Tampilkan postingan dengan label rakyat sultra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rakyat sultra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2018

Membaca Jalan Pikiran Ibu

Sempat tak kupahami, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, mengapa ibuku tampak susah memejamkan matanya malam itu. Sesekali aku mendekatinya dan menanyakan apakah tidak sebaiknya Ibu beristirahat karena malam telah sangat larut. Seraya tetap berbaring di atas dipan, beliau sedikit menggelengkan kepalanya belaka tanpa kata. Aku pun kembali ke kamarku mencoba terlelap, tapi tak bisa begitu saja kendati suasana tengah begitu senyap. Waktu itu kondisi kesehatan Ibu di rumah cenderung menurun, hingga dua hari kemudian kami membawanya kembali ke rumah sakit. Kami melakukannya dengan sedikit terpaksa karena beliau sebenarnya tak ingin pergi dari tempat tinggalnya. Dan sama sekali tak kuduga bahwa sekian hari sehabis malam itu, ibuku justru menutup mata selamanya. Sekitar enam tahun kemudian barulah kutemukan jawaban kala kubaca novel karya Jostein Gaarder -yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia- yang berjudul Orange Girl atau Gadis Jeruk.
Ketika kepala penuh dengan pikiran berat, orang hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata, atau diam. Ibu hanya diam. Kurenungkan kalimat yang dituliskan Gaarder dan menghubungkannya dengan peristiwa yang tempo hari kualami. Justru sebuah pertanyaan baru pun mengemuka dari diriku. Apa yang sebenarnya paling dikhawatirkan Ibu dan menjadi beban pikiran beliau sebelum wafatnya? Kucoba membaca jalan pikiran beliau dengan menyusun sejumlah asumsi dalam benakku. Memiliki dua anak yang masih lajang pada usia yang sudah layak menikah barangkali menjadikan perasaan ibuku tidak nyaman. Aku tahu, Ibu mencemaskanku sebagai anak bungsu dan lelaki satu-satunya. Setelah memutuskan berhenti kuliah, aku hanya bekerja di tempat usaha saudaraku yang masih labil kondisinya. Artinya, masih perlu perjuangan panjang menuju fase kemapanan. Apalagi sehabis gempa besar melanda kota kami, tempatku bekerja mengalami banyak kerugian pula. Kami kehilangan sejumlah konsumen yang mesti menata kembali kehidupannya yang terkoyak akibat gempa. Kakak iparku sebagai pemimpin tempat usaha kami berinovasi dengan menjual roti dan jagung bakar. Ada pemasukan yang lumayan selagi bidang usaha utama tempatku bekerja kian hari semakin sepi. Aku justru memiliki keasyikan tersendiri turut serta membantu bisnis kuliner kecil-kecilan kami. Selain itu mulai kutekuni sesuatu yang bisa menjadi wahana baru bagiku menjemput rizki Ilahi, namanya menulis cerita pendek. Melihat hal-hal yang sudah kulakukan, tampaknya Ibu tak terlampau meragukan masa depanku lagi.
Ibu sebenarnya lebih layak mengkhawatirkan kakakku. Sejak lulus SMK belasan tahun silam, ia hanya tinggal di rumah dan nyaris tak pernah bekerja secara serius. Menurut cerita yang pernah kudengar, di masa kecilnya kakakku pernah mengalami beberapa kejadian yang menimbulkan trauma dan membuat pertumbuhan otaknya mengalami gangguan. Usianya sepuluh tahun di atasku, tapi sikap dan tingkah lakunya mungkin seperti lima belas tahun lebih muda dariku. Cuma sesekali ia pernah membantu kakakku yang lain ketika sempat membuka bisnis warung ayam bakar. Namun, ketika usaha tersebut berhenti, kakakku pun hanya bergeming di rumah lagi. Kegiatannya di rumah adalah memasak, membersihkan lantai, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Selebihnya duduk membaca koran dan menonton televisi, acara favoritnya adalah sinetron dan berita selebritis. Selama masih ada Ibu, tentu tiada masalah dengan pemenuhan keperluan sehari-harinya. Kakakku orang yang tahu diri dan beruntunglah ia tidak memiliki hasrat membeli beragam barang. Seperlunya saja ia mengeluarkan uang. 
Aku mengerti bahwa kakakku adalah perempuan yang sebenarnya memiliki mental yang kuat. Masih kuingat benar dialog di antara kami pada sebuah malam. Ketika ibu kami terus terlelap, aku sempat menanyakan opininya apabila beliau akhirnya tutup usia. Dan ternyata jawaban kakakku cukup mengejutkanku.
“Jika itu yang terbaik buat Ibu, aku ikhlas saja. Ketimbang melihat Ibu terus menderita begini.”
Padahal biasanya ia begitu mudah menangis melihat adegan di sinetron serial kesayangannya. Sehabis jawaban terdengar dari kakakku, Ibu ternyata membuka matanya dan mengisyaratkan ingin tahu apa yang kami bicarakan. Maka terjadilah dialog terakhir antara aku dan ibuku dengan disaksikan kakakku.
“Ibu masih punya semangat hidup, kan?” tanyaku.
“Masih, dong,” sahut Ibu tanpa kuduga. Sehabis itu beliau terus menutup matanya, hingga kami membawanya ke rumah sakit. Sempat sekali lagi ibuku membuka matanya dan mengucapkan terima kasih kasih tanpa suara, tepatnya ketika aku pamit pulang, sehabis semalaman menungguinya di kamar rawat inap. Tak lama sesudahnya, Ibu pun hijrah ke alam barzakh.

