Tampilkan postingan dengan label gedung sositet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gedung sositet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

Latihan Vokal AFC di Gedung Sositet TBY


Sejak Februari 2019 lobi gedung lawas itu kembali menjadi wahana bagi anak-anak bermain sambil belajar, bernyanyi dengan gembira saban hari Minggu pagi menjelang siang. Foto oleh Mama Sabrina (10/2/19).

Rabu, 12 Desember 2012

Menyaksikan ’Rayya’ dan ’Mata Tertutup’ di JAFF 2012



Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) untuk ketujuh kalinya berlangsung di Yogyakarta pada 1-5 Desember 2012. Saya hanya sempat menyaksikan dua film karya sineas Indonesia, yaitu ’Rayya’ di Empire XXI pada Selasa (4/12) dan ’Mata Tertutup’ di gedung sositet TBY pada Rabu (5/12). Sudah lama saya ingin menonton kedua film tersebut, namun pemutarannya secara komersial di bioskop tempo hari sangat singkat, sehingga saya belum sempat melihatnya. Oh ya, tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada panitia JAFF yang membuat saya bisa nonton film berkualitas secara gratis di bioskop.

”Rayya”
Cerita film ’Rayya’ ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dan Viva Westi (sekaligus sebagai sutradara). Film tersebut mengisahkan Rayya (Titi Sjuman), seorang artis cantik yang sangat sukses dan terkenal. Suatu ketika pihak manajemennya berencana membuat buku biografi untuk Rayya. Untuk itu Rayya menjalani sesi pemotretan di berbagai tempat dengan seorang fotografer yang diperankan oleh Alex Abbad. Rayya ternyata tidak cocok dengannya, sehingga datanglah Arya (Tio Pakusadewo) yang merupakan fotografer senior untuk menggantinya. Selanjutnya film tersebut menceritakan perjalanan Rayya dan Arya yang kisah cintanya sama-sama bermasalah, dengan dialog-dialog menarik soal kehidupan, yang dihiasi indahnya panorama berbagai tempat di Jawa dan berakhir di Bali. Perjalanan Rayya dan Arya merupakan perjalanan jasmani maupun rohani yang membuat mereka berdua menjadi insan yang lebih baik dalam menyikapi kehidupan di akhir perjalanan.
Penampilan singkat Christine Hakim yang berperan sebagai seorang ibu yang kurang pendengaran (namun aktif mendidik anak-anak autis di sebuah desa) menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi penonton. Demikian pula adegan ’mantenan’ di desa yang lain, yang didukung oleh para seniman Jogja seperti Landung Simatupang dan Untung Basuki. Sebuah film nasional yang cukup menarik.



”Mata Tertutup”
Film 'Mata Tertutup' produksi Maarif Institute dan SET Workshop merupakan film terbaik dalam ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2012 pada Minggu (2/12) di Sentul Bogor. Keberhasilan meraih trofi bergengsi ini membuat 'Mata Tertutup' memborong lima penghargaan terunggul dari 10 kategori yang diperebutkan, yaitu : film terbaik, sutradara terbaik (Garin Nugroho), pemeran wanita utama terbaik (Jajang C.Noer), pengarah sinematografi terbaik (Anggi Frisca), dan pemeran pria pendukung terbaik (Kukuh Riyadi). 

Salah satu pertimbangan dewan juri adalah kemampuan 'Mata Tertutup' mengangkat khazanah budaya Nusantara, yang dipadukan dengan pesan karakter kebangsaan, seperti toleransi dan penghargaan terhadap kemajemukan. Apresiasi luar biasa dari AFI terhadap karya Garin merupakan dukungan moral terhadap program Toleransi dan Anti Kekerasan (TolAk) melalui produksi film dan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

Film 'Mata Tertutup' dibuat berdasarkan hasil penelitian Maarif Institute dan SET terhadap gerakan radikal yang menyalahgunakan agama Islam di Indonesia. Kisah tiga tokoh utama dalam film tersebut diangkat dari kisah nyata. Berdasarkan pengalaman para pemain yang bercerita sehabis pemutaran film, ternyata mereka hanya diberi skrip pendek yang berisi garis besar cerita. Selanjutnya para pemain dituntut sang sutradara untuk mengembangkan karakternya masing-masing, mencari referensi sendiri, sehingga mereka mesti bekerja dengan cerdas. Selain Jajang C. Noer, para pemain ’Mata Tertutup’ adalah para aktor dan aktris muda Yogyakarta yang belum punya nama. Namun mereka rata-rata mampu bermain natural, sehingga setiap adegan dalam film tersebut seperti adegan sesungguhnya. Sebuah film nasional yang memang layak disimak. 


