Khusus

Ada dua malam berurutan terdapat suasana meriah di Bentara Budaya Yogyakarta. Senin, 5 April 2010 acara mingguan ’Jazz Mben Senen’ jauh lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Penonton yang hadir nyaris tidak menyisakan ruang kosong di halaman BBY. Ada yang duduk lesehan, banyak juga yang berdiri, dan sebagian lagi berada di luar pagar. Malam itu memang ada tema khusus bertajuk ”Umbul Donga” bagi Singgih Sanjaya, musisi Yogyakarta berkaliber internasional yang sekitar tiga pekan silam terkena stroke. Maka hadirlah nama-nama kondang yang merupakan teman baik beliau sebagai pengisi acara, seperti penyanyi keroncong Waljinah, Dwiki Dharmawan, Iga Mawarni, dan Trie Utami, juga penyanyi jazz muda dari Jakarta, Farah Dibaj Fuadi alias Farah Di. Selain mereka, ada nama Djaduk Ferianto, pelopor aksi solidaritas bagi sang sahabat serta anggota Komunitas Jazz Yogyakarta yang biasa tampil dalam ’Jazz Mben Senen’. Ada sesi berdoa bersama yang dipimpin oleh ustad Anant –yang aslinya dulu rocker- bagi kesembuhan kembali Singgih Sanjaya. Semoga beliau segera sehat dan mampu menghasilkan karya hebat lagi. Amin.

Farah Di tampil menawan diiringi big band –dengan dominasi brass section- membawakan sejumlah nomor lagu jazz standar. Dwiki Dharmawan dengan sekadar pianika memainkan lagu yang dibuatnya secara spontan, judulnya ’Blues For Today’ bersama dengan musisi Jogja pengiringnya tanpa latihan sekalipun, tapi asyik sekali lagunya disimak.

Ibu Waljinah lantas menyanyikan dua lagu keroncong ’Ayo Ngguyu’ dan ’Tanjung Perak’ dengan iringan sebuah orkes keroncong yang personelnya masih muda semua.Berikutnya Iga Mawarni membawakan ’Simfoni yang Indah’, ’Esok kan Masih Ada’, dan lagunya sendiri yang paling terkenal ’Kasmaran’. Putri Solo tersebut tampak ayu dan anggun dengan suaranya yang menyejukkan hati. Trie Utami kemudian lebih banyak berimprovisasi dengan Djaduk Ferianto dkk. Dia mengajak sejumlah vokalis jazz perempuan yang hadir malam itu mengekspresikan diri semaunya bersama dirinya. Di tengah-tengah improvisasi, Trie Utami serta merta bisa menyanyikan ’Girl from Ipanema’ dan juga ’Terajana’. Penonton bertepuk tangan riuh penuh kekaguman menikmati aksi mereka.

Para musisi jazz Jogja kemudian menutup Senin malam yang meriah itu. Di antara mereka ada Rika, putri tetanggaku yang menjadi satu-satunya pemain saksofon perempuan yang ikut bermain. Aksi kocak Bambang Gundul dan Lusy Laksita sebagai duet pembawa acara juga layak sekali diapresiasi. Kata-kata mereka membuat malam itu menjadi terasa begitu hangat.

Foto : Erson Padapiran/wartajazz.com



Pembukaan 'Benny & Mice Expo'

Selasa malam, 6 April 2010 BBY kembali kedatangan orang-orang yang apresiatif terhadap karya seni. Acaranya adalah pembukaan ’Benny & Mice Expo’ yang diisi dengan dialog bersama Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad (Mice), duet kartunis jenius pencipta karakter tokoh Benny dan Mice. Ketika ditantang untuk membuat komik dengan tema khusus Jogja, mereka bilang bahwa perlu tinggal di Jogja selama sekitar dua bulan untuk bisa melakukan ekplorasi habis-habisan. Terdapat dua meja penuh makanan dan minuman yang bisa dinikmati dengan bebas oleh para hadirin di halaman, sementara acara pameran dimulai. ’Benny & Mice Expo’ menampilkan Pameran Kartun Benny & Mice 1997-2010, Pameran Peduli Pemanasan Global, Bazar Komik Pilihan, dan dua acara workshop yang telah berlangsung 7 April 2010. Sementara acara pameran berlangsung 6-15 April 2010. Dalam Pameran Peduli Pemanasan Global terdapat pula karya Benny & Mice yang menghiasi buku populer ’Hidup Hirau Hijau’ yang baru diterbitkan oleh Gramedia. Bagi para penggemar kartun dan mereka yang peduli masalah sosial politik maupun lingkungan hidup pasti tak akan melewatkan acara menarik tersebut. Benny & Mice tidak hanya membuat kita terhibur, tapi juga bisa membuat kita bertambah wawasan dan berpikir cerdas.

Foto : Facebook Benny & Mice