Kamis, 08 April 2010

Dua Malam Meriah di Bentara Budaya Yogyakarta

'Jazz Mben Senen' Edisi Khusus

Ada dua malam berurutan terdapat suasana meriah di Bentara Budaya Yogyakarta. Senin, 5 April 2010 acara mingguan ’Jazz Mben Senen’ jauh lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Penonton yang hadir nyaris tidak menyisakan ruang kosong di halaman BBY. Ada yang duduk lesehan, banyak juga yang berdiri, dan sebagian lagi berada di luar pagar. Malam itu memang ada tema khusus bertajuk ”Umbul Donga” bagi Singgih Sanjaya, musisi Yogyakarta berkaliber internasional yang sekitar tiga pekan silam terkena stroke. Maka hadirlah nama-nama kondang yang merupakan teman baik beliau sebagai pengisi acara, seperti penyanyi keroncong Waljinah, Dwiki Dharmawan, Iga Mawarni, dan Trie Utami, juga penyanyi jazz muda dari Jakarta, Farah Dibaj Fuadi alias Farah Di. Selain mereka, ada nama Djaduk Ferianto, pelopor aksi solidaritas bagi sang sahabat serta anggota Komunitas Jazz Yogyakarta yang biasa tampil dalam ’Jazz Mben Senen’. Ada sesi berdoa bersama yang dipimpin oleh ustad Anant –yang aslinya dulu rocker- bagi kesembuhan kembali Singgih Sanjaya. Semoga beliau segera sehat dan mampu menghasilkan karya hebat lagi. Amin.

Farah Di tampil menawan diiringi big band –dengan dominasi brass section- membawakan sejumlah nomor lagu jazz standar. Dwiki Dharmawan dengan sekadar pianika memainkan lagu yang dibuatnya secara spontan, judulnya ’Blues For Today’ bersama dengan musisi Jogja pengiringnya tanpa latihan sekalipun, tapi asyik sekali lagunya disimak.

Ibu Waljinah lantas menyanyikan dua lagu keroncong ’Ayo Ngguyu’ dan ’Tanjung Perak’ dengan iringan sebuah orkes keroncong yang personelnya masih muda semua.Berikutnya Iga Mawarni membawakan ’Simfoni yang Indah’, ’Esok kan Masih Ada’, dan lagunya sendiri yang paling terkenal ’Kasmaran’. Putri Solo tersebut tampak ayu dan anggun dengan suaranya yang menyejukkan hati. Trie Utami kemudian lebih banyak berimprovisasi dengan Djaduk Ferianto dkk. Dia mengajak sejumlah vokalis jazz perempuan yang hadir malam itu mengekspresikan diri semaunya bersama dirinya. Di tengah-tengah improvisasi, Trie Utami serta merta bisa menyanyikan ’Girl from Ipanema’ dan juga ’Terajana’. Penonton bertepuk tangan riuh penuh kekaguman menikmati aksi mereka.

Para musisi jazz Jogja kemudian menutup Senin malam yang meriah itu. Di antara mereka ada Rika, putri tetanggaku yang menjadi satu-satunya pemain saksofon perempuan yang ikut bermain. Aksi kocak Bambang Gundul dan Lusy Laksita sebagai duet pembawa acara juga layak sekali diapresiasi. Kata-kata mereka membuat malam itu menjadi terasa begitu hangat.

Foto : Erson Padapiran/wartajazz.com



Pembukaan 'Benny & Mice Expo'

Selasa malam, 6 April 2010 BBY kembali kedatangan orang-orang yang apresiatif terhadap karya seni. Acaranya adalah pembukaan ’Benny & Mice Expo’ yang diisi dengan dialog bersama Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad (Mice), duet kartunis jenius pencipta karakter tokoh Benny dan Mice. Ketika ditantang untuk membuat komik dengan tema khusus Jogja, mereka bilang bahwa perlu tinggal di Jogja selama sekitar dua bulan untuk bisa melakukan ekplorasi habis-habisan. Terdapat dua meja penuh makanan dan minuman yang bisa dinikmati dengan bebas oleh para hadirin di halaman, sementara acara pameran dimulai. ’Benny & Mice Expo’ menampilkan Pameran Kartun Benny & Mice 1997-2010, Pameran Peduli Pemanasan Global, Bazar Komik Pilihan, dan dua acara workshop yang telah berlangsung 7 April 2010. Sementara acara pameran berlangsung 6-15 April 2010. Dalam Pameran Peduli Pemanasan Global terdapat pula karya Benny & Mice yang menghiasi buku populer ’Hidup Hirau Hijau’ yang baru diterbitkan oleh Gramedia. Bagi para penggemar kartun dan mereka yang peduli masalah sosial politik maupun lingkungan hidup pasti tak akan melewatkan acara menarik tersebut. Benny & Mice tidak hanya membuat kita terhibur, tapi juga bisa membuat kita bertambah wawasan dan berpikir cerdas.