Rabu, 05 Mei 2010

Sekilas Tentang Pertunjukan Pendek di Gedung Sositet

Pada hari Kamis, tanggal 29 April 2010 silam, AFC (Art for Children) TBY menggelar pentas teater di gedung sositet Taman Budaya Yogyakarta. Pentas yang penontonnya tidak dipungut biaya malam itu merupakan presentasi dari dua pertunjukan pendek karya Ibed Surgana Yuga, yaitu : ’Perempuan Satu-satunya di Semesta’ dan ’Mommy, I Don’t Want to Go to School!’

Perempuan Satu-satunya di Semesta

Lakon pertama yang dibawakan oleh dua aktor dan seorang aktris (Andika, Iman, dan Eka) menyajikan eksploitasi gerakan yang dilatarbelakangi kemampuan para pemainnya untuk menari, berpencak silat, maupun melakukan butoh (seni gerak dari Jepang). Masing-masing pemain juga sempat bermonolog dengan gaya berlainan di sela-sela pergerakan tubuh mereka yang sangat menguras tenaga. Kedua aktor sempat memainkan tongkat bambu yang perlu keterampilan tersendiri pula. Seorang pemain rebab (Pak Suyoto) dan seorang pemain belia (Arin) tampil sekejab sebagai figuran untuk memberi nuansa lakon berkonsep minimalis itu. Suara rebab mengisi sejumlah bagian menjadi ilustrasi musiknya.

Mommy, I Don’t Want to Go to School

Lakon kedua dimainkan oleh enam remaja putri yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka adalah Dila, Puput, Yanni, Chandra, Manda, dan Arin. Adegan diawali dengan curhat menjelang tidur dengan suasana panggung gelap hanya berteman korek api yang dibawa oleh masing-masing pemain. Apa yang mereka katakan menggambarkan keresahan, kejenuhan, dan ketidaknyamanan para pelajar menjalani masa sekolah mereka, terutama menghadapi ’monster’ ujian nasional. Setiap bicara mereka selalu diawali dengan memanggil nama ’mommy’. Setelah tidur yang tenang damai -dengan sesekali menggeliat- diiringi suara piano, anak-anak bangun dengan panik dan gaduh diiringi suara gedubrakan dari kibor yang kumainkan. Adegan selanjutnya adalah ketakutan mereka sebelum berangkat sekolah. Untuk mandi pun mereka terpaksa dimandikan oleh ibu masing-masing dan khayalan menjadi artis yang tampil di atas pentas menjadi akhir bagian tersebut. Adegan selanjutnya menggambarkan suasana belajar di dalam kelas. Para murid hanya manggut-manggut mengikuti apa kata ibu gurunya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Saking besarnya tekanan dan tersiksanya perasaan, akhirnya murid-murid itu malah menembak sang guru. Mereka lantas menyesali perbuatannya dengan kembali meneriakkan kata ’mommy’ diiringi lagu sedih yang kubawakan dengan suara piano. Lakon kedua pun berakhir.

Selamat dan sukses bagi semua pendukung pertunjukan malam itu. Terima kasihku terutama bagi Bung Ibed yang memberi kepercayaan kepadaku dan Pak Sigit ER yang memberi arahan bagaimana memberi ilustrasi musik dalam lakon kedua. Semoga tak pernah lelah kita terus menghasilkan karya yang lebih apik di saat mendatang. Tak lupa jua, terima kasih bagi para penonton yang sudah hadir memberi apresiasi.

Pendidikan seharusnya memerdekakan murid, menumbuhkan keberagaman di berbagai bidang kemampuan melalui proses pemahaman akan kebudayaan dan kebangsaan.(Ki Hadjar Dewantara)

5 Mei 2010