Selasa, 14 April 2009

Penuntas Pentas dan Malam Sastra

Berbilang bulan sudah tiada catatan apa pun di wahana apresiasi seni budaya ini. Adanya ‘mainan baru’ bernama facebook yang kuakrabi sejak akhir Januari 2009 membuat perkembangan ruangan ini terhenti sementara tempo. Namun di sisi lain, memang aktivitas kesenianku tidak sekencang sekian bulan di tahun 2008 silam. Bahkan untuk sekadar menonton pertunjukan atau pameran seni pun intensitasnya berkurang. Sejak Januari hingga April 2009 hanya pernah kuhadiri launching band indie Nervous di LIP (30/1), diskusi karya musisi Tom Waits bersama Tomi Simatupang dkk di Studio Teater Garasi (9/2), dan malam sastra dalam rangka 50 tahun sebuah komunitas seni kondang Jogja di TBY (1/4).
Bersama anak-anak AFC, kami sempat tampil sebagai selingan sebuah lomba di Saphir Square (25/1) dan pentas di panggung gembira Sekaten di alun-alun utara (6/3).

Untuk kedua kalinya sejak aku bergabung di AFC, anak-anak tari, teater, dan vokal kembali unjuk kemampuan di atas panggung gembira Sekaten pada Jumat, 6 Maret 2009 lalu. Berangkat dari TBY ditemani gerimis, mereka diperkirakan mulai tampil menjelang azan Maghrib. Karena kelompok seni lainnya melakukan perubahan rencana, jadwal tampil AFC jadi tertunda. Dan kami dari kelas vokal ternyata diberi jatah terakhir sebagai penuntas pentas dari AFC. Baru setelah azan Isya’ kami baru bisa naik panggung. Sebagai tanda mataku buat anak-anak yang tetap ceria dan bersemangat, kendati mesti lama menunggu dan pulang kehujanan, telah kutulis sebuah puisi.

Penuntas Pentas

jingga senja enyah sudah
gelap mengendap selubungi bumi
nyaris gerimis rontokkan dahan
sabar menyebar, lumpuh luruh

tiba masa penuntas pentas
berkibar kobar asa menyala
kumandang tembang dengar terhampar
rona bahagia abaikan hujan

Rabu malam, 1 April 2009, aku dan Elang sepupuku menghadiri ’Malam Sastra 50 Tahun Sanggar Bambu’ di serambi ruang pameran TBY. Elang antusias ingin datang karena kedua orang tuanya pernah aktif di komunitas itu, semasa mereka masih muda dan tinggal di Jogja. Ada pembacaan cerpen dan pembacaan/musikalisasi puisi materi acaranya. Kami datang sudah rada telat. Yang menarik adalah storytellling oleh Dinar Saja, yang sekian bulan silam pernah kulihat di Bincang-Bincang Sastra. Dia membawakan cerpen ’Tuhan Dijual Murah’ karya Danarto secara monolog tanpa teks. Salut buat bung Dinar! Yang juga apik, pembacaan cerpen ’Godlob’ karya Danarto lainnya oleh Landung Simatupang, yang diiringi musik oleh Tomi putranya dan seorang rekannya. Seusai pertunjukan, kami ngobrol sejenak dengan Tomi dan melihat pameran senirupa –dalam rangka 50 tahun Sanggar Bambu pula- di ruang pameran. Sehabis itu kami pulang, karena lampu ruangan sudah mulai dimatikan.

Rabu, 31 Desember 2008

Risalah Apresiasi Paruh Kedua 2008

Aktivitas kesenianku

Sempat kuiringi paduan suara anak-anak AFC di kompleks Kepatihan (23/7), lalu anak-anak dan remaja menyanyi solo di Pentas Seni Tradisi di TBY (15/8), dan di Malioboro Mall (29/12). Tapi hal itu relatif bukan hal baru bagiku. Yang terasa istimewa adalah ketika aku ikut terlibat dalam pentas gabungan AFC di acara Festival Seni Anak. Dalam operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’ yang berlangsung di concert hall TBY awal November itu, tugas utamaku memang sebagaimana layaknya mengiringi anak-anak menyanyi. Namun ada tugas tambahan untukku mengiringi anak-anak menari. Lagu instrumental pengiring tarian keempat merupakan ciptaanku sendiri, sementara selebihnya merupakan lagu-lagu yang sudah lebih dahulu eksis.

