Rabu, 29 Juli 2015

Tuhan Mengharubirumu

Tuhan mengharubirumu, dari satu rasa ke rasa yang lain, 
dan mengajarimu hal-hal yang berlawanan.
Agar kau miiliki dua sayap
untuk terbang.

Kesulitan dan kesedihan menyempurnakan kekuatan manusia.

(Belajar Hidup dari Rumi - Haidar Bagir)

Kamis, 16 Juli 2015

Mengenang Saat Menjelang Lebaran

Mengenang saat menjelang Lebaran bertahun silam. Kendati nenekku waktu itu masih bersatu jiwa raganya, Ibu yang tinggal di Yogyakarta memilih tidak sowan pada ibunda tercinta di Jakarta saban Idul Fitri tiba. Atas seizin Eyang Putri, ibuku mengambil langkah menemani salah seorang pamannya berlebaran di rumah peninggalan orangtuanya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dan pastilah aku selalu bersedia mengantarkan ibunda tercinta yang hendak pergi ke mana saja.


Rabu, 08 Juli 2015

Mengenal Tuhan dengan Cinta

Bimbingan utama pengenalan atas Tuhan adalah cinta kasih. Betapapun pentingnya mengaktifkan pikiran, namun cintalah yang menyampaikan kita kepada Allah. Pikiran kita bisa membantu ala kadarnya, namun dengan cinta kasih kita bisa langsung merasakan dan menangis oleh hakikat-Nya, meskipun tanpa pernah sungguh-sungguh memahami-Nya. (Emha Ainun Nadjib)

Nilai-nilai Universal Agama dan Budaya

Apa pun bahasa, agama, dan budaya seseorang, mereka sepakat bahwa dalam perilaku dan pergaulan internasional terdapat nilai-nilai universal yang sama-sama ingin dijaga dan ditegakkan. Misalnya, konsep dan keinginan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, perdamaian, dan hidup saling menghormati.
(Komaruddin Hidayat)

Rabu, 17 Juni 2015

"Nganyari" Masjid Pada Malam Pertama Ramadan

Alhamdulillah, jamaah masjid Tamtama bisa "nganyari" versi baru tempat ibadahnya pada malam pertama Ramadan tahun ini. Terima kasih kepada para tukang yang telah bekerja keras membuat masjid bisa dimanfaatkan kembali pada saat yang tepat, kendati belum tuntas sepenuhnya. 

Selamat menunaikan puasa beserta ibadah lainnya sepanjang Ramadan dan seterusnya kepada saudara-saudara muslimin-muslimah di mana saja berada.

Minggu, 31 Mei 2015

Berharap Jadi Pahlawan

Ia mesti terus menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang tak kenal jalan tengah dan musyawarah.  Ia tak peduli tindakannya membuat elemen bangsa terpecah belah. Ia memilih menutup mata ketika para punggawa tak mendapat penghasilan karena dilarang melaksanakan tugasnya. Imra merasa yakin telah melakukan tindakan mulia yang membuatnya bakal disebut sebagai pahlawan di masa depan.  (dikutip dari cerpen yang rampung kutulis pada 30 April 2015)

Pesan Tersirat

Pesan tersirat Menpora Imra kepada para pemuda dan insan olah raga seluruh Indonesia : berbuatlah semaumu saat berkuasa, tak usah pedulikan saudaramu jadi menderita, dan halalkanlah segala cara untuk meraih kemenangan.