Foto : Facebook Benny & Mice



Jumat, 02 April 2010

Sastrawan Bertutur Sederhana

Banyak orang sibuk menganeh-anehkan diri agar disebut sastrawan dan seniman. Padahal para sastrawan berteman dengan kesedihan agar bisa menuturkan dengan sederhana.(M.Fauzil Adhim)


Seniman Besar : Salah Tidak Masalah

Para seniman besar lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak imajinatif. Mereka membiarkan semua ide mengalir bagai air dan terus mencoba tanpa takut salah.(dikutip dari sebuah majalah)

Selasa, 23 Maret 2010

Energi Inspirasi Tanpa Batas

Biarkan energi seniman melanglang tanpa batas, karena sesungguhnya energi inspirasi itu memang tak berbatas.(Fariz RM – musisi Indonesia)

Ciptakan Seni untuk Masyarakat

Jangan menciptakan seni untuk para seniman ataupun kaum intelektual. Ciptakan seni untuk masyarakat. Dan jika kamu mampu menyentuh hati seseorang dalam hidupnya dan membuatnya berbeda, kamu telah berhasil.(Ray Conniff - musisi Amerika)

Sabtu, 27 Februari 2010

Anugerah Kecerdasan dan Pengetahuan (Kahlil Gibran)

Tuhan telah menganugerahkan kecerdasan dan pengetahuan kepadamu. Janganlah kamu padamkan pelita cinta itu dan jangan biarkan lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan kesalahan, karena orang yang bijak mendekati manusia dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.(Kahlil Gibran)

Selasa, 02 Februari 2010

Menulis Perlu Keikhlasan

Menurut Prof.Suminto A.Sayuti, menulis itu pun perlu keikhlasan. Jika sedang tidak bisa menulis kok dipaksakan, nanti jadinya ibarat onani, hasilnya hanya sampah. Itulah salah satu hal yang dapat kucatat dari acara Bincang-Bincang Sastra edisi Januari 2010 yang berlangsung hari Minggu (31/1) di ruang seminar TBY. Malam itu merupakan saat peluncuran buku ’Menggambar Angin’ - dokumentasi 70 puisi Hari Leo AER, seorang seniman multibakat Jogja, yang merupakan pionir utama acara BBS, yang telah berlangsung lebih dari 50 kali. Aku sendiri sepertinya baru untuk kelima kalinya mengikuti acara tersebut.

Sebagai wujud apresiasi untuk Hari Leo AER, maka ditampilkan sejumlah puisi karya beliau yang dibaca oleh aktor Whani Dharmawan dan sejumlah nama (maaf, tidak hafal), serta musikalisasi puisi oleh Untung Basuki dan dua komunitas seni mahasiswa. Aku setuju bahwa mestinya sudah saatnya ada penghargaan khusus dari pemerintah untuk Hari Leo AER, atas kerja keras dan dedikasi penuhnya terhadap perkembangan seni budaya di Yogyakarta.

Ulasan Prof.Suminto, guru besar dari UNY serta tanya jawab dengan beberapa orang cukup menambah wawasan pengetahuan para penggemar sastra yang hadir malam itu, termasuk bagiku sendiri pastinya. Sebagai bentuk penghormatanku bagi Mas Hari, kubelilah ’Menggambar Angin’ yang langsung ditandatangani oleh penulisnya. Sehabis itu aku sempat menyapa Mas Joni Ariadinata, redaktur majalah sastra Horison. Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, tapi sangat sedikit yang sempat tercetus. Sekali waktu, mungkin aku mesti berkunjung ke rumahnya, seperti yang pernah ditawarkannya kepadaku. Masih banyak jalan untuk terus belajar dan belajar.