Anak-anak vokal menyanyikan empat lagu karya Pak Sigit di antara sejumlah adegan yang dimainkan anak-anak teater, jadi aku mainnya juga manut Mas Broto selaku sutradara malam itu. Kusyukuri jua pentasnya berjalan mulus, penontonnya lumayan banyak, kendati aku sempat rada terbebani dengan awal yang buruk. Tapi yang penting akhirnya melegakan.

Selain itu, aku sempat main piano di sebuah acara keluarga mutinasional di awal Agustus dan mengiringi paduan suara dalam lomba internal sebuah instansi pemerintah (jadi juara ke-3) pada bulan Oktober.

Ada sembilan buah cerpen anyar kurampungkan selama enam bulan terakhir, tapi masih belum ada lagi yang dimuat di media cetak. Semoga di tahun 2009 nanti karyaku bisa lebih banyak dibaca orang karena terpajang di majalah atau koran Minggu. Amin.

Pertunjukan seni yang kuhadiri

Ada pentas musik, teater, dan tari yang sempat kusimak, yaitu : Yogyakarta Gamelan Festival 2008 (Juli), JAFF dan Pasar Seni Tradisi (Agustus), Momotaro dari Teater Gamelan Margasari Jepang (Agustus), Slamet Gundono (September), Pasar Seret 3 dari Teater Gandrik (Oktober), dan Butoh dari Jepang (Desember). Film yang sempat kutonton -tidak di layar kaca- adalah “Mereka Bilang Saya Monyet” karya Djenar Maesa Ayu di gedung sositet TBY (JAFF) bulan Agustus dan “Laskar Pelangi” karya Riri Riza-Mira Lesmana (sutradara dan produser) di sinepleks 21 Ambarrukmo Plaza Jogja bulan Oktober.

Menjadi sebuah impresi tersendiri bagiku ketika sempat kusapa Andrea Hirata dan Riri Riza, lalu kuikuti diskusi bersama Djenar dan Ayu Utami di bulan Agustus.

Buku yang kubaca

Yang kubaca hasil pinjaman : The Da Vinci Code (Dan Brown), Maryamah Karpov/Mimpi-mimpi Lintang (Andrea Hirata), dan Rahasia Meede (E.S.Ito). Yang kubeli : Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Umar Kayam), Dia Dimana-mana (M.Quraish Shihab). Bacaan lain berupa majalah dan internet pastinya menambah wawasan pengetahuanku pula.

Rabu, 29 Oktober 2008

FESTIVAL SENI ANAK 2008 DI TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Akan berlangsung kegiatan Festival Seni Anak 2008 di Taman Budaya Yogyakarta mulai 2 November 2008 sampai dengan 10 November 2008. Kegiatan berupa pergelaran beragam seni (tari, operet, teater, musik, tradisi), pemutaran film anak, pameran seni rupa dan foto anak internasional, maupun seminar nasional dan workshop kesenian. Seluruh kegiatan yang berlangsung setiap hari pukul 9.00 hingga 21.00 di TBY tidak dipungut biaya. Untuk seminar nasional, pendaftaran sudah ditutup karena sudah memenuhi kuota yang tersedia.

Kamis, 09 Oktober 2008

Memetik Hikmah dari Ki Slamet Gundono

Sepanjang Ramadhan lalu hanya ada sebuah pertunjukan seni yang kuhadiri. Jumat malam (26/9) aku di-sms Yoke sahabatku bahwa ada Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) saat itu. Langsung aku beranjak menuju daerah Kotabaru dan mengikuti acara bertajuk "Gusti Kang Maha Dalang, Musik Mistikal, dan Guyonan Pesantren" dengan artis Ki Slamet Gundono, dalang nyentrik asal Tegal bersama kelompok musiknya. Tampil pula Mbah Prapto, seorang penari yang sudah sepuh, tapi masih sigap gerakannya, dan Mas Miroto, seorang penari profesional dan aktor utama film “Opera Jawa” yang menjadi bagian dari pertunjukan. Selain membawakan beberapa lagu yang kadang disertai tarian, ada banyak hal yang disampaikan oleh ki dalang.