***
           

Sekian bulan sepeninggal Ibu, kakakku menerima tawaran bekerja dari kakak tertua kami dan suaminya. Pekerjaannya tidak berat karena organ tubuh yang paling penting digunakan adalah mata dan tangannya, yang tentu mesti disertai kesabaran dan ketelitian. Kakakku bukanlah perempuan yang biasa berpangku tangan, maka kami semua mendukungnya dan percaya ia sanggup melaksanakan tugasnya. Benar saja, kakakku berhasil menjawab tantangan dari saudara-saudaranya. Ia bahkan senantiasa bersemangat sekali saban pagi tiba, berangkat ke tempat kerja dengan mengayuh sepeda, hingga pulang ke rumah menjelang petang.
Kami semua baik-baik belaka nyatanya hingga kini menginjak sepuluh tahun sejak kepergian Ibu. Apa yang dikhawatirkan beliau ternyata bukanlah problema krusial bagi kami. Kesulitan ekonomi memang menjadi masalah yang adakalanya mengemuka. Hal itu tak pernah terjadi ketika kedua orangtuaku masih ada, juga setelah Ayah meninggal dunia. Namun, rezeki bisa hadir dari mana saja dan berulang kali hal itu terjadi. Sehabis gelap selalu ada terang, kemudahan pasti datang menggantikan kesulitan. Tak boleh hilang semangatku menjaga asa dan terus meyakini pertolongan Ilahi bakal hadir senantiasa. Hal-hal positif yang terjadi sehabis ibuku pergi menyadarkanku bahwa bisa jadi itulah jawaban Tuhan atas segala doa perempuan kesayanganku sepanjang hayatnya. Dahulu kala Ibu pasti tak pernah lelah berdoa dan berjuang melakukan apa saja demi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup anak keturunannya.
Dalam kesendirian masih banyak hal yang dapat kunikmati sekaligus kusyukuri. Sejumlah kegiatan baru ternyata menghadirkan orang-orang yang berarti dalam hidupku. Di antara mereka terdapat sejumlah perempuan yang sempat menjadi kawan baikku, kendati belum ada yang menjadi kekasihku. Perempuan yang dulu –belasan tahun silam- pernah kucinta dan kupuja, lantas sempat kembali kujumpa, ternyata tak mampu mengembalikan perasaan dari masa lalu. Kami sebatas dekat sesaat, kemudian tiada koneksi lagi sehabis itu. Aku sebatas sempat tertarik pada dua atau tiga nama, tapi tak kunjung merasakan jatuh cinta sebagaimana ketika berusia belasan atau dua puluhan.

