Sabtu, 30 Mei 2015

Mantra Usang Tanpa Makna

Pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa. Tapi mereka yang berkuasa cuma menganggapnya sebagai mantra usang tanpa makna. Yang paling penting, kita tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah sajalah.


Rabu, 27 Mei 2015

Gempa Sembilan Tahun Silam

Peristiwa gempa sembilan tahun silam menjadi sesuatu yang justru menguatkan hatiku menghadapi kenyataan hidup yang begitu kerap tak terduga sehabis hari itu. Lebaran tahun 2006 menjadi saat terakhir bagiku menjalani hari istimewa bersama Ibu dan Eyang Putri, sebelum mereka pergi selamanya sekian bulan kemudian. Akhirnya tetap mensyukuri segala hal yang pernah mewarnai perjalananku di muka bumi.

# renungan diri mengenang 27 Mei 2006

Detik Hidup

Detik-detik berlalu dalam hidup ini
Perlahan tapi pasti menuju mati
Kerap datang rasa takut menyusup di hati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening dan sepi aku bertanya
Dengan apa kuisi detikku ini
Tuhan, kemana kami setelah ini?
Adakah Engkau dengar doaku ini?

(Iwan Abdulrachman)

Jumat, 22 Mei 2015

Logika Iman

Iman kita harus tercerahkan melalui logika dan tatanan akal yang sehat. Kita perlu memiliki keterbukaan pikiran untuk menghargai kebenaran yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Semua agama dan jenis keimanan tidak perlu dipertentangkan. Perang suci lintas iman merupakan noda sejarah bagi segala keimanan, ia bukan sebuah prestasi melainkan ketidakbertanggungjawaban atas logika iman yang kita miliki. Di atas segalanya, "Tuhan" bukan sesuatu yang mudah untuk dipahami. 
(Rohmatul Izad dalam esai Logika Iman - Buletin Mocopat Syafaat Edisi 82)

Senin, 18 Mei 2015

Sastra Bersahaja

Sastra mungkin bersahaja, tapi tetap sesuatu. Sastra itu misteri, bukan karena "kekaburan"-nya, melainkan justru karena sastra bukan sekadar kata. Sastra itu sesuatu gerak kehidupan, pertama di batin, lantas mungkin keluar. Kemungkinannya bisa tak terduga. (Emha Ainun Nadjib)

Minggu, 17 Mei 2015

Libur Membebaskan Jiwa

Libur mengajak kita untuk membebaskan jiwa, mengosongkan cangkir kehidupan. Dengan cangkir kosong di tangan, kita akan kembali menjadi rendah hati. Dan rendah hati adalah awal pembelajaran. (Maman Suherman)

Selasa, 12 Mei 2015

Orang yang Dalam dan Dangkal Ilmunya

Wateké kedhung anteng ngleneng, wateké kali cethék kemrasak.

Artinya : Orang yang dalam ilmunya bersifat pendiam, namun orang yang dangkal ilmunya suka berkoar-koar tidak jelas maksudnya. (peribahasa Banyumasan)