Ada sejumlah hikmah yang dapat kupetik dan sedikit yang kucatat di sini : Keindahan di dunia tidak terletak pada harta, benda, dan rupa. Keindahan dapat dirasakan pada kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya, juga dapat dilihat pada kasih sayang serta keikhlasan ibu pada anaknya. Hanya orang yang tak pernah menyakiti orang lain yang boleh mengharapkan lailatul qadar. Memang tidak mudah untuk tidak pernah menyakiti, karena diam saja pun kadang bisa menyakiti orang lain. Idul Fitri adalah momentum luar biasa untuk dapat saling memaafkan. Entah siapa dulu yang menciptakan tradisi yang hebat tersebut, salut dan terima kasih untuknya.

Ada salah satu cerita lucu dari pesantren yang disampaikan ki dalang, yang ternyata ada hikmahnya pula. Saat itu Slamet Gundono dan teman-temannya di pesantren akan melakukan pertandingan sepakbola. Terinspirasi oleh pemain luar negeri yang merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhannya, Slamet pun meminta usul dari teman-teman setimnya. Ternyata ada salah satunya yang telah memiliki ide, tapi masih dirahasiakannya. Maka ketika gol tercipta, teman Slamet itu pun berlari ke pinggir lapangan, merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhan, dengan cara menjalankan shalat dua rakaat !
Akhirnya ada satu nasihat dari pak kiai -guru Slamet di pesantren- bahwa Islam adalah sesuatu yang tak perlu dipamer-pamerkan dan agama adalah sesuatu yang tidak untuk dipaksa-paksakan. Rasanya ada pencerahan dan kubawa hikmah pulang ke rumah dari BBY malam itu. Tak jadi masalah Yoke pulang mendahuluiku, lalu sempat kusapa Gunawan Maryanto dan Tomi Simatupang belaka seusai pertunjukan.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Sarat Acara Seni di Yogyakarta

Bulan Agustus 2008 menjadi bulan yang begitu sarat dengan acara kesenian di Yogyakarta. Mungkin erat pula hubungannya dengan peringatan HUT RI ke-63, karena di berbagai penjuru kota pasti ada sejumlah pentas seni yang diselenggarakan oleh warga masyarakat. Sementara itu di sentra-sentra pertunjukan seni pun ada banyak acara. Ketika di TBY berlangsung acara JAFF dan Pasar Seni Tradisi, pastilah begitu banyak orang yang terlibat di situ. Bahkan aku jadi sempat bersalaman dengan Andrea Hirata (penulis tetralogi Laskar Pelangi) dan mengikuti diskusi dengan Djenar Maesa Ayu, sehabis melihat film debutnya yang menjadi salah satu peserta JAFF. Sempat juga kulihat sekilas sebuah film kartun dari Iran pada sebuah Minggu siang. Pasar Seni Tradisi yang melibatkan kelompok-kelompok seni tradisional di Jogja pun berlangsung cukup meriah. Apalagi ada pedagang makanan tradisional yang selalu menemani penonton setiap sore hingga malam. Tapi aku hanya sempat melihat sebuah pertunjukan tari dari Rewe-rewe yang dibawakan beberapa perempuan secara dinamis dan menghibur. Aku beberapa kali ada di TBY saat berlangsung acara itu, tapi aku sendiri mesti bekerja. Dan akhirnya aku sempat tampil pula di atas panggung. Kuiringi adik-adik menyanyi, dari yang masih bocah sampai yang sudah remaja, baik menyanyi solo maupun paduan suara. Syukurlah, acara yang aku ikut berpartisipasi itu berlangsung cukup baik. Selain mereka yang belajar vokal, anak-anak yang belajar menari dan teater di AFC (Art For Children) TBY pun berkesempatan tampil di panggung Jumat sore itu (15/8).