***

Sebelum menutup mata selamanya, Ibu semacam memberikan pesan kepadaku agar senantiasa menjaga perasaan orang lain dan sudi peduli nasib sesama manusia. Setelah sempat tidak tidur semalaman sebagaimana terjadi di awal kisah ini, ibuku akhirnya bisa beristirahat saat menjelang siang hingga petang hari berikutnya. Bu Adi, tetangga dekat kami, menjenguk Ibu kala beliau tengah terlelap. Begitu ibuku terjaga dari tidurnya dan kuberitahu tentang kehadiran Bu Adi yang juga merupakan sahabatnya, beliau tampak bermuram durja. Serta-merta dimintanya aku menelepon tetangga kami agar segera datang lagi. Aku tidak langsung melaksanakannya dan sempat sedikit beralasan, barangkali Bu Adi sedang tidur siang. Namun, Ibu setengah memaksaku dan kuturuti perintahnya.
Belakangan baru kusadari bahwa Ibu merasa sudah mengecewakan sahabat yang menjenguknya, tapi gagal menemuinya. Beliau sekadar ingin Bu Adi bisa menjumpainya kala terjaga agar bisa terobati kekecewaaannya. Begitulah cara ibuku menjaga perasaan orang lain. Pada hari selanjutnya yang merupakan hari terakhir beliau berada di rumah, Ibu tiba-tiba menanyakan kabar Javier, anak angkat tetangga depan rumah kami.
“Kasihan Nak Javier, ibunya sering marah-marah sambil memukuli anak itu,” ujar Ibu sembari menatap hampa langit-langit kamarnya. Aku sempat terpana belaka mendengarnya. Apa maksud Ibu bicara seperti itu?
“Iya, memang kasihan sekali dia. Semoga saja ibunya bisa mengubah sikapnya di masa depan. Lagi pula Javier masih punya ayah yang baik, kan? Ibu tidak perlu lagi mengkhawatirkan anak itu,” sahutku mencoba meredakan kegundahan hati ibuku.
Semula tak kupahami, mengapa manakala kondisi kesehatannya kian melemah, Ibu justru memikirkan anak tetangga. Namun, begitulah cara beliau menunjukkan kelembutan hatinya yang tansah peduli siapa saja. Nasihat tersirat ibuku sebelum wafatnya, kuharap benar aku mampu meneladaninya. Ah, tiba-tiba aku jadi kangen dengan perempuan kesayanganku yang bertubuh mungil, dengan segala kata-kata, sentuhan lembut, bahasa tubuh, perangai, maupun tindak tanduknya yang khas. Mudah-mudahan Ibu tenang di alam sana dan bahagia melihat anak keturunannya saat ini.

# Cerpen ini dimuat di harian Rakyat Sultra edisi Senin, 1 Okober 2018

Rabu, 22 November 2017

Impresi Tentang Dia

Mas Adji merupakan kakak sepupuku. Ibuku adik kandung ibunda Mas Adji. Tentu kami telah saling mengenal sejak sama-sama bocah. Usia kami boleh dikata sepantaran ketika sudah dewasa, lantaran usianya hanya lima tahun di atasku. Cuma dahulu kesannya dia jauh lebih tua ketimbang diriku. Banyak hal yang terkoneksi dengan baik saban kami bercakap-cakap. Yang mengesankanku sedari kanak-kanak, Mas Adji adalah sosok yang menyenangkan dan menjadi salah satu sepupu favoritku sampai sekarang. Ia piawai bercerita, gemar sekali bernyanyi, dan cakap bermain gitar. Bahkan Mas Adji pula yang pertama mengajariku bermain gitar, salah satu hobiku di waktu senggang hingga kini.
Dalam keluarga besar kami, Mas Adji mungkin satu dari sedikit orang yang menempuh hal berbeda dalam bekerja. Kebanyakan dari kami memperoleh penghasilan tetap sebagai karyawan swasta atau pegawai negeri, termasuk diriku salah satunya. Ada pula sebagian kecil yang membuka usaha sendiri. Sedangkan Mas Adji memilih berkarya melalui dunia seni yang -sejauh sepengetahuanku- pendapatannya tidak pasti. Padahal sebenarnya ia pernah pula bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji menjulang, namun ia tinggalkan begitu rupa tanpa kutahu persis alasannya.
Barangkali boleh dibilang Mas Adji itu seniman multibakat. Memang namanya lebih dikenal sebagai dramawan. Ia mendirikan sekaligus memimpin sebuah kelompok teater yang cukup terpandang di Jakarta. Namun, ia sesungguhnya merupakan pencipta lagu yang andal, cerpenis, penyair, dan aktor yang lumayan disegani pula oleh mereka yang mengakrabinya. Aku merupakan penggemar sejati karya-karyanya yang beraneka warna, baik itu pentas teaternya, lagunya, maupun karya tulisnya. Belakangan kudengar ia kerap berkeliling dari daerah ke daerah di seluruh penjuru Nusantara untuk berbagi ilmu serta pengalamannya selama puluhan tahun menjalani proses kreatif.
Satu hal yang khas dari Mas Adji adalah penampilannya yang begitu sederhana. Ia biasanya cukup mengenakan kemeja polos berwarna kalem dan celana jeans, dengan alas kaki sandal jepit berharga murah. Sebuah tas ransel selalu menyertai derap langkahnya ke mana saja. Mas Adji juga suka sekali berjalan kaki maupun naik angkutan umum. Bahkan pernah suatu ketika, ia naik pesawat terbang, bus antarkota, sampai becak, lalu berjalan kaki hanya dalam beberapa jam di hari yang sama. Masih kuingat jelas sewaktu Mas Adji menceritakan peristiwa hari itu dengan kocaknya.



