Jumat, 27 November 2009

Sajak (Hartojo Andangdjaja)

Sajak ialah kenangan yang bercinta

mencari jejakmu, di dunia


Ia mengelana di tanah-tanah indah

lewat bukit dan lembah

dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca

jejak kakimu di sana


Sementara di mukanya masih menunggu

yojana biru

kaki langit yang jauh

jarak-jarak yang harus ditempuh –


ia makin merindu

dalam doa, dan bersimpuh :

Tuhanku ......


Sajak ialah kenangan yang bercinta

mencari jejakmu, di dunia


1966


Sabtu, 14 November 2009

Semangat Silmi Saat Senin

Telah belasan kali Silmi tekun berlatih di TBY. Gadis cilik itu bersama kawan-kawannya yang suka bernyanyi akan menjadi bagian sebuah pertunjukan kolaborasi antara seni peran, seni tari, seni vokal, seni musik, dan seni rupa. Oleh pengajarnya, Silmi telah ditunjuk menjadi salah satu solis untuk sebuah lagu. Ia menjadi yang termuda dan satu-satunya anak SD yang menjadi solis, sementara yang lain sudah SMP atau SMA. Kian mendekati hari pentas, latihan dilakukan tiga hari berturut-turut serta lebih lama ketimbang sebelumnya. Pasti melelahkan sekali rasanya.

Ketika sampai harinya, Silmi malah jatuh sakit. Suhu tubuhnya tinggi, kepalanya pening, semangatnya pun luruh, tapi ia masih ingin tampil saat malam tiba. Pagi itu Silmi tidak masuk sekolah dan beristirahat di rumah. Siangnya sudah terasa lebih segar, tapi malah muncul bintik-bintik merah di wajahnya, alerginya kumat gara-gara telur yang dimakannya di hari sebelumnya. Silmi sedih dan merasa tak berdaya. Tapi ayah bunda Silmi mampu membangkitkan semangat putrinya. Terlecutlah hati gadis berambut kriwil itu. Ia tak mau merasa sakit dan yakin tetap sanggup berada di antara teman-temannya. Bersama mereka Silmi ingin dapat bernyanyi dengan gembira. Dengan percaya diri ia kembali bersuara dan menggerakkan tubuhnya –seperti saat latihan- ketika pertunjukan jadi berlangsung di malam hari. Tak sedetik jua bocah itu mundur, hingga tiba gilirannya bernyanyi sendiri. Tepuk tangan riuh mengiringi akhir pergelaran. Bahagia dan lega hati Silmi, begitu bangga pula niscaya kedua orang tuanya. Syukurlah...


14 November 2009

#

Sebuah catatan kecil dari pentas ’Cindelaras’ AFC TBY pada Senin malam, 9 November 2009 di concert hall.

Selamat buat Mas Broto, Pak Sigit, Pak Hugo, Mbak Yayuk, Mbak There, Mbak Utik, Mas Ibed, Mas Pardiman, dan semua anak-anak AFC (juga orang tuanya). Terima kasih untuk Bu Dian, Bu Eka, dan semuanya saja di TBY.


Senin, 26 Oktober 2009

Makin Kukenal (Ayatrohaedi)

Makin kukenal diriku makin tak kukenal diriku :

Apakah ia yang selalu ragu untuk berkata ”tidak”,

ataukah yang selalu tak bisa mengatakan ”ya”

pada saatnya yang tepat atau sangat mendesak?


Kukira telah kukenal diriku yang duduk demikian rapat di sampingku

tetapi siapa pulakah itu yang berdiri di depan pintu

dengan senyumnya mencemooh dan menudingkan telunjuk

sambil berkata pasti : “Kau tak mengenal dirimu!”


Makin kukenal diriku makin tak kukenal diriku :

Apakah ia yang bimbang dan terlalu banyak menimbang,

ataukah yang selalu terburu-buru memanggil ragu

karena ia selalu diburu ragu?


1974

Jumat, 23 Oktober 2009

Bangsa Kita Baik Hati (Iwan Simatupang)

Bukankah bangsa kita bangsa yang baik hati, suka menolong? Kalau tidak, bagaimana begitu banyak pengemis dan gelandangan bisa bertahan di tanah air kita? Mereka tak punya sawah. Tak punya sapi atau kerbau. Tidak punya bajak. Namun mereka bisa makan. Dari mana? Dari kebaikan hati bangsa kita yang tak habis-habisnya.

(dikutip dari roman ’Kooong’ karya Iwan Simatupang - wafat tahun 1970)

Kamis, 08 Oktober 2009

Identitas atau Jati Diri (Fariz RM)

Identitas atau jati diri hanya dapat terbentuk akibat pengenalan secara bertahap oleh seorang manusia terhadap lingkungan sosial dimana dia hidup dan berinteraksi, yang di kemudian hari akan menjadi salah satu cerminan sifat terpenting manusia, selain beriman dan bertakwa, yaitu berbudaya.
Jati diri adalah bekal penting seorang manusia memiliki rasa percaya diri, sehingga memiliki keberanian serta keyakinan yang cukup untuk mengakui kapasitasnya, memiliki kebanggaan atas kemampuannya, serta memiliki rasa malu untuk mengedepankan sesuatu yang bukan miliknya. (Fariz RM)

Rabu, 30 September 2009

Seni dan Nilai Kemanusiaan (Nungki Kusumastuti)


Tak sekadar klangenan untuk menghidupkan tradisi, seni pertunjukan juga menanamkan identitas bagi sebuah bangsa. Seni mengajak kita untuk merenungkan kenyataan sekaligus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang tergerus zaman. (Nungki Kusumastuti)

Selasa, 08 September 2009

Tuhan Telah Menegurmu (Apip Mustopa)



Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kaudengar?

# Puisi karya Apip Mustopa (lahir tahun 1938) yang ditulis di Jakarta, Maret 1976