Momotaro - The Peach Boy
Sebuah pertunjukan seni menarik ditampilkan oleh Teater Gamelan Marga Sari dari Osaka Jepang dalam “Momotaro – The Peach Boy” pada Selasa malam (26/8). Melihat artis penampilnya saja sudah mengundang rasa penasaran. Lha ada kelompok teater gamelan, kok asalnya dari Jepang? Kelompok Marga Sari dipimpin oleh Prof.Shin Nakagawa yang ternyata sudah lama belajar gamelan di Indonesia. Belasan orang yang tampil di atas pentas mayoritas adalah orang Jepang. Hanya dua orang Indonesia yang terlibat dan mereka telah menikah dengan orang Jepang sesama anggota kelompok tersebut. Sangat unik melihat orang-orang Jepang berdialog dalam bahasa Indonesia dengan logat mereka dalam pertunjukan di gedung sositet TBY itu. Momotaro adalah cerita rakyat yang sudah sangat diakrabi masyarakat Jepang. Namun Marga Sari menampilkannya dengan cita rasa baru lewat pertunjukan teater yang diiringi gamelan Jawa. Menurut Prof.Shin Nakagawa, budaya gamelan telah tersebar di seluruh dunia dan pertunjukan itu merupakan respons terhadap budaya Indonesia yang sangat dihormatinya. Adakah kita orang Indonesia mampu melakukan apa yang telah dilakukan orang-orang Jepang itu?


Ngobrol bareng Ayu Utami
Aku sempat sekitar sejam mengikuti diskusi bersama Ayu Utami dan Aris Mundayat di Yayasan Umar Kayam pada Rabu malam (27/8). Pastinya lumayan bertambah wawasanku tentang banyak hal sepulangku dari situ. Sebenarnya ada pentas pembacaan novel terbaru Ayu Utami “Bilangan Fu” pada Kamis malam (28/8) oleh Landung Simatupang, sastrawan senior Jogja yang didampingi putranya Tomi Simatupang, seorang musisi profesional yang selama sekian waktu sempat berkarier di Eropa. Tapi aku melewatkan acara yang berlangsung di TBY itu karena kondisi tubuhku sedang rada menurun.

Jumat, 08 Agustus 2008

Festival Film dan Pasar Seni Tradisi di TBY



Jika tiada aral melintang, sejak hari Sabtu, 9 Agustus 2008 nanti, ada dua rangkaian kegiatan seni yang menarik berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Yang pertama adalah
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang akan diselenggarakan pada tanggal 9-13 Agustus 2008 di seputaran Taman Budaya Yogyakarta dan Lembaga Indonesia Perancis. Pada tahun-tahun sebelumnya, JAFF memberi perhatian pada bagaimana sinema berperan di tengah krisis akibat bencana alam dan sosial yang menyebabkan perubahan di tengah masyarakat (“Cinema in The Misdt of Crisis” –JAFF 2006), serta bagaimana sinema dapat memberi ruang pertemuan simbolik berbagai komunitas yang mengalami dislokasi sosial akibat proses perubahan (“Diaspora”- JAFF 2007). Tahun ini JAFF kembali hadir, menyoroti perubahan itu sendiri dengan mengusung tema besar METAMORFOSA. Info selengkapnya dapat diklik di www.jaff-filmfest.com/jaff-new/index.php

Acara kedua di TBY adalah Pasar Seni Tradisi, yang konsepnya mengacu pada kondisi di masyarakat kita dimana sebuah pergelaran seni tradisi selalu diminati oleh aktivitas para pedagang yang menjajakan makanan tradisional seperti : kacang, jadah tempe, jagung, gethuk, mainan tradisional, bakmi, angkringan dan lain-lain. Selain pergelaran dan makanan tradisional, pasar seni tradisi juga menampilkan talk show dan kegiatan pameran properti seni tradisi yang antara lain menampilkan pakaian, foto, pecut, jaranan, dll. Pasar Seni Tradisi akan dilaksanakan dari tanggal 9 - 15 Agustus 2008, menurut rencana akan dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.