***

”Hidup itu kalau kita bisa menjalaninya tanpa beban, pasti bakal terasa lebih ringan dan menyenangkan, kok,” kata Mas Adji ketika kami berjumpa dalam sebuah acara keluarga.
”Saya percaya, Mas Adji bisa melakukannya, tapi apa saya juga bisa? Sepertinya saya lebih sering sedih dan kecewa selama ini, Mas,” sahutku.
“Bukalah hati dan pikiranmu, percaya diri saja kamu bisa.”
“Saya cobalah, Mas. Eh, kadang sebenarnya saya iri dengan Mas Adji, lho.”
“Apa sih yang aku punya, sampai kamu bisa iri begitu?”
“Mas Adji itu sepertinya bisa selalu santai, apa pun yang terjadi. Saya bahkan belum pernah melihat Mas Adji marah.”
“Hahaha, kebetulan saja kamu belum pernah melihat aku marah. Coba tanya teman-temanku yang sering melihat betapa galaknya Mas Adji ini, terutama kalau kami lagi latihan menjelang pementasan. Boleh juga kamu tanya ke Mas Adri itu.”
“Hehehe, mungkin karena kita selalu ketemunya di acara keluarga begini ya, Mas. Suasananya memang selalu santai dan menggembirakan, sih.”
”Apa iya, aku selalu terlihat santai? Barangkali karena aku tidak suka hidup secara ngoyo, jadi kesannya santai begini. Jangan dikira hidupku tak ada masalahnya lho, Dik. Mungkin cara menghadapi masalah belaka yang membedakan kita. Yang jelas, aku yakin tiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Istilahnya, sudah jadi satu paket dari sananya. Makanya tak usah terlalu mengkhawatirkan segala sesuatu.”
Aku manggut-manggut seraya merenungkan ucapan Mas Adji. Filosofi hidup sepupuku bersahaja sejatinya, namun hal itulah yang membuat dirinya mampu senantiasa menikmati perjalanannya di atas buana. Aku paham, Mas Adji sesungguhnya pernah gagal dalam berumah tangga dan sempat kesulitan menemui anak kandungnya yang diasuh mantan istrinya. Kesabarannya selama ini membuat Mas Adji akhirnya bisa berjumpa lagi dengan buah hatinya, setelah sekitar sepuluh tahun berpisah. Setiap aku berbincang dengannya, sejumlah hal menarik selalu disampaikan Mas Adji. Tak pernah aku jemu, apalagi pasti keluar canda tawanya yang membuat perjumpaan kami lebih meriah. Ia pun senantiasa mendendangkan begitu banyak lagu diiringi dentingan gitarnya yang bisa membuat kami terbuai hingga bernyanyi bersama.

***

Pada sebuah malam, baru saja aku turun dari kereta rel listrik. Aku tengah melangkah menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motorku, ketika ada sebuah pesan singkat dari Mas Adri -adik kandung Mas Adji- yang isinya sungguh mengejutkanku.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Mas Adji telah meninggal dunia sekitar pukul 23.00 WIB di Purwakarta. Malam ini jenazahnya diusahakan bisa segera dibawa pulang ke Jakarta.”
Tiba-tiba aku tercenung dan bingung mau bereaksi bagaimana seusai membaca pesan singkat tersebut. Aku tak ingin percaya begitu saja dengan kabar duka itu. Maka segera kuhubungi nomor telepon Mas Adri.
“Mas Adri, apa benar Mas Adji meninggal?” tanyaku dengan cemas.
“Iya, benar. Mas Adji kena serangan jantung saat berada di luar kota. Berita itu memang mengejutkan sekali buat kita semua. Tolong, maafkan semua kesalahan Mas Adji ya, Dik,” ujar Mas Adri lirih.
Serta-merta dadaku terasa begitu sesak dan air mataku mengalir sendiri tanpa mampu kutahan lagi. Kendati dalam beberapa tahun terakhir, aku cukup jarang berjumpa dengan Mas Adji, namun berita kepergiannya yang sangat mendadak tetap membuat hati seakan teriris. Tak bakal kualami kembali dialog sarat makna -yang serius tapi santai- antara diriku dan kakak sepupuku. Sosok Mas Adji yang menyenangkan bakal senantiasa kurindukan esok hari. Terlampau banyak kesan apik yang ditinggalkannya, tak hanya bagiku, tapi tentunya juga bagi sesiapa yang pernah mengenalnya. Apa yang terjadi pada dirinya kuharap dapat menginspirasi diriku agar selalu bersiap diri andaikata sewaktu-waktu maut hadir menjemput tanpa permisi.  

# dimuat di Harian Rakyat Sultra edisi Rabu, 22 